Liputan

Saat Pasar Kemis Berjoget, Kebahagiaan Tak Hanya Soal Doorprize

×

Saat Pasar Kemis Berjoget, Kebahagiaan Tak Hanya Soal Doorprize

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, memberikan doorprize kepada salah seorang peserta

JEJAK KATA, Tangerang – Minggu pagi di Pasar Kemis biasanya berjalan santai. Namun kali ini, ribuan warga memilih memulai hari dengan cara yang lebih berkeringat. Musik mengalun, kaki bergerak mengikuti irama, tangan terangkat serempak, dan sesekali gelak tawa pecah ketika panitia mengumumkan hadiah doorprize. Dari kulkas, Smart TV, hingga motor listrik, semuanya siap membuat denyut jantung peserta berdetak lebih cepat—bahkan sebelum senam dimulai.

Di tengah lautan peserta itulah Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah, berdiri memimpin senam massal bertajuk “Tangerang Semakin Gemilang” yang digelar Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI) Kabupaten Tangerang, Minggu (12/7/2026).

Bagi Intan, olahraga rekreasi bukan sekadar urusan membakar kalori. Ada yang lebih penting: membangkitkan hormon kebahagiaan.

“Olahraga itu bisa menambah hormon kesehatan, kebugaran dan kebahagiaan kita. Jadi, untuk menghadapi hari Senin besok, kita sudah fresh dan bahagia. Apalagi kalau pulang ke rumah membawa kulkas, motor listrik, atau Smart TV, pasti makin senang orang di rumah,” ujarnya, disambut tawa ribuan peserta.

Kalimat itu mengundang senyum. Sebab siapa yang bisa menolak sehat sekaligus berpeluang membawa pulang motor listrik?

Namun, di balik candaan tersebut tersimpan pesan yang lebih serius. Sebagai Ketua Umum KORMI Kabupaten Tangerang, Intan ingin olahraga masyarakat tidak hanya hadir ketika peringatan hari besar nasional. Menurutnya, kegembiraan juga layak dijadikan rutinitas.

“Setiap ada acara KORMI, wajib hadir. Karena di mana ada KORMI, di situ ada kebahagiaan. Olahraga di sini bukan cuma senam saja, tapi macam-macam. Ada tarik tambang, lomba bakiak sampai balap karung. Jadi keseruannya bukan hanya saat 17 Agustus, tetapi setiap hari kita bisa bergembira,” katanya.

Pesan itu terasa relevan di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk. Hari-hari dipenuhi pekerjaan, layar gawai, dan kemacetan. Akibatnya, bergerak justru menjadi aktivitas yang sering ditunda.

Tak hanya mengajak masyarakat berkeringat, Intan juga mengingatkan pentingnya berbagi kehidupan. Ia mengajak peserta yang sehat dan telah sarapan untuk mengikuti aksi donor darah yang digelar Unit Donor Darah PMI Kabupaten Tangerang.

“Setetes darah ini bisa membantu saudara-saudara kita, bukan hanya di Tangerang, tetapi di seluruh Indonesia. Jadi, insya Allah kita semua diberikan keberkahan, karena acara senam ini bukan cuma menyehatkan, tetapi juga menjadi wadah untuk saling berbagi,” ujarnya.

Ketua panitia, Jubertinus, mengatakan kegiatan tersebut memang dirancang bukan sekadar agenda olahraga. Senam massal menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan di tengah masyarakat yang semakin beragam.

Di lapangan, tujuan itu tampak nyata. Orang-orang yang mungkin tak saling mengenal ikut bergerak dalam irama yang sama. Sesekali saling menyapa, saling menyemangati, lalu tertawa bersama ketika nomor doorprize yang ditunggu ternyata masih milik orang lain.

Begitulah olahraga masyarakat bekerja. Ia tidak selalu melahirkan juara, tetapi hampir selalu melahirkan kebersamaan.

Namun ada satu hal yang patut menjadi renungan. Tubuh yang sehat tentu penting. Tetapi kota yang sehat jauh lebih penting. Kabupaten Tangerang hari ini terus tumbuh. Kawasan permukiman baru bermunculan, pusat perdagangan berkembang, jalan terus dibangun, dan aktivitas ekonomi bergerak semakin cepat. Bersamaan dengan itu, tantangan yang ikut membesar bukan hanya kemacetan, melainkan juga persoalan sampah dan kualitas lingkungan.

Karena itu, semangat hidup sehat semestinya tidak berhenti di atas panggung senam. Ia harus berlanjut menjadi kebiasaan menjaga ruang hidup bersama. Percuma tubuh bugar jika sungai dipenuhi sampah. Percuma rutin berolahraga jika udara semakin tercemar dan ruang terbuka hijau terus terdesak.

Senam massal memang mampu membakar kalori dalam hitungan jam. Tetapi membangun budaya hidup sehat membutuhkan konsistensi bertahun-tahun. Termasuk membiasakan memilah sampah, mengurangi plastik sekali pakai, menjaga kebersihan lingkungan, dan menjadikan ruang publik sebagai tempat yang nyaman untuk bergerak.

Sebab pembangunan sejatinya bukan hanya soal gedung yang semakin tinggi atau jalan yang semakin lebar. Pembangunan juga harus diukur dari kualitas udara yang dihirup, sungai yang tetap mengalir bersih, serta lingkungan yang membuat masyarakat betah berjalan kaki, berolahraga, dan hidup sehat.

Doorprize boleh menjadi penyemangat untuk datang. Tetapi kebiasaan hidup sehat dan kepedulian terhadap lingkungan adalah hadiah sesungguhnya. Hadiah yang nilainya jauh lebih mahal daripada kulkas, Smart TV, bahkan motor listrik sekalipun. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *