Jejak KataSoft News

Eco Fibewood: Kayu Sintetis dari Limbah Pertanian Karya Mahasiswa Cilegon

×

Eco Fibewood: Kayu Sintetis dari Limbah Pertanian Karya Mahasiswa Cilegon

Sebarkan artikel ini
Eco Fibewood, Kayu Sintetis karya mahasiswa STTF Cilegon-Banten | Foto: Dok. Widi Hatmoko

INOVASI — Kayu tidak selalu harus dimulai dari pohon. Di tangan mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Fatahillah (STTF) Cilegon, sekam padi dan limbah biomassa pertanian justru dicoba diberi kehidupan kedua sebagai material pengganti kayu. Namanya Eco Fibewood.

Bentuknya menyerupai lembaran kayu sintetis. Bahan utamanya bukan batang pohon, melainkan serat dari limbah pertanian yang dicampur dengan resin polyester. Ekstrak daun sirih turut dimasukkan dalam komposisi sebagai fitur antirayap.

Gagasan itu diperkenalkan Muhammad Alfarizi, mahasiswa STTF Cilegon, dalam sebuah kegiatan di kawasan CitraRaya Tangerang, Rabu, 2 September 2026.

“Ini produk kayu sintetis ramah lingkungan berbasis limbah biomassa,” ujar Alfarizi.

Gagasan tersebut berangkat dari persoalan sederhana: kebutuhan terhadap material menyerupai kayu terus ada, sementara bahan baku kayu konvensional berasal dari sumber daya yang terbatas.

Di sisi lain, limbah pertanian tersedia melimpah. Sekam padi, misalnya, sering kali hanya menjadi residu setelah proses penggilingan. Di tangan mahasiswa ini, residu tersebut dicoba diubah menjadi material yang memiliki nilai ekonomi.

Bukan Sekadar Pengganti Tripleks

Sekilas Eco Fibewood mudah disamakan dengan tripleks. Namun keduanya berbeda sejak bahan baku. Tripleks dibuat dari beberapa lapisan kayu. Eco Fibewood memanfaatkan serat limbah pertanian sebagai bahan dasarnya.

“Kalau tripleks bahannya dari kayu. Kalau ini limbah pertanian, seperti sekam padi. Ada seratnya juga,” kata Alfarizi.

Perbedaan itu menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan Eco Fibewood. Produk tersebut tidak semata-mata ingin meniru bentuk kayu, tetapi mencari bahan alternatif yang dapat mengurangi ketergantungan terhadap kayu konvensional.

Pada tahap awal, material ini dirancang untuk kebutuhan lantai. Namun tim melihat kemungkinan penggunaan yang lebih luas, mulai dari furnitur hingga material dinding, tentu dengan penyesuaian desain dan spesifikasi.

Pengembangannya pun belum berhenti pada bentuk yang ada sekarang.

“Tampilan, tekstur, dan warna masih bisa kita kembangkan,” ujarnya.

Dengan kata lain, Eco Fibewood masih berada di ruang eksperimen. Justru di tahap itulah inovasi biasanya menentukan arah: apakah sebuah prototipe berhenti sebagai karya akademik atau berubah menjadi produk yang digunakan masyarakat.

Enam Bulan Menjadi Ujian

Eco Fibewood, Kayu Sintetis dalam sebuah acara di CitraRaya Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Sebuah material baru tidak cukup hanya terlihat seperti kayu. Ia harus membuktikan kemampuannya menghadapi penggunaan nyata. Alfarizi mengatakan Eco Fibewood telah melalui pengujian penggunaan langsung dan laboratorium. Di lingkungan kampus, material itu telah digunakan selama sekitar enam bulan sebagai bantalan di halaman.

Pengujian laboratorium dilakukan di Politeknik Industri Petrokimia Banten. Beberapa parameter diuji, termasuk daya tarik dan daya tekan.

“Hasilnya sangat layak untuk bisa menggantikan kayu,” kata Alfarizi.

Data pengujian tersebut, menurut dia, telah terdokumentasi dalam penelitian dan jurnal.

Pengujian menjadi bagian penting karena tantangan material pengganti kayu bukan hanya soal bentuk. Ada kekuatan, ketahanan, umur pakai, hingga konsistensi kualitas yang harus dijawab sebelum produk dapat digunakan secara luas.

Fitur antirayap menjadi salah satu pembeda yang sedang ditawarkan. Ekstrak daun sirih dimasukkan ke dalam formulasi Eco Fibewood sebagai bagian dari upaya memberikan perlindungan terhadap serangan rayap.

