Seni dan Hiburan

Lomba Band Pelajar Festival Cisadane Suguhkan Harmoni Musik dan Budaya

×

Lomba Band Pelajar Festival Cisadane Suguhkan Harmoni Musik dan Budaya

Sebarkan artikel ini
Penampilan peserta Lomba Band Pelajar di Festival Cisadane 2026 | Sumber: Dinas Kominfo Kota Tangerang

JEJAK KATA, Kota Tangerang — Menjelang senja, tepian Sungai Cisadane berubah menjadi ruang perjumpaan yang tak biasa. Riuh pengunjung bercampur dengan aroma kuliner khas festival, sementara dari panggung utama, dentuman drum, lengking gitar listrik, hingga suara vokal yang melengking penuh emosi memantul ke udara. Di sinilah Festival Cisadane 2026 memperlihatkan wajah lain sebuah perayaan budaya: panggung bagi anak-anak muda untuk berbicara lewat musik.

Sabtu 25 Juli 2026, kompetisi Band Pelajar menjadi salah satu magnet yang menyedot perhatian pengunjung. Bukan sekadar lomba mencari juara, melainkan ruang di mana kreativitas bertemu keberanian, dan tradisi berdialog dengan modernitas.

Yang menarik, tidak ada pagar yang membatasi selera bermusik para peserta. Dalam satu panggung yang sama, penonton bisa menikmati musik fusion yang memadukan sentuhan tradisional dengan warna kontemporer, lalu beberapa menit kemudian dihantam energi screamo metal yang meledak-ledak. Perbedaan itu justru menjadi harmoni yang memperlihatkan betapa beragamnya wajah generasi muda Tangerang.

Di tengah dentuman musik yang keras, muncul pemandangan yang mengundang senyum. Beberapa personel band tampil 11mengenakan batik. Kain yang selama ini identik dengan acara resmi, tiba-tiba terasa begitu akrab di antara distorsi gitar dan hentakan bass.

Bagi Camelia Jonathan atau CJ, salah satu dewan juri, pilihan itu bukan sekadar gaya berpakaian.

“Pesertanya kreatif, kompak, bahkan ada yang unik memakai batik. Itu menandakan kita masih peduli dengan budaya tradisional kita, jadi jangan sampai dilupakan,” ujarnya.

Bersama Choirul Imam dan Gilang Al Fatah, Camelia menilai penampilan para finalis bukan berdasarkan genre musik yang dimainkan. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap band mampu menyampaikan identitasnya lewat ekspresi, kekompakan, dan keberanian bereksperimen.

Menurutnya, musik tak seharusnya dikurung dalam kotak-kotak selera. Selama mampu menyampaikan pesan dengan jujur dan berkualitas, setiap genre memiliki ruang yang sama untuk tumbuh.

“Kami mendukung kreativitas. Genrenya beragam, bahkan ada screamo metal yang sangat unik. Kami menilai berdasarkan ekspresi kreativitas masing-masing. Nilai lokalitas juga ditunjukkan peserta melalui penampilan mereka, salah satunya dengan mengenakan busana batik,” katanya.

Festival ini pun menjadi pengingat bahwa budaya tidak selalu hadir dalam bentuk tarian klasik atau alat musik tradisional. Kadang, ia justru hidup melalui cara generasi muda mengolah identitasnya sendiri.

Perjalanan menuju panggung final tentu bukan perkara mudah. Lebih dari 30 band mendaftarkan diri. Setelah melalui proses seleksi, hanya 15 grup terbaik yang berhak tampil di hadapan ribuan pasang mata.

Salah satu yang mencuri perhatian adalah CaraveL. Di balik mikrofon, sang vokalis, Tisyah, menyimpan cerita tentang latihan yang nyaris menjadi rutinitas harian selama dua hingga tiga pekan. Mereka mempersiapkan dua lagu: satu lagu wajib dan satu lagu pilihan bebas.

Ketika akhirnya berdiri di atas panggung Festival Cisadane, rasa lelah itu berubah menjadi kebanggaan.

“Senang banget karena latihan kami selama ini tidak sia-sia. Lolos menjadi salah satu dari 15 finalis dari total lebih dari 30 peserta menurut aku adalah sebuah pencapaian baru yang tidak semua orang bisa dapatkan,” ungkap Tisyah.

Bagi banyak peserta, kemenangan memang menyenangkan. Namun, pengalaman tampil di panggung besar dengan sorotan lampu dan tepuk tangan penonton sering kali menjadi hadiah yang jauh lebih berharga. Di situlah rasa percaya diri tumbuh, sekaligus keyakinan bahwa mimpi menjadi musisi bukan sekadar angan.

Camelia pun mengingatkan bahwa hampir semua musisi besar pernah memulai langkahnya dari panggung-panggung kecil seperti ini.

“Kami dulu juga mengawali karier dari band. Perjalanan mereka masih panjang. Mudah-mudahan semangatnya terus dan tidak berhenti di sini saja untuk tetap berkarya,” tuturnya.

Di tengah derasnya arus konten digital dan tren musik yang datang silih berganti, Festival Cisadane menghadirkan sesuatu yang sederhana tetapi penting: ruang aman bagi anak muda untuk mencoba, gagal, belajar, lalu tampil lagi dengan versi terbaik dirinya.

Sebab, musik bukan hanya tentang siapa yang paling nyaring terdengar. Musik adalah cara sebuah generasi meninggalkan jejak. Dan di tepian Sungai Cisadane, jejak-jejak itu mulai ditulis oleh tangan-tangan muda yang berani memadukan distorsi gitar dengan batik, tradisi dengan mimpi, serta keberanian untuk terus berkarya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *