Soft News

Rambutan Parakan: Buah Seperak dari Tangerang yang Terancam Tergusur Beton

×

Rambutan Parakan: Buah Seperak dari Tangerang yang Terancam Tergusur Beton

Sebarkan artikel ini
Rambutan parakan | Foto: Dok. Jejak Kata

FLORA – Dulu, pohon rambutan menjadi penghuni setia pekarangan warga Cisauk, Pagedangan, Legok dan sekitarnya. Ketika musim panen tiba, ranting-rantingnya merunduk menanggung buah merah. Pedagang datang, pembeli berdatangan. Buah itu dikenal sebagai Rambutan Parakan.

Namanya konon berawal dari kebiasaan masyarakat menjual rambutan dengan harga seperak atau satu perak. Sebutan itu berkembang menjadi perakan, lalu dikenal sebagai Parakan. Kisah tersebut tercatat dalam dokumen Indikasi Geografis Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI).

Kini, lanskap Tangerang berubah. Perumahan, gedung, dan jalan baru menggantikan sebagian kebun yang dahulu menjadi tempat pohon rambutan tumbuh. Di tengah laju pembangunan, buah yang menjadi identitas daerah ini menghadapi ancaman kehilangan ruang budidaya.

Rambutan Parakan bukan sekadar buah yang tumbuh di Tangerang. Ia merupakan varietas lokal unggulan dengan karakteristik yang berkaitan dengan lingkungan geografis asalnya. Sentra historisnya berada di Cisauk, Pagedangan, dan Legok. Budidayanya kemudian menyebar ke Kelapa Dua, Panongan, Curug dan sekitarnya.

Bukan rambutan biasa

Sekilas, penampilannya tak jauh berbeda dari rambutan daerah lain. Kulitnya merah dengan rambut-rambut lentur. Namun, keistimewaannya terlihat setelah kulit dikupas.

Daging buahnya putih, tebal, padat, dan manis. Kandungan airnya relatif sedikit sehingga teksturnya tidak terlalu berair. Dagingnya juga mudah terlepas dari biji, atau dikenal dengan istilah ngelotok. Dokumen Indikasi Geografis mencatat kandungan vitamin C mencapai 64,5 miligram per 100 gram.

Keunggulan tersebut membuat pemerintah menetapkannya sebagai varietas unggul melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 518/Kpts/PD.210/10/2003 pada 28 Oktober 2003.

Jejak rambutan di Nusantara

Rambutan memiliki nama ilmiah Nephelium lappaceum L. dan termasuk keluarga Sapindaceae, satu keluarga dengan leci dan kelengkeng. Tanaman tropis ini berasal dari kawasan Asia Tenggara, dengan pusat keanekaragaman dan domestikasi yang berkaitan dengan Semenanjung Malaya dan wilayah Nusantara.

Dari kawasan tersebut, rambutan menyebar ke Thailand, Filipina, Vietnam, Sri Lanka, India, hingga sejumlah wilayah tropis Afrika dan Amerika.

Di Indonesia, rambutan berkembang menjadi berbagai varietas lokal, seperti Rapiah, Binjai, Lebak Bulus, Si Macan, Si Nyonya, dan Parakan. Masing-masing memiliki karakteristik rasa, ukuran, dan tekstur berbeda.

Karena itu, Rambutan Parakan bukan asal-usul seluruh rambutan Indonesia, melainkan salah satu kekayaan varietas lokal yang tumbuh dan berkembang di Tangerang.

Sertifikat melawan ancaman beton

Pada 22 Mei 2024, Rambutan Parakan memperoleh sertifikat Indikasi Geografis. Pengakuan ini memperkuat perlindungan hukum atas nama, reputasi, dan karakteristik buah tersebut berdasarkan wilayah asalnya. Pengajuannya dilakukan Perkumpulan Rambutan Parakan Asli Kabupaten Tangerang atau RAMPAK ASLI KARANG.

Namun, sertifikat tak otomatis menyelamatkan pohonnya. Alih fungsi lahan menjadi permukiman membuat ruang budidaya semakin menyusut. Kebun yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat perlahan terdesak pembangunan.

Di sinilah ironi Tangerang terlihat. Ketika daerah semakin modern, sebagian kekayaan alam yang membentuk identitasnya justru kehilangan tempat berpijak.

Rambutan Parakan membutuhkan lebih dari sekadar pengakuan administratif. Pohon induk harus dilindungi, pembibitan diperbanyak, dan petani diberi ruang untuk melanjutkan budidaya.

Sebab, sertifikat bisa melindungi nama sebuah buah. Namun, ia tak bisa menggantikan tanah yang telanjur berubah menjadi beton. (*

Tinggalkan Balasan