Jejak KataSeni dan Hiburan

Jejak Karya Ikhwan Wicaksono: Dari Kanvas hingga Tembok-tembok Kosong

×

Jejak Karya Ikhwan Wicaksono: Dari Kanvas hingga Tembok-tembok Kosong

Sebarkan artikel ini
Ikhwan Wicaksono dengan karya lukisan kanvasnya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

BUDAYA — Tembok bagi sebagian orang hanyalah batas. Bagi Ikhwan Wicaksono, dinding adalah bidang kosong yang menunggu cerita.

Kuas, cat, dan permukaan beton menjadi medium yang ia gunakan untuk mengubah ruang biasa menjadi lebih hidup. Dari dinding ruang publik, kafe, restoran, sekolah, hingga hunian pribadi, Ikhwan mengembangkan profesinya sebagai seniman mural dan penyedia jasa lukis dinding asal Tangerang.

Tidak ada satu gaya yang mengikat karyanya. Hari ini ia dapat mengerjakan lanskap hutan tropis. Pada kesempatan lain, dinding berubah menjadi dunia bawah laut, pedesaan, atau karakter hewan yang akrab bagi anak-anak.

Keluwesan itu menjadi salah satu ciri pekerjaannya. Mural tidak sekadar dipasang untuk mempercantik ruangan, tetapi juga disesuaikan dengan karakter tempat dan keinginan pemiliknya.

Di ruang anak, misalnya, ia menggarap tema fabel dan hewan. Sekolah menjadi ruang untuk menghadirkan gambar yang lebih edukatif. Kamar anak bahkan dapat berubah menjadi lapangan sepak bola dalam bentuk visual.

Dinding, bagi Ikhwan, bukan sekadar tempat menaruh gambar. Ia menjadikannya bagian dari suasana sebuah ruang.

Ketika Budaya Masuk ke Dinding

Mural juga memberinya ruang untuk membawa identitas lokal ke permukaan yang lebih dekat dengan masyarakat. Salah satu tema yang digarapnya adalah kebudayaan Betawi.

Pilihan tema semacam itu menunjukkan bahwa mural tidak selalu harus berbicara dalam bahasa visual yang modern. Unsur budaya dapat diterjemahkan menjadi gambar yang lebih populer dan mudah ditemui dalam keseharian.

Di sisi lain, dunia komersial menawarkan kebutuhan yang berbeda. Warkop, restoran, dan kafe membutuhkan identitas visual yang mampu membuat tempat mereka mudah dikenali. Ikhwan mengerjakan mural dengan pendekatan modern, dekoratif, doodle art, hingga memasukkan unsur logo atau identitas merek.

Di sinilah pekerjaan mural bersinggungan dengan dunia desain. Sebuah dinding tidak lagi hanya menjadi latar, melainkan bagian dari wajah sebuah usaha.

Pengunjung memotret dinding. Foto itu kemudian berpindah ke media sosial. Mural pun bekerja sebagai dekorasi sekaligus penanda sebuah tempat.

Dari Dinding ke Kanvas

Kesibukan mengerjakan mural tidak membuat Ikhwan meninggalkan lukisan konvensional. Ia juga melukis di atas kanvas dan aktif mengikuti sejumlah pameran seni di Jakarta.

Perpindahan medium itu memperlihatkan dua dunia yang berjalan beriringan. Mural menuntut kemampuan beradaptasi dengan ruang, ukuran bidang, karakter bangunan, dan permintaan klien. Kanvas memberi ruang yang berbeda bagi eksplorasi personal sebagai perupa.

Pada mural, ia berhadapan dengan dinding yang sudah memiliki bentuk dan fungsi. Pada kanvas, ruang itu lebih bebas. Namun keduanya memiliki titik temu: gagasan yang diterjemahkan menjadi gambar.

Ikhwan juga memanfaatkan media sosial untuk mendokumentasikan proses berkaryanya, termasuk melalui video time-lapse. Dari sana, publik tidak hanya melihat hasil akhir sebuah mural, tetapi juga perjalanan sebuah bidang kosong menjadi karya visual.

Bagi seniman mural, proses itu penting. Sebab hasil akhir yang tampak sederhana sering menyembunyikan pekerjaan panjang: menentukan konsep, membuat sketsa, memilih warna, mengolah bidang, kemudian membangun gambar sedikit demi sedikit.

Pada akhirnya, karya Ikhwan berbicara tentang cara sederhana melihat ruang. Dinding yang sebelumnya hanya dilewati dapat berubah menjadi lanskap, cerita, identitas budaya, atau bahkan wajah sebuah usaha.

Tangerang menjadi titik berangkatnya. Jabodetabek menjadi ruang jelajahnya. Dan tembok-tembok yang semula bisu menjadi tempat ia meninggalkan jejak warna. Di tangan Ikhwan Wicaksono, tembok tidak berhenti sebagai tembok. Ia bisa menjadi kanvas yang bercerita. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *