JEJAK KATA, Tangerang—Kebakaran tak pernah membaca undangan apel. Ia datang tanpa aba-aba, tanpa pengeras suara, dan sering kali lebih cepat daripada rapat koordinasi. Karena itulah, Selasa pagi di Lapangan Raden Aria Yudhanegara, Pemerintah Kabupaten Tangerang mengumpulkan hampir semua seragam negara: hijau loreng, cokelat, biru, hingga abu-abu. Mereka berdiri dalam satu barisan, seolah hendak memberi tahu bahwa kali ini musim kering tak boleh bertindak semaunya.
Bupati Tangerang, Moch. Maesyal Rasyid, memimpin Apel Kesiapsiagaan Tanggap Darurat Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) 2026. Di sampingnya berdiri jajaran Forkopimda, mulai dari Polresta, Kodim, Kejaksaan, Lanud, hingga unsur lainnya. Pesannya sederhana: kemarau tahun ini diperkirakan lebih panjang, sehingga semua pihak harus bersiap sebelum api lebih dulu menyusun rencananya.
Sebab pengalaman mengajarkan satu hal: kebakaran selalu lebih rajin datang daripada evaluasi setelahnya.
Bupati mengingatkan bahwa ancaman musim kering bukan hanya kebakaran lahan. Kekeringan, krisis air bersih, hingga kebakaran permukiman ikut mengintai. Pemerintah daerah, kata dia, bersama TNI, Polri, BPBD, dan berbagai instansi lain harus bergerak dalam satu irama.
Di atas kertas, koordinasi memang selalu tampak rapi. Namun di lapangan, puntung rokok yang dibuang sembarangan sering kali lebih cepat menyulut persoalan daripada surat edaran yang baru selesai dicetak.
Karena itu, Maesyal meminta masyarakat menghentikan kebiasaan membakar sampah sembarangan dan lebih berhati-hati saat beraktivitas di kawasan yang mudah terbakar. Edukasi, menurutnya, harus terus digelorakan hingga ke tingkat kecamatan, desa, Polsek, dan Koramil.
Musim kemarau, rupanya, bukan hanya mengeringkan rumput. Kadang ia juga menguji kedisiplinan manusia.
Apel tersebut juga menjadi ruang mengingat satu peristiwa yang belum lama berlalu: kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin. Api dan asap baru benar-benar menyerah setelah sekitar sepuluh hari berjibaku dengan kerja keras petugas dari berbagai lembaga.
Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa asap tak pernah bertanya apakah sebuah daerah sudah siap. Ia datang ketika kelengahan mulai dianggap biasa.
Karena itu, monitoring terhadap TPA Jatiwaringin maupun titik-titik rawan kebakaran diminta terus dilakukan selama musim kemarau berlangsung. Pencegahan, dalam urusan bencana, selalu lebih murah daripada penyesalan yang datang bersama kepulan asap.
Kapolresta Tangerang Kombes Pol. Andi Muhammad Indra Waspada, menegaskan apel tersebut bukan sekadar seremoni yang berakhir setelah foto bersama. Menurut dia, kegiatan itu merupakan bentuk komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat koordinasi dan memastikan personel siap bergerak apabila kebakaran terjadi.
Pernyataan itu terdengar penting. Sebab publik sudah terlalu sering menyaksikan bencana yang diawali oleh satu kalimat sederhana: “Kami sedang berkoordinasi.” Mudah-mudahan, tahun ini koordinasi benar-benar lebih cepat daripada api. (*






