Jejak KataSoft News

Pabrik Pertama di Tangerang, Sebelum Menjadi Daerah Seribu Industri

×

Pabrik Pertama di Tangerang, Sebelum Menjadi Daerah Seribu Industri

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI: Menggambarkan suasana pabrik gula milik tuan tanah era Belanda di wilayah Cilenggang

HISTORI — Jauh sebelum deru mesin pabrik mengisi langit Tangerang dan truk-truk kontainer menjadi pemandangan harian di jalan-jalan industrinya, wilayah ini lebih dulu mengenal suara lain: roda penggilingan tebu.

Di Cilenggang, kawasan yang kini masuk wilayah Kota Tangerang Selatan, pernah berdiri sebuah pabrik gula pada awal abad ke-19. Pabrik Gula Cilenggang menjadi salah satu penanda awal perjalanan industrialisasi di Tangerang—meski bentuk industrinya ketika itu masih sangat berbeda dengan kawasan manufaktur yang tumbuh pada abad berikutnya.

Konon, pabrik itu mula-mula berkaitan dengan kepemilikan tanah seorang pejabat kolonial bernama Adrianus Johannes Bik, sebelum kemudian berpindah tangan kepada Willem Jan Gordon pada dekade 1840-an. Kini, jejak fisik pabrik gula itu nyaris tak terdengar. Bekas kawasannya telah berubah fungsi, bahkan sebagian dikenal sebagai lapangan sepak bola.

Namun sejarah tidak benar-benar hilang. Ia hanya berganti wajah.

Dari kebun tebu dan cerobong pabrik gula, Tangerang perlahan tumbuh menjadi wilayah yang dipenuhi pabrik sepatu, kertas, makanan, peralatan rumah tangga, hingga industri sanitasi. Perubahan itu berlangsung selama lebih dari satu abad—dan menjadikan Tangerang sebagai salah satu simpul industri terpenting di pinggiran Jakarta.

Ketika Industri Masih Berasap dari Tungku

Jejak industri Tangerang tidak semata dimulai oleh pabrik-pabrik besar. Pada masa kolonial, kegiatan produksi telah tumbuh mengikuti jalur perdagangan, sungai, perkebunan, dan pasar.

Selain Pabrik Gula Cilenggang, terdapat pula industri genteng tradisional milik Tan Liok Tiauw yang berkembang di kawasan Batuceper pada dekade 1920-an. Tungku-tungku pembakaran genteng di sekitar Kali Mookervaart menjadi bagian dari lanskap ekonomi Tangerang ketika bahan bangunan mulai dibutuhkan oleh permukiman dan kota-kota yang berkembang.

Di Pasar Lama, sejarah industri mengambil bentuk yang lebih kecil, tetapi bertahan lebih lama: kecap.

Usaha seperti Kecap Teng Giok Seng menunjukkan bahwa industri tidak selalu lahir dari kawasan luas dengan cerobong menjulang. Sebagian tumbuh dari dapur, rumah, dan jaringan perdagangan keluarga. Produk-produk semacam inilah yang kemudian membentuk identitas kuliner Tangerang.

Dengan kata lain, sebelum Tangerang dikenal sebagai kota pabrik, wilayah ini lebih dahulu mengenal industri dalam skala yang beragam: perkebunan, pengolahan pangan, bahan bangunan, dan perdagangan rumah tangga.

Revolusi Industri dari Pinggir Jakarta

Salah satu bagian dari pabrik alas kaki PT. Panarub Industry | FOTO: Dok. Facebook PT. Panarub Industry

Perubahan besar datang setelah Indonesia merdeka. Pada dekade 1960-an dan terutama 1970-an, posisi geografis Tangerang menjadi semakin strategis. Wilayah ini berada di sebelah barat Jakarta, memiliki akses jalan menuju ibu kota, serta masih menyediakan lahan yang relatif luas untuk pengembangan kawasan industri.

Tangerang kemudian berubah menjadi halaman belakang Jakarta yang semakin sibuk—dan perlahan memiliki identitas ekonominya sendiri.

Salah satu perintisnya adalah PT Panarub Industry, yang berdiri pada 1968. Industri alas kaki ini menjadi salah satu tonggak manufaktur modern di Tangerang dan kelak dikenal sebagai bagian penting dari produksi sepatu bermerek internasional.

Pada 1976, Indah Kiat Pulp & Paper mulai membangun jejak industrinya di Tangerang. Tahun yang sama juga menandai perjalanan Star Cosmos, produsen peralatan rumah tangga yang menjadikan Tangerang sebagai basis awal kegiatan industrinya.

Setahun kemudian, pada 1977, Mayora Indah memulai perjalanan industri makanan dari Tangerang. Letaknya yang dekat dengan Jakarta memberikan keuntungan besar: pasar konsumen raksasa berada tidak terlalu jauh dari pabrik.

Pada 1978, TOTO Indonesia ikut menempatkan pabriknya di kawasan Serpong. Produk sanitasi dan keramik pun menambah ragam industri yang berkembang di wilayah Tangerang.

Dalam rentang sekitar satu dekade, Tangerang mengalami perubahan yang sulit dibayangkan jika ditarik kembali ke masa Pabrik Gula Cilenggang. Industri tidak lagi hanya mengolah hasil perkebunan. Mesin-mesin mulai memproduksi barang konsumsi modern untuk pasar nasional, bahkan internasional.

Tangerang Bukan Lagi Satu Wilayah

Perjalanan industri Tangerang juga tidak bisa dilepaskan dari perubahan administrasi.

Wilayah yang dahulu dikenal sebagai satu kesatuan kemudian berkembang dan mengalami pemekaran menjadi tiga daerah: Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, dan Kota Tangerang Selatan.

Pemekaran itu membuat warisan industrialisasi Tangerang tersebar dalam tiga administrasi pemerintahan. Kawasan-kawasan industri tumbuh dengan karakter yang berbeda. Ada yang berkembang sebagai pusat manufaktur skala besar, ada yang bertumpu pada jasa dan kawasan perkotaan baru, sementara industri kecil dan menengah tetap hidup di sela-sela pertumbuhan modern.

Karena itu, menyebut Tangerang sebagai “daerah seribu industri” bukan sekadar ungkapan tentang banyaknya pabrik.

Di wilayah ini, sejarah industri berlapis-lapis.

Ada lapisan perkebunan kolonial yang melahirkan pabrik gula. Ada tungku genteng di tepian sungai. Ada kecap keluarga yang bertahan dari generasi ke generasi. Lalu datang gelombang manufaktur modern: sepatu, kertas, makanan, peralatan rumah tangga, keramik, otomotif, logistik, dan berbagai industri lain.

Dari Lapangan Bola ke Kawasan Industri

Mungkin di situlah ironi sejarah Cilenggang. Tempat yang dahulu menjadi bagian dari industri gula kini telah berubah. Cerobong dan mesin tidak lagi menjadi pusat kehidupan kawasan itu. Ruangnya berganti fungsi mengikuti kebutuhan zaman.

Tetapi perjalanan dari Pabrik Gula Cilenggang tetap penting untuk dibaca kembali. Ia menunjukkan bahwa industrialisasi Tangerang tidak muncul tiba-tiba bersama kawasan pabrik modern. Ada proses panjang sebelumnya.

Tangerang tumbuh dari tanah perkebunan dan jalur perdagangan. Kemudian ia memasuki era manufaktur. Setelah itu, pertumbuhan penduduk, jalan tol, bandara, pelabuhan, kawasan perumahan, dan jaringan logistik mempercepat perubahan.

Kini, ketika orang menyebut Tangerang sebagai kawasan industri, yang terbayang mungkin adalah gedung pabrik, pergudangan, dan truk besar yang mengantre di jalan.

Padahal, jauh sebelum itu, sejarah industri Tangerang mungkin telah dimulai dari sesuatu yang lebih sederhana: tebu yang digiling, tanah liat yang dibakar, dan kedelai yang difermentasi menjadi kecap.

Dari sana, sebuah wilayah perlahan belajar menjadi mesin ekonomi. Dan mesin itu, lebih dari dua abad kemudian, tampaknya masih terus bekerja. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *