JEJAK KATA, Tangerang — Menjaga keamanan sebuah wilayah tidak selalu dimulai dari pos penjagaan, apel, atau patroli. Kadang, ia berawal dari percakapan sederhana di tengah warga.
Senin, 31 Agustus 2026, Komandan Rayon Militer (Danramil) 14 Panongan, Kodim 0510/Tigaraksa, Kapten Arh. Syahrial Siregar, menjalankan salah satu bagian penting dari tugasnya: sambang ke masyarakat.
Tidak sekadar datang, menyapa, lalu pulang. Dalam sambang, seorang Danramil dituntut untuk mendengar. Keluh kesah warga, persoalan lingkungan, hingga hal-hal kecil yang barangkali tidak pernah muncul dalam laporan resmi.
Di tingkat kecamatan, komunikasi semacam itu menjadi bagian dari pembinaan teritorial. TNI berusaha menjaga hubungan dengan masyarakat melalui pendekatan yang lebih dekat dan humanis.
“Sambang ke rakyat, memberikan edukasi, dan ikut membantu persoalan dan kesulitan rakyat, ini memang menjadi salah satu tugas pokok kami sebagai prajurit TNI di wilayah teritorial, yang bersentuhan langusng dengan rakyat,” ujar Danramil.
Menurut Danramil, persoalan keamanan tidak selalu berbentuk gangguan yang sudah terjadi. Ada kalanya ia tumbuh perlahan dari persoalan sosial, kesalahpahaman antar warga, atau masalah lingkungan yang dibiarkan berlarut.
“Di situlah komunikasi sosial memiliki peran. Kami berinteraksi dengan tokoh masyarakat, tokoh agama, aparat pemerintah, maupun warga. Aspirasi diserap, persoalan didengar, dan potensi konflik diupayakan agar dapat dikenali sebelum membesar,” paparnya.
Pendekatan itu juga, kata Danramil, menempatkan Babinsa sebagai mata dan telinga teritorial di tingkat desa. Mereka berada lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari warga—mendampingi kegiatan masyarakat, membantu ketika terjadi bencana, hingga terlibat dalam kegiatan sosial.
Karena itu, sambang bukan sekadar agenda menemui masyarakat. Ia adalah cara untuk memastikan bahwa aparat tidak hanya mengetahui wilayah dari peta, laporan, dan data, tetapi juga dari cerita orang-orang yang tinggal di dalamnya.
Di tengah masyarakat, Danramil bukan hanya penjaga stabilitas wilayah. Ia juga menjadi bagian dari mata rantai komunikasi antara negara dan warga. Dan kadang, untuk menjaga sebuah wilayah tetap aman, yang dibutuhkan bukan suara yang lebih keras. Melainkan telinga yang lebih mau mendengar. (*






