LiputanJejak Kata

Dua Bulan Menebar Teror, Penusuk Acak Itu Pecah di Tangan Polisi

×

Dua Bulan Menebar Teror, Penusuk Acak Itu Pecah di Tangan Polisi

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

JEJAK KATA, Kota Tangerang – Tak ada teriakan. Tak ada perkelahian. Hanya deru pelan sepeda motor yang mendekat, lalu melesat pergi. Korban baru sadar beberapa saat kemudian bahwa tubuhnya telah terluka. Begitulah teror itu bekerja.

Selama hampir dua bulan, warga Cibodas, Kota Tangerang, dihantui cerita tentang seorang pengendara misterius yang diduga menyerang orang-orang secara acak. Korbannya tidak saling mengenal, tempat kejadiannya berpindah-pindah, sementara pelakunya seolah menghilang begitu saja setelah meninggalkan luka.

Cerita itu beredar dari mulut ke mulut, lalu menjelma menjadi video dan unggahan media sosial. Sebagian menganggapnya kabar yang dibesar-besarkan. Sebagian lagi mulai menoleh ke belakang setiap kali mendengar suara motor melambat.

Sabtu 11 Juli 2026, teka-teki itu akhirnya mulai terurai. Tim Opsnal Polsek Jatiuwung yang dipimpin Kapolsek Kompol Kresna Ajie Perkasa menangkap seorang pria berinisial KM di kediamannya di kawasan Bencongan, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang. Penangkapan dilakukan sekitar pukul 11.30 WIB setelah penyidik merangkai berbagai petunjuk dari laporan korban, keterangan saksi, hingga hasil olah tempat kejadian perkara.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol. Dr. Raden Muhammad Jauhari mengatakan, pelaku diduga menggunakan pola yang sama dalam setiap aksinya. Mengendarai sepeda motor, mendekati korban dari arah belakang, melukai tubuh korban dengan benda tajam, lalu kabur sebelum kepanikan benar-benar terjadi.

“Setelah melakukan penyelidikan dan mengumpulkan berbagai petunjuk di lapangan, anggota berhasil mengidentifikasi keberadaan pelaku. Saat dilakukan penangkapan, pelaku sempat melakukan perlawanan sehingga petugas melakukan tindakan pengamanan sesuai prosedur,” ujar Jauhari.

Rangkaian peristiwa itu bermula pada 11 Mei 2026 di Jalan Sawo X, Kelurahan Cibodasari. Pagi itu, Sunarah baru selesai berolahraga dan pulang mengayuh sepeda. Seorang pengendara motor mendekat dari belakang. Tidak ada percakapan. Tidak ada ancaman. Hanya satu sentuhan singkat di punggung.

Korban mengira dirinya hanya tersenggol. Namun setibanya di tempat kerja, rekan-rekannya menemukan luka robek di punggung kanan. Luka itu cukup serius hingga harus diperiksa secara medis dan divisum.

Hampir dua bulan kemudian, pola yang sama muncul lagi. Pada 9 Juli 2026 di Jalan Bawang VII, Malik Zaidan Setiono sedang berjalan menuju minimarket ketika seorang pengendara motor menghampiri dari belakang. Sesaat kemudian, pinggang kanannya terasa perih. Setelah diperiksa, luka itu membutuhkan dua jahitan.

Bagi penyidik, dua kejadian itu bukan lagi kebetulan. Potongan-potongan informasi mulai membentuk satu pola. Dari sanalah identitas KM perlahan mengerucut.

Saat ditangkap, polisi mengamankan satu unit Honda Beat berwarna hitam yang diduga digunakan saat beraksi, berikut pakaian yang dikenakan pelaku.

Namun, penangkapan itu belum menjadi akhir penyelidikan. Polisi masih mendalami motif pelaku sekaligus menelusuri kemungkinan adanya korban lain yang mengalami kejadian serupa tetapi belum melapor.

“Kami masih melakukan pemeriksaan secara intensif terhadap pelaku dan mendalami kemungkinan adanya korban lain. Masyarakat yang merasa pernah mengalami kejadian serupa diharapkan segera melapor agar dapat dilakukan pendalaman,” kata Jauhari.

Kasus ini menunjukkan bahwa kejahatan tidak selalu datang dengan wajah yang mudah dikenali. Kadang ia melintas seperti pengendara biasa. Tidak berteriak, tidak membawa keramaian, hanya memanfaatkan beberapa detik ketika orang lengah.

Di tengah kota yang lalu lintasnya semakin padat dan mobilitas masyarakat kian tinggi, kewaspadaan menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Bukan berarti setiap pengendara harus dicurigai, tetapi ruang publik menuntut setiap orang lebih peka terhadap keadaan di sekelilingnya.

Di sisi lain, pengungkapan kasus ini memperlihatkan bahwa kerja kepolisian bukan hanya soal menangkap pelaku, melainkan menyusun kepingan-kepingan fakta yang semula tampak tak berkaitan. Laporan korban, kesaksian warga, hingga jejak di lokasi kejadian akhirnya bertemu pada satu nama.

Misteri itu memang telah menemukan tersangkanya. Tetapi pekerjaan berikutnya jauh lebih penting: memastikan seluruh rangkaian peristiwa terungkap, motifnya menjadi terang, dan jika memang masih ada korban lain, mereka tidak memilih diam. Sebab rasa aman di ruang publik bukan dibangun oleh kabar bahwa pelaku telah ditangkap, melainkan oleh keyakinan bahwa setiap kejahatan akan dikejar sampai jejak terakhirnya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *