OPINI — Sebuah daerah akhirnya memiliki tanggal untuk mengingat dirinya sendiri. Kecamatan Tigaraksa menetapkan 13 Oktober 1632 sebagai Hari Jadi. Penetapan itu diumumkan dalam rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di halaman Kantor Kecamatan Tigaraksa, 17 Agustus 2026.
Di atas kertas, tanggal itu penting. Tetapi sebuah tanggal tidak pernah cukup untuk menjelaskan sejarah.
Ada persoalan yang justru lebih mendasar: dari mana Tigaraksa bermula, dan mengapa kawasan itu disebut Tigaraksa?
Pertanyaan semacam itu semestinya menjadi jantung dari peringatan Hari Jadi. Bukan sekadar catatan bahwa Tigaraksa lahir pada 13 Oktober 1632, kemudian dirayakan dengan upacara, makanan gratis, permainan tradisional, dan pesta rakyat.
Perayaan boleh meriah. Bahkan memang perlu. Tetapi akar sejarahnya jangan sampai tenggelam oleh kemeriahannya.
Dalam peringatan HUT ke-81 RI tingkat Kecamatan Tigaraksa, Ketua Balai Adat Keariaan Tangerang, H. Ali Akipin, membacakan riwayat perjalanan sejarah Tigaraksa sekaligus menyampaikan hasil kajian mengenai penetapan Hari Jadi Kecamatan Tigaraksa.
Hasil kajian itu kemudian ditandai dengan penandatanganan Piagam Tigaraksa oleh sejumlah unsur pemerintahan, aparat, tokoh masyarakat, tokoh agama, serta para kepala desa dan lurah.
Sebuah langkah penting. Tetapi pekerjaan sejarah sesungguhnya baru dimulai. Sebab masyarakat tidak hanya membutuhkan tanggal lahir sebuah wilayah. Mereka membutuhkan cerita tentang leluhurnya.
Mengapa nama Tigaraksa muncul? Siapa yang pertama menggunakan nama itu? Peristiwa apa yang berlangsung pada 13 Oktober 1632? Dalam konteks sejarah Tangerang ketika itu, siapa saja tokoh yang terlibat? Bagaimana kehidupan masyarakatnya? Di mana pusat permukimannya? Apa yang berubah dari masa ke masa hingga Tigaraksa sekarang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang?
Pertanyaan-pertanyaan itu jauh lebih menarik daripada sekadar menghafal angka 13-10-1632.
Jika Hari Jadi hendak dijadikan identitas, maka sejarahnya harus dibumikan. Ia perlu keluar dari dokumen kajian dan ruang seremoni. Ia harus masuk ke sekolah, ruang publik, buku sejarah lokal, museum, papan informasi, media massa, hingga percakapan warga di warung kopi.
Anak-anak Tigaraksa semestinya tahu mengapa kampung halaman mereka bernama Tigaraksa. Sebab identitas tidak tumbuh dari baliho. Ia tumbuh dari cerita yang terus diwariskan.
Jangan Sampai Sejarah Kalah oleh Panggung
Peringatan Hari Jadi biasanya memiliki resep yang hampir selalu sama: upacara, sambutan pejabat, makan bersama, permainan rakyat, hiburan, lalu foto bersama. Tidak ada yang salah dengan itu.
Masalahnya muncul ketika seluruh kegiatan berhenti pada perayaan. Sejarah menjadi dekorasi. Tanggal menjadi slogan. Pesta menjadi lebih mudah diingat ketimbang alasan mengapa pesta itu diselenggarakan.
Padahal Hari Jadi semestinya menjadi kesempatan untuk mengajukan pertanyaan yang lebih serius: apa yang sebenarnya sedang kita rayakan?
Kalau jawabannya hanya sebuah tanggal, perayaan itu akan cepat kehilangan makna.
Tetapi jika yang dirayakan adalah perjalanan panjang masyarakat Tigaraksa—dari akar sejarahnya, perubahan sosialnya, perjuangan masyarakatnya, hingga terbentuknya pemerintahan hari ini—maka Hari Jadi dapat menjadi semacam pintu masuk untuk mengenalkan kembali jati diri daerah.
