Soft News

Goenawan Widjaja: Dari Satu Gergaji, Menyelamatkan Ingatan dalam Rumah Kayu

×

Goenawan Widjaja: Dari Satu Gergaji, Menyelamatkan Ingatan dalam Rumah Kayu

Sebarkan artikel ini
Goenawan Widjaja | Foto: Dok. Istimewa

SOSOK – Kayu bagi Goenawan Widjaja bukan sekadar bahan bangunan. Di balik serat, warna, dan teksturnya, tersimpan cerita tentang perjalanan waktu, keterampilan tangan, serta warisan kebudayaan yang perlahan terdesak perubahan zaman.

Lebih dari 55 tahun berkecimpung dalam dunia perkayuan, Goenawan menapaki perjalanan panjang dari pekerjaan sederhana hingga dikenal sebagai pelestari arsitektur kayu tradisional Nusantara. Di Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, ia membangun Rumah Kayu Goen, sebuah tempat yang mempertemukan arsitektur, sejarah, dan kehidupan budaya.

Perjalanan itu tidak dimulai dari kemewahan. Pada 1971, sebelum menetap dan menempuh pendidikan SMP hingga SMA di Medan, Goenawan memulai perantauan dari Padang. Jakarta kemudian menjadi tempatnya mencari penghidupan. Berbagai pekerjaan informal pernah dijalani, mulai dari berjualan rokok di Glodok, nasi Padang di Tanah Abang, hingga tembakau linting.

Titik balik datang ketika ia mulai mengenal dunia konstruksi kayu. Pada 1970–1971, ia bekerja sekaligus belajar mengenai bangunan, terutama teknik pengerjaan kayu, di bawah bimbingan ayahnya. Berbekal modal sederhana berupa satu gergaji dan satu kapak, Goenawan mulai memahami bagaimana kayu dipotong, dirangkai, dan diolah menjadi bagian dari sebuah bangunan.

Pengalaman itu menjadi sekolah kehidupan. Ia mempelajari teknik konstruksi, pembuatan kusen, pintu, jendela, hingga mebel. Pengetahuan yang semula diperoleh dari pekerjaan lapangan kemudian berkembang menjadi usaha mandiri.

Memasuki dekade 1970-an, Goenawan mulai membeli dan mengolah kayu bekas bangunan menjadi rangka pintu, kusen, dan jendela baru. Pada 1980–1990-an, usahanya berkembang menjadi pemasok barang antik dan pembuat mebel. Jangkauan bisnisnya bahkan merambah Pulau Jawa hingga pasar mancanegara.

Perjalanan berikutnya membawanya ke Bali. Pada 1998–2014, ia mengembangkan usaha mebel dan barang antik selama sekitar 16 tahun. Namun, Goenawan tidak berhenti sebagai pedagang. Ketertarikannya terhadap bangunan bersejarah semakin kuat.

Pada 2005, ia mengikuti pameran tunggal di Galeri Nasional. Keberhasilan tersebut menjadi salah satu momentum penting sebelum membeli lahan seluas satu hektare di Kampung Cipari, Desa Ciakar, Panongan. Kawasan itu kemudian dikembangkan menjadi Rumah Kayu Goen, yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya dan sejarah di Kabupaten Tangerang.

Proses pembangunannya dilakukan dengan menyeleksi, memindahkan, dan merestorasi bangunan kayu bersejarah. Di dalam kompleks tersebut terdapat Rumah Kandang Kebo, Rumah Gede berciri arsitektur Cina Benteng, Rumah Akulturasi Bali-Cina Benteng, serta bangunan Rumah Jawa dan Rumah Cina Peranakan.

Pada 2005–2010, kompleks tersebut memperoleh julukan Mutiara Panongan. Pemerintah Kabupaten Tangerang kemudian mengabadikan namanya menjadi Jalan Rumah Kayu Goen.

Kini, Rumah Kayu Goen tidak hanya menjadi tempat menyimpan bangunan lama. Kawasan itu juga berkembang sebagai ruang restoran, wisata budaya, dan lokasi produksi film. Bahkan, kompleks tersebut pernah menjadi lokasi syuting karya sutradara Rano Karno.

Bagi Goenawan, merawat kayu berarti menjaga ingatan. Material yang dianggap tidak berharga, termasuk kayu bekas, masih memiliki kesempatan untuk hidup kembali melalui ketekunan, keterampilan, dan penghormatan terhadap karakter alaminya.

Dari satu gergaji dan satu kapak, Goenawan Widjaja membangun perjalanan panjang. Bukan semata tentang keberhasilan usaha, melainkan tentang bagaimana kayu-kayu tua dapat kembali bercerita kepada generasi yang lebih muda. (*

Tinggalkan Balasan