Soft News

Dari Rajapolah Tasikmalaya, Jejak Anyaman Bambu Menjelajah Pulau Jawa

×

Dari Rajapolah Tasikmalaya, Jejak Anyaman Bambu Menjelajah Pulau Jawa

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Carang-carang bambu | Dok. Jejak Kata

HISTORIA — Sebatang bambu mungkin hanya tumbuh di pekarangan, tepi sungai, atau kebun milik warga. Namun, di tangan perajin, batang berongga itu bisa berubah menjadi aneka benda bernilai seni dan ekonomi. Dari bakul, tampah, boboko, hingga berbagai cendera mata. Salah satu jejak panjang kerajinan itu dapat ditelusuri dari Rajapolah, Tasikmalaya, Jawa Barat.

Rajapolah bukan sekadar tempat orang menjual kerajinan bambu. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan anyaman di Indonesia. Keterampilan mengolah bambu diwariskan dari generasi ke generasi, kemudian berkembang menjadi mata pencaharian masyarakat setempat.

Ada kisah menarik tentang Martadinata atau Haji Soleh, seorang petani perajin yang dalam sejumlah catatan sejarah lokal disebut mengembangkan teknik anyaman bambu halus sekitar 1890. Bahkan, pada 1901, ia disebut mendapat kepercayaan pemerintah kolonial untuk mengajarkan keterampilan tersebut ke sejumlah daerah.

Kisah itu memperlihatkan bahwa kerajinan bambu bukan sekadar urusan tangan yang terampil. Ada pengetahuan, kreativitas, dan proses penyebaran keterampilan yang membuat sebuah produk lokal melampaui batas kampung halamannya.

Dalam perkembangannya, produk anyaman dari Tasikmalaya dikenal menjangkau berbagai daerah di Pulau Jawa. Kerajinan yang semula berangkat dari kebutuhan rumah tangga perlahan menemukan pasar baru sebagai produk dekorasi, perlengkapan rumah, hingga suvenir.

Menariknya, jejak serupa juga ditemukan di Tangerang.

Di Rajapolah, bambu dan bahan alam lainnya menjadi bagian dari denyut ekonomi kerajinan. Pemerintah Kecamatan Rajapolah mencatat wilayah ini sebagai sentra UMKM yang menghasilkan produk berbahan bambu, mendong, pandan, dan eceng gondok.

Sementara di Tangerang, bambu memiliki cerita tersendiri. Sejak akhir abad ke-19, masyarakat telah mengembangkan kerajinan topi bambu yang bahkan menembus pasar Eropa. Penelitian sejarawan Rahayu Permana dalam Sejarah Kerajinan Topi Bambu di Tangerang (2022) mencatat aktivitas ekspor sejak 1887.

Bahkan, Pemerintah Kabupaten Tangerang pada 2023 memetakan 367 perajin dan pelaku kesenian berbasis bambu. Angka itu menunjukkan bahwa warisan tersebut bukan sekadar cerita masa lalu.

Rajapolah dan Tangerang memang memiliki karakter produk serta perjalanan sejarah berbeda. Namun, keduanya memperlihatkan bagaimana bambu pernah menjadi sumber penghidupan, identitas, sekaligus komoditas yang menghubungkan kampung dengan dunia luar.

Persoalannya sekarang bukan siapa yang lebih dahulu terkenal, melainkan bagaimana keterampilan itu tetap hidup. Regenerasi perajin, inovasi desain, akses pemasaran, dan ketersediaan bahan baku menjadi pekerjaan rumah bersama.

Sebab, jangan sampai anyaman bambu hanya bertahan sebagai benda pajangan sejarah atau gambar pada lambang daerah. Warisan budaya seharusnya tetap bekerja: menghidupi perajin, membuka lapangan pekerjaan, dan memberi ruang bagi generasi muda untuk berkreasi.

Dari Rajapolah hingga Tangerang, bambu mengajarkan satu hal: sesuatu yang sederhana bisa menjelajah jauh ketika tangan terampil bertemu kreativitas dan kesempatan. (*

Tinggalkan Balasan