FLORA – Tidak semua buah menarik perhatian karena warna, aroma, atau rasanya. Mengkudu justru sebaliknya. Buah berwarna putih kekuningan dengan permukaan berbintik ini kerap dijauhi karena aromanya yang menyengat, terutama ketika matang. Namun, di balik baunya yang kurang bersahabat, mengkudu menyimpan cerita panjang tentang tradisi pangan dan pemanfaatan tanaman lokal di Indonesia.
Dikenal dengan nama ilmiah Morinda citrifolia L, mengkudu tumbuh di berbagai wilayah tropis, termasuk Asia Tenggara. Tanaman ini relatif mudah dijumpai di pekarangan maupun lingkungan pedesaan. Buahnya berbentuk bulat lonjong, berwarna hijau saat muda, kemudian berubah menjadi putih kekuningan ketika matang.
Di sejumlah daerah, mengkudu memiliki nama berbeda. Masyarakat Sunda mengenalnya sebagai cangkudu, sedangkan orang Jawa dan Madura menyebutnya pace. Di lingkungan masyarakat Betawi, buah ini lebih dikenal dengan sebutan mengkudu atau noni.
Perbedaan nama, mengkudu atau pace, memperlihatkan bagaimana tanaman yang sama menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dengan latar budaya yang beragam.
Meski aromanya kerap membuat orang enggan mendekat, mengkudu sebenarnya dapat diolah menjadi bahan konsumsi. Sebagian masyarakat mengolah buahnya menjadi jus atau minuman tradisional. Sementara itu, daun mudanya juga dimanfaatkan sebagai bahan pangan.
Dalam tradisi kuliner Betawi, daun mengkudu bahkan dikenal sebagai salah satu bahan campuran nasi goreng. Pemanfaatan ini menunjukkan bahwa nilai sebuah tanaman tidak selalu terletak pada buahnya. Daun yang kerap luput dari perhatian justru memiliki tempat dalam khazanah kuliner lokal.
Mengkudu juga lama dikenal dalam pengobatan tradisional. Buah ini mengandung sejumlah senyawa bioaktif, termasuk antioksidan, serta vitamin C dan vitamin E. Kandungan tersebut berkaitan dengan proses perlindungan sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.
Senyawa scopoletin yang terdapat dalam mengkudu juga menjadi perhatian sejumlah penelitian karena aktivitas biologisnya, termasuk potensi antimikroba. Namun, temuan penelitian awal tidak otomatis membuktikan bahwa mengkudu mampu mencegah atau menyembuhkan penyakit kronis pada manusia.
Karena itu, mengkudu lebih tepat dipandang sebagai sumber pangan lokal yang memiliki potensi untuk diteliti, bukan pengganti obat maupun terapi medis.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap pangan alami, mengkudu menyimpan peluang untuk kembali diperkenalkan. Bukan semata karena klaim kesehatannya, melainkan juga karena pengetahuan tradisional tentang tanaman ini merupakan bagian dari kekayaan pangan Nusantara. (*






