Banner IDwebhost
HeadlineSoft News

Kucing Liar Memenuhi Ruang Publik, Ada Masalah Manusia di Baliknya

×

Kucing Liar Memenuhi Ruang Publik, Ada Masalah Manusia di Baliknya

Sebarkan artikel ini
Seekor kucing liar di sudut pemukiman warga di wilayah Kecamatan Panongan, kabupaten Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

EDUKASI — Kucing tidur di emperan toko, mengais tempat sampah, berkumpul di pasar, bahkan menjadikan halaman rumah orang sebagai tempat membuang kotoran. Pemandangan itu semakin mudah dijumpai di kawasan permukiman dan pusat perdagangan. Sebagian orang menganggapnya biasa. Sebagian lainnya mulai merasa terganggu.

Namun, banyaknya kucing liar bukan semata-mata persoalan hewan yang berkembang biak tanpa kendali. Ada persoalan manusia dan tata lingkungan yang ikut menyuburkan fenomena tersebut.

Penyebab pertama adalah reproduksi yang tidak terkendali. Kucing betina yang tidak disteril dapat melahirkan beberapa kali sepanjang tahun. Anak-anaknya kemudian tumbuh dan memasuki masa reproduksi. Tanpa pengendalian, satu koloni dapat berkembang menjadi puluhan individu.

Penelitian Scott, Levy, dan Crawford yang diterbitkan dalam Journal of the American Veterinary Medical Association pada 2002 terhadap 5.323 kucing bebas berkeliaran menemukan rata-rata 3,6 janin dalam setiap kehamilan kucing betina. Angka ini memperlihatkan besarnya potensi pertumbuhan populasi.

Penyebab kedua adalah makanan yang tersedia tanpa batas. Pasar, warung makan, tempat pembuangan sampah, dan permukiman yang membiarkan sisa makanan terbuka menjadi sumber kehidupan bagi kucing jalanan. Selama makanan mudah ditemukan, lingkungan tersebut akan terus menarik kedatangan kucing.

Ada pula faktor yang lebih menyedihkan: penelantaran. Kucing peliharaan yang dibuang karena pemiliknya tidak sanggup merawat, anak kucing yang tidak diinginkan, hingga hewan yang dibiarkan berkeliaran tanpa pengawasan ikut menambah populasi. Kucing yang semula menjadi teman di rumah akhirnya harus bertahan hidup di jalanan.

Persoalannya bukan hanya kebersihan. Kotoran dan urine dapat mengganggu sanitasi, sementara kucing yang tidak memperoleh perawatan berisiko mengalami penyakit dan cedera. Gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi juga perlu diwaspadai karena rabies dapat menular melalui air liur. Toksoplasmosis pun perlu diperhatikan, terutama oleh ibu hamil, meski penularannya tidak sesederhana sekadar menyentuh kucing.

Lantas, bagaimana mengatasinya?

Membasmi atau mengusir kucing bukan jawaban jangka panjang. Salah satu pendekatan yang banyak diteliti adalah Trap-Neuter-Return (TNR), yakni menangkap, mensterilkan, memeriksa kesehatan, kemudian mengembalikan kucing yang layak ke lingkungan asalnya. Anak kucing yang masih dapat disosialisasikan bisa diarahkan untuk diadopsi.

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal PNAS pada 2022 menemukan bahwa sterilisasi lebih dari 70 persen populasi kucing di wilayah penelitian, secara berkesinambungan dan mencakup kawasan yang saling terhubung, mampu membalikkan pertumbuhan populasi. Jumlahnya turun sekitar 7 persen per tahun.

Penelitian jangka panjang di University of Central Florida yang dipublikasikan dalam jurnal Animals pada 2019 juga mencatat penurunan populasi kucing kampus sebesar 85 persen selama periode 1996–2019 melalui program sterilisasi dan adopsi.

Pemerintah daerah dapat bekerja sama dengan dokter hewan, komunitas penyayang hewan, pengelola pasar, dan warga untuk mendata koloni, mengadakan sterilisasi terjangkau, vaksinasi rabies sesuai program kesehatan hewan, serta menyediakan sistem adopsi.

Warga pun punya peran sederhana: tidak membuang hewan peliharaan, tidak membiarkan sampah makanan terbuka, dan memberikan pakan secara bertanggung jawab di lokasi yang tidak mengganggu kebersihan.

Kucing liar bukan muncul begitu saja. Ada reproduksi yang dibiarkan, makanan yang tersedia, dan manusia yang melepaskan tanggung jawab. Mengendalikan populasinya membutuhkan kebijakan, kepedulian, dan konsistensi. Sebab, persoalan kucing di jalanan sesungguhnya juga mencerminkan cara manusia memperlakukan lingkungan dan makhluk hidup di sekitarnya. (*

Tinggalkan Balasan