INOVASI — Tidak semua sekolah memiliki laboratorium komputer yang lengkap. Tetapi keterbatasan perangkat tidak semestinya membuat siswa dan siswi berhenti bereksperimen dengan teknologi.
Persoalan itu yang coba dijawab tiga pelajar robotik SMA Negeri 1 Kota Tangerang Selatan, Salvina Woo Gyeul Al Khoriq, Erland Aleandro Rizqi, dan M. Rizky Ramadhan. Dengan bimbingan guru informatika, Muhammad Khoriq, mereka mengembangkan Smart Hub Koding Tool Kit, perangkat kecil untuk membuat pembelajaran coding mikrokontroler lebih sederhana dan praktis.
Smart Hub berukuran sekitar 7 x 7 x 2 sentimeter. Di dalamnya terdapat ESP32, layar OLED, serta konektor untuk sensor dan aktuator. Perangkat ini dirancang agar siswa dapat melakukan eksperimen tanpa harus berhadapan dengan rangkaian kabel dan perangkat yang rumit.
Gagasan itu berangkat dari persoalan yang mereka temukan dalam proses belajar. Tantangannya bukan semata-mata kurangnya perangkat, tetapi bagaimana waktu belajar siswa tidak habis untuk menyiapkan perangkat dan memperbaiki persoalan teknis.
“Belajar coding tidak seharusnya dimulai dari kerumitan perangkat, tetapi dari rasa ingin tahu,” kata Muhammad Khoriq, guru pembimbing tim pengembang Smart Hub saat ditemui dalam kegiatan Gelar Teknologi Tepat Guna di Eco Plaza CitraRaya Tangerang, Rabu, 02 September 2026.
Dalam konsep Smart Hub, proses yang biasanya melewati tahapan compile, flash, wait, dan run dipangkas menjadi code, save, tap, run. Siswa menulis atau memodifikasi kode, menyimpannya, kemudian menyentuh perangkat untuk menjalankannya. Program disebut dapat dieksekusi dalam sekitar 2–3 detik.
Perubahan kecil itu memiliki tujuan yang lebih besar: memberi siswa lebih banyak waktu untuk mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba kembali.
Dari Layar ke Dunia Nyata

Kehadiran kecerdasan artifisial membuat kemampuan coding juga menghadapi pertanyaan baru. Jika AI sudah dapat membantu menulis kode, untuk apa siswa masih harus belajar pemrograman?
Jawabannya, menurut konsep yang dibangun tim Smart Hub, bukan sekadar kemampuan mengetik baris kode. Siswa tetap perlu memahami masalah, menyusun logika, menguji gagasan, menemukan kesalahan, dan membangun solusi.
Karena itu, Smart Hub tidak dirancang untuk menggantikan AI. Ketiganya justru ditempatkan dalam satu alur: AI membantu menciptakan ide, coding menerjemahkan ide menjadi instruksi, dan Smart Hub membawa instruksi itu ke dunia nyata.
“AI membantu ide. Coding menerjemahkan ide. Smart Hub mewujudkan ide,” ujar Khoriq.
Perangkat ini juga dibuat dengan konsumsi daya sekitar 3–7 watt dan bersifat portabel. Dengan desain tersebut, pembelajaran tidak sepenuhnya bergantung pada keberadaan laboratorium komputer.
Yang ditawarkan tiga siswa itu pada akhirnya bukan hanya sebuah perangkat keras. Smart Hub diposisikan sebagai jembatan agar lebih banyak siswa dapat beranjak dari pengguna teknologi menjadi pencipta teknologi.
Tim pengembang juga membuka konsep Smart Hub sebagai platform yang dapat dikembangkan, diteliti, dan direplikasi. Modul pembelajaran, code editor, sistem penilaian, hingga pemantauan perkembangan siswa dirancang menjadi bagian dari ekosistem pembelajaran.
Dari sebuah perangkat kecil, persoalan yang mereka bidik sebenarnya cukup besar: bagaimana memastikan kesempatan belajar teknologi tidak berhenti di sekolah yang memiliki fasilitas lengkap.
Smart Hub lahir dari laboratorium robotik sebuah SMA. Tetapi gagasannya diarahkan jauh melampaui laboratorium itu—ke sekolah yang mungkin hanya memiliki komputer terbatas, listrik sederhana, atau bahkan belum memiliki fasilitas coding yang memadai.
Sebab, untuk mulai belajar teknologi, barangkali yang paling penting bukan komputer yang mahal. Yang dibutuhkan lebih dulu adalah rasa ingin tahu, kesempatan untuk mencoba, dan ruang untuk gagal. (*






