EsaiJejak Kata

Makan Bergizi Gratis dan Ompreng Kepercayaan yang Mulai Meleyot

×

Makan Bergizi Gratis dan Ompreng Kepercayaan yang Mulai Meleyot

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

OPINI — Seompreng makanan gratis semestinya membawa kabar baik: anak kenyang, gizi terpenuhi, orang tua sedikit lega. Tapi ketika makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) diduga membuat anak-anak sakit di sejumlah daerah, persoalannya tak lagi berhenti di dapur.

Yang sedang diuji adalah kemampuan negara menjaga makanan tetap aman dari dapur sampai meja makan.

Sejumlah pemberitaan melaporkan kejadian gangguan kesehatan yang dikaitkan dengan konsumsi MBG di berbagai daerah. Kasus kembali muncul pada awal September, antara lain di Rembang, Jawa Tengah, ketika ratusan siswa dan guru dilaporkan mengalami gejala setelah mengonsumsi makanan program tersebut.

Tentu, setiap kejadian perlu dibuktikan melalui pemeriksaan medis dan laboratorium. Tetapi kemunculan kasus berulang layak menjadi alarm. Pemerintah tak cukup mengatakan ini sebagai insiden. Yang lebih penting adalah mencari apakah ada celah dalam sistem. Sebab bakteri tak peduli target kinerja.

Jangan Cuma Menghitung Kotak

MBG adalah program dengan skala besar. Karena itu, standar pengamanannya tak bisa sekadar mengandalkan niat baik dan dapur yang terlihat bersih.

Ada bahan baku, air, peralatan, proses memasak, suhu penyimpanan, waktu distribusi, transportasi, hingga lama makanan menunggu sebelum disantap. Semua mata rantai itu menentukan keamanan pangan. Maka ukuran keberhasilan MBG jangan berhenti pada jumlah kotak yang dibagikan.

Berapa dapur yang lolos audit? Berapa bahan baku yang ditolak? Berapa makanan yang ditarik sebelum dikonsumsi? Berapa insiden yang berhasil dicegah?

Kalau yang dihitung hanya kotak makanan, birokrasi bisa tersenyum melihat angka. Perut anak-anak, sayangnya, tidak mengenal indikator kinerja.

Jangan Sampai “Asal Bapak Senang”

Program nasional selalu punya godaan lama: target lebih cepat daripada evaluasi. Di sinilah ungkapan asal bapak senang menjadi relevan sebagai sindiran. Jangan sampai laporan pelaksanaan terlihat mulus, sementara persoalan di lapangan dipoles menjadi catatan kaki.

Jika sebuah dapur diduga bermasalah, hentikan sementara untuk diperiksa. Jika bahan baku tak memenuhi standar, jangan dipaksakan. Jika distribusi terlambat dan berisiko terhadap keamanan makanan, jangan pura-pura semua baik-baik saja.

Lebih baik satu dapur berhenti sementara daripada masalah berkembang menjadi kejadian yang lebih luas. Itu bukan anti-MBG. Itu namanya eling lan waspada.

Pengawasan Jangan Jadi Formalitas

Pemerintah perlu memperkuat audit keamanan pangan secara berkala dan independen. Pemeriksaan tidak cukup dengan mengecek berkas. Dapur harus dilihat langsung: sumber air, penyimpanan bahan, kebersihan peralatan, kondisi pekerja, proses memasak, suhu makanan, hingga distribusinya.

Setiap dugaan kejadian keracunan juga perlu ditangani cepat. Makanan dan bahan baku harus diamankan untuk pemeriksaan. Korban harus mendapat penanganan. Penyebabnya harus ditelusuri berdasarkan bukti.

MBG juga membutuhkan sistem traceability. Makanan harus dapat dilacak dari bahan baku hingga dikonsumsi siswa. Ayam dari mana? Telur dibeli kapan? Dimasak pukul berapa? Disimpan pada suhu berapa? Dikirim kapan? Siapa penerimanya?

Tanpa jejak yang jelas, investigasi bisa berubah menjadi golek dom ing tumpukan damen—mencari jarum di tumpukan jerami.

Jangan “Mendem” Masalah

Ada ungkapan Jawa mikul dhuwur mendhem jero. Dalam konteks pelayanan publik, ungkapan itu jangan dipakai untuk mengubur masalah.

Jika ada dapur bermasalah, publik perlu tahu hasil pemeriksaannya. Jika penyebabnya bahan baku, katakan. Jika distribusi menjadi persoalan, jelaskan. Jika prosedur dilanggar, perbaiki.

Transparansi bukan musuh program pemerintah. Justru keterbukaan dapat menjadi cara memperbaiki kepercayaan.

Orang tua menyerahkan sebagian tanggung jawab makan anak kepada negara. Karena itu, mereka berhak mendapat kepastian bahwa makanan yang diterima anak bukan hanya bergizi, tetapi juga aman.

Kritik Bukan Berarti Menolak MBG

Mengkritik MBG bukan berarti menolak anak mendapatkan makanan bergizi. Justru sebaliknya: anak berhak mendapatkan keduanya—bergizi dan aman. Tidak boleh memilih salah satu.

Karena makanan bergizi yang tidak aman bukan keberhasilan setengah. Ia tetap persoalan yang harus diperbaiki.

Pemerintah tak perlu alergi terhadap kritik. Jika standar kurang, naikkan. Jika pengawasan lemah, perkuat. Jika dapur tak memenuhi syarat, evaluasi. Jika ada kesalahan, akui dan perbaiki. Tak perlu kebacut mempertahankan sesuatu hanya karena program sudah berjalan.

Seompreng Kepercayaan

Pada akhirnya, MBG bukan hanya perkara nasi, lauk, telur atau sayuran. Ia adalah kontrak kepercayaan. Orang tua berharap negara membantu memastikan anak mereka tumbuh sehat. Maka negara harus memastikan seompreng makanan itu melewati sistem keamanan yang layak.

Ukuran keberhasilan MBG bukan sekadar berapa juta ompreng sampai ke sekolah. Ukuran yang lebih sederhana: anak makan, kenyang, bergizi, sehat—lalu pulang tanpa perlu dibawa ke rumah sakit.

Negara tentu boleh mengejar target. Tetapi jangan sampai target yang kenyang, sistem yang lapar. Sebab program besar tidak harus bebas dari kesalahan. Yang penting, kesalahan tidak ditutup-tutupi, diperiksa dengan serius, diperbaiki, dan tidak diulang.

Ompreng MBG akhirnya bukan cuma soal makanan. Ia adalah seompreng kepercayaan. Dan kepercayaan, sekali meleyot, tidak cukup diluruskan dengan angka pencapaian. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *