HISTORIA – Ada yang lebih tua daripada gedung-gedung tinggi, kawasan industri, pusat perbelanjaan, dan jalan raya yang kini memenuhi Tangerang. Namanya Cisadane.
Jauh sebelum Tangerang mengenal kemacetan, beton, dan kawasan permukiman yang tumbuh seperti jamur setelah hujan, sungai ini sudah lebih dahulu membelah daratan. Airnya mengalir dari pegunungan Bogor, melewati perkampungan, sawah, dan kota-kota yang kemudian tumbuh di sepanjang alirannya, sebelum akhirnya bermuara ke Laut Jawa.
Cisadane bukan sekadar sungai yang melintas di depan rumah warga. Ia adalah saksi bagaimana Tangerang tumbuh. Dari kehidupan agraris, perdagangan, perkembangan permukiman, hingga industrialisasi yang mengubah wajah wilayah ini.
Ironisnya, sungai yang ikut membesarkan Tangerang itu kini harus menghadapi persoalan yang juga tumbuh bersama perkembangan wilayahnya: pencemaran, tekanan pembangunan, dan berkurangnya kepedulian manusia terhadap lingkungan.
Dari pegunungan menuju Tangerang
Perjalanan Cisadane bermula dari kawasan hulu di lereng Gunung Pangrango, dengan sejumlah anak sungai yang bersumber dari kawasan Gunung Salak. Alirannya melintasi Kabupaten Bogor, Kota Bogor, Tangerang Selatan, Kota Tangerang, hingga Kabupaten Tangerang.
Panjangnya sekitar 126 kilometer berdasarkan sejumlah dokumen perencanaan pemerintah. Daerah aliran sungainya mencakup wilayah yang jauh lebih luas daripada sekadar bantaran sungai yang terlihat oleh warga Tangerang.
Di kawasan hulu, hutan pegunungan berfungsi sebagai penyangga tata air. Vegetasi membantu menahan erosi, menjaga tanah, dan mengatur aliran air menuju wilayah hilir.
Ketika memasuki kawasan perkotaan, karakter sungai berubah. Aliran yang dahulu melewati bentang alam hijau kini bersinggungan dengan permukiman padat, jalan, kawasan industri, dan berbagai aktivitas ekonomi.
Di Tangerang, Cisadane bahkan menjadi semacam pembelah kota. Alirannya memisahkan kawasan timur dan barat Kota Tangerang, sekaligus menjadi bagian penting dari sistem pengairan dan kehidupan masyarakat.
Nama yang menyimpan cerita
Nama Cisadane juga menyimpan cerita tersendiri. Dalam penuturan tradisi lisan masyarakat Sunda yang berkembang di Tangerang, kata ci berarti air atau sungai. Sementara kata sadane kerap dikaitkan dengan suara gemuruh aliran air.
Cerita tersebut menggambarkan kondisi sungai pada masa ketika arusnya masih deras dan belum banyak mengalami perubahan akibat pembangunan bendungan maupun aktivitas manusia.
Namun, asal-usul kata Sadane memiliki beragam penafsiran. Karena itu, kisah tentang air yang bergemuruh lebih tepat dipahami sebagai salah satu versi tradisi lokal, bukan kesimpulan etimologis yang sudah dipastikan secara akademis.
Di balik namanya, Cisadane juga menyimpan ingatan panjang masyarakat Sunda. Sungai dan kawasan di sekitarnya memiliki keterkaitan dengan sejarah permukiman serta perkembangan wilayah Kerajaan Sunda, termasuk Pakuan Pajajaran.
Pada masa ketika jalan darat belum berkembang seperti sekarang, sungai menjadi bagian penting dari mobilitas manusia, pertanian, dan pertukaran hasil bumi.
Air menjadi kebutuhan dasar. Alirannya menopang sawah, kebun, dan kehidupan masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran. Cisadane bukan hanya bentang alam. Ia merupakan bagian dari sejarah bagaimana manusia membangun kehidupan.
Buaya putih dan cerita yang tak pernah benar-benar hilang

Sejarah Cisadane tidak hanya hidup dalam dokumen dan peta. Di tengah masyarakat, sungai ini juga menyimpan cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut. Salah satu yang terkenal adalah legenda buaya putih.
Dalam cerita yang berkembang di kalangan warga, kemunculan buaya putih pernah dikaitkan dengan banjir besar sekitar 1962. Sebagian masyarakat menganggap kemunculannya sebagai pertanda datangnya bencana.
Ada pula kisah kura-kura raksasa dengan tulisan menyerupai aksara Cina pada tempurungnya. Cerita tersebut dikaitkan dengan kawasan Pekong dan tradisi masyarakat Tionghoa di sekitar sungai.
Kisah-kisah itu memang sulit dibuktikan secara ilmiah. Namun, keberadaannya menunjukkan bahwa Cisadane tidak hanya memiliki nilai ekologis, tetapi juga menyimpan ruang imajinasi dan ingatan kolektif masyarakat.
Sungai menjadi tempat manusia menaruh cerita, ketakutan, harapan, sekaligus penghormatan terhadap alam.
Dari sumber kehidupan menjadi penopang ekonomi
Seiring perkembangan zaman, fungsi Cisadane semakin luas. Sungai ini menjadi bagian dari kebutuhan pertanian, pengelolaan sumber daya air, hingga penyediaan air baku bagi masyarakat dan aktivitas perkotaan.
Perusahaan umum daerah air minum di Kota Tangerang dan Kabupaten Tangerang memanfaatkan sumber air baku dari sungai ini untuk memenuhi kebutuhan pelanggan.
Artinya, air Cisadane tidak berhenti sebagai pemandangan yang bisa dinikmati dari jembatan. Ia ikut menentukan bagaimana rumah tangga memperoleh air, bagaimana kegiatan ekonomi berjalan, dan bagaimana pelayanan publik dapat berlangsung.
Ketergantungan itu membawa konsekuensi. Semakin besar aktivitas manusia di sekitar sungai, semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaga kualitas airnya. Sayangnya, pertumbuhan ekonomi tidak selalu berjalan seiring dengan perlindungan lingkungan.
Ketika sungai mulai membalas kelalaian manusia
Persoalan pencemaran menjadi salah satu ancaman serius bagi Cisadane.
Pada Februari 2026, aliran sungai ini sempat menghadapi pencemaran bahan kimia yang diduga berasal dari residu kebakaran gudang pestisida di kawasan Taman Tekno, Tangerang Selatan. Dampaknya menjalar ke sejumlah wilayah dan memicu kematian biota air.
Pemerintah daerah sempat mengimbau masyarakat agar tidak menggunakan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari maupun mengonsumsi ikan hasil tangkapan dari aliran tersebut selama proses pemeriksaan berlangsung.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Tangerang kemudian menyatakan hasil pengujian menunjukkan kualitas air kembali memenuhi baku mutu pada 17 Februari 2026. Namun, peristiwa itu menjadi pengingat bahwa sungai yang menjadi sumber kehidupan bisa menghadapi ancaman serius akibat aktivitas manusia.
Persoalan tidak berhenti di situ.
Pada Agustus 2026, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Banten mengambil sampel air dari tiga outlet industri di kawasan Tangerang Raya setelah menerima pengaduan masyarakat terkait dugaan pencemaran Cisadane.
Dua peristiwa tersebut menunjukkan bahwa pengawasan terhadap sungai tidak bisa hanya dilakukan ketika air berubah warna, ikan mengapung, atau bau menyengat mulai tercium warga.
Pengendalian limbah, pengawasan industri, penegakan hukum, dan keterbukaan hasil pemeriksaan harus menjadi pekerjaan rutin.
Sebab, sungai tidak mempunyai kemampuan untuk menolak limbah yang dibuang ke dalamnya. Ia hanya mengalirkan apa pun yang masuk, termasuk kelalaian manusia.
Tangerang boleh tumbuh, Cisadane jangan dikorbankan

Kini, Cisadane menghadapi pilihan yang sebenarnya tidak rumit: menjadi sungai yang terus memberi kehidupan atau perlahan kehilangan fungsinya karena tekanan pembangunan.
Pemerintah membutuhkan pengawasan yang konsisten. Industri harus memastikan pengolahan limbah berjalan sesuai ketentuan. Masyarakat juga perlu berhenti menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah dan limbah rumah tangga.
Pemulihan sungai tidak cukup dengan kegiatan bersih-bersih sesekali, menanam pohon untuk dokumentasi, atau memasang spanduk larangan membuang sampah. Yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku dan keberanian menindak sumber pencemaran.
Cisadane telah melewati masa kerajaan, perdagangan, kolonialisme, hingga industrialisasi. Ia menyaksikan Tangerang berubah dari wilayah yang bertumpu pada pertanian menjadi kawasan perkotaan dengan aktivitas ekonomi yang semakin padat.
Tetapi ada satu hal yang tidak berubah: manusia tetap membutuhkan air.
Maka, sebelum sibuk membicarakan pembangunan Tangerang yang semakin modern, ada baiknya sesekali melihat ke bawah jembatan. Di sana, Cisadane masih mengalir.
Pertanyaannya, apakah generasi berikutnya masih akan mewarisi sungai yang sama, atau hanya cerita tentang sungai yang dahulu pernah menjadi sumber kehidupan? (*