Di sinilah penetapan 13 Oktober 1632 harus ditempatkan. Tanggal tersebut semestinya menjadi pintu, bukan titik. Pintu menuju sejarah yang lebih panjang.
Kajian Hari Jadi tentu harus memiliki pijakan yang dapat dipertanggungjawabkan. Arsip, dokumen lama, peta, catatan pemerintahan, literatur sejarah Tangerang, tradisi lisan, serta kesaksian tokoh masyarakat perlu dibaca secara kritis dan dibandingkan.
Sebab sejarah bukan sekadar cerita yang enak didengar. Ia membutuhkan bukti. Karena itu, setelah tanggal ditetapkan, pemerintah dan masyarakat Tigaraksa justru memiliki pekerjaan berikutnya: membuka dan menjelaskan hasil kajian tersebut kepada publik.
Apa dasar penetapan 13 Oktober 1632? Peristiwa apa yang terjadi pada tanggal itu? Bagaimana kaitannya dengan asal-usul Tigaraksa? Dan yang paling penting, apa cerita di balik nama Tigaraksa itu sendiri? Inilah bagian yang mestinya dibumikan.
Sejarah Harus Sampai ke Hati
Tigaraksa hari ini telah jauh berubah. Dari kawasan yang dahulu tumbuh dalam lanskap perdesaan, ia berkembang menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang. Jalan, permukiman, pusat pendidikan, perdagangan, dan kompleks pemerintahan mengubah wajah kawasan tersebut.
Tetapi modernisasi tidak seharusnya membuat masa lalu menjadi asing. Justru ketika sebuah wilayah berkembang cepat, sejarah semakin penting. Sebab pembangunan tanpa ingatan dapat membuat sebuah daerah kehilangan wajahnya sendiri.
Hari Jadi dapat menjadi alat untuk menjaga ingatan itu. Bukan dengan sekadar memasang angka 13 Oktober 1632 di spanduk, melainkan dengan menjelaskan cerita yang berada di belakang angka tersebut.
Bayangkan jika setiap sekolah di Tigaraksa memiliki materi singkat tentang sejarah wilayahnya. Jika di ruang publik terdapat papan informasi mengenai asal-usul nama Tigaraksa. Jika anak-anak dapat membaca kisah sejarah daerahnya dengan bahasa yang mudah dipahami. Jika ada buku sejarah Tigaraksa yang bisa dibaca masyarakat. Jika cerita tutur para sesepuh didokumentasikan sebelum hilang bersama pergantian generasi.
Hari Jadi akhirnya tidak berhenti sebagai acara tahunan. Ia menjadi pendidikan sejarah. Dan pendidikan sejarah tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Ia bisa berlangsung di lapangan upacara, taman kota, perpustakaan, museum, media lokal, bahkan di meja makan keluarga.
Maka makan gratis dan permainan tradisional dalam perayaan Hari Jadi bukan persoalan. Justru dapat menjadi bagian dari perayaan rakyat. Tetapi jangan sampai masyarakat pulang hanya dengan perut kenyang dan membawa foto di telepon seluler.
Mereka seharusnya pulang membawa cerita. Cerita tentang siapa mereka. Cerita tentang dari mana Tigaraksa berasal.
Cerita yang membuat seorang anak kelak dapat berkata dengan bangga: Saya orang Tigaraksa, dan saya tahu mengapa daerah saya bernama Tigaraksa. Itulah barangkali makna terdalam sebuah Hari Jadi.
Bukan sekadar kapan sebuah daerah dilahirkan, tetapi mengapa kelahirannya layak diingat.
Tanggal 13 Oktober 1632, jangan diperlakukan sebagai angka yang selesai setelah ditetapkan. Ia harus menjadi awal dari pekerjaan yang lebih besar: menelusuri, menjelaskan, merawat, dan mewariskan sejarah Tigaraksa. Sebab akar sebuah daerah tidak cukup dipasang di prasasti. Ia harus ditanam di ingatan masyarakat dan tumbuh di hati generasinya. (*
Oleh: Jejak Kata