Jika pengembangan itu berhasil, sekam padi tidak lagi berhenti sebagai limbah. Ia bisa menjadi bagian dari material yang memiliki fungsi dan nilai ekonomi.

Limbah Melimpah, Bahan Baku Belum Tentu Mudah

Ironisnya, kekuatan Eco Fibewood sekaligus menjadi tantangannya. Bahan bakunya adalah limbah pertanian. Ketersediaannya memang melimpah, tetapi mengumpulkan bahan dalam jumlah besar dengan kualitas yang konsisten bukan pekerjaan mudah.

Tim kemudian mulai memetakan potensi limbah pertanian di sejumlah wilayah, antara lain Cilegon, Serang, dan Pandeglang. Pemetaan diperlukan untuk mengetahui jenis, volume, hingga kemungkinan kesinambungan pasokan.

Kerja sama dengan pihak yang memiliki akses terhadap limbah pertanian juga mulai dibuka.

“Kita akan berkembang ke arah sana. Kita cari potensi-potensi yang ada,” kata Alfarizi.

Persoalan bahan baku penting karena produk industri membutuhkan pasokan yang stabil. Sebuah inovasi bisa bekerja dengan baik dalam skala laboratorium, tetapi akan menghadapi persoalan berbeda ketika produksi dinaikkan menjadi ratusan atau ribuan lembar.

Di sinilah Eco Fibewood membutuhkan lebih dari sekadar ide dan semangat mahasiswa. Ia membutuhkan ekosistem.

Dari Kampus ke Kelurahan

Sejauh ini Eco Fibewood belum masuk produksi massal. Investor yang dapat mendukung pengembangan dan produksi komersial juga belum ada. Pengembangan masih mengandalkan swadaya kampus dan dukungan dari lingkungan sekitar tim. Penjualan pun masih terbatas di lingkungan terdekat.

Namun produk itu mulai meninggalkan ruang laboratorium. Dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN), Eco Fibewood dibawa ke masyarakat dan diaplikasikan sebagai bantalan di lingkungan kelurahan.

“Di KKN juga kita gunakan. Sebagai kerja nyata,” ujar Alfarizi.

Langkah tersebut mungkin sederhana. Tetapi bagi sebuah inovasi, penggunaan langsung justru menjadi tahap penting.

Produk harus berhadapan dengan kondisi yang tidak selalu tersedia di laboratorium: panas, hujan, debu, beban, cara pemasangan, hingga kebiasaan pengguna. Dari sana, tim dapat memperoleh umpan balik untuk memperbaiki desain maupun formulasi.

Menunggu Lompatan Berikutnya

Alfarizi mengaku belum menemukan produk serupa di lingkungan sekitarnya, terutama material kayu sintetis berbasis limbah pertanian yang sekaligus menawarkan fitur antirayap.

“Saya rasa belum ada, khususnya yang memproduksi kayu sintetis berbasis limbah pertanian dengan fitur antirayap,” katanya.

Klaim kebaruan tentu masih membutuhkan pembuktian lebih luas. Namun gagasan yang dibawa Eco Fibewood memiliki dua sisi yang menarik.

Pertama, mengubah limbah menjadi bahan bernilai tambah. Kedua, mencari alternatif material untuk mengurangi tekanan terhadap penggunaan kayu konvensional. Dua gagasan itu bertemu dalam satu lembar material.

Persoalannya kini bukan lagi sekadar apakah Eco Fibewood bisa dibuat. Produk itu sudah dibuat dan diuji.

Pertanyaan berikutnya jauh lebih berat: apakah ia bisa diproduksi secara konsisten, memenuhi standar teknis, kompetitif secara harga, memiliki pasokan bahan baku yang stabil, dan diterima pasar?

Untuk menjawabnya, tim masih membutuhkan pengujian lanjutan, penyempurnaan tampilan dan tekstur, peningkatan kapasitas produksi, pemetaan bahan baku, serta dukungan pembiayaan.

Di titik itulah investor menjadi penting. Bukan semata-mata untuk membuat produk mahasiswa menjadi bisnis, melainkan untuk menguji apakah sebuah gagasan berbasis riset kampus mampu naik kelas menjadi solusi industri.

Eco Fibewood masih sebuah permulaan. Tetapi dari sekam padi, resin polyester, ekstrak daun sirih, dan eksperimen mahasiswa, muncul satu pertanyaan yang lebih besar:

Jika limbah pertanian dapat diubah menjadi material pengganti kayu, berapa banyak nilai yang selama ini kita buang begitu saja? Eco Fibewood belum memiliki jawabannya. Ia baru mulai mencari. Dan, pencarian itu bermula dari Cilegon. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *