BUDAYA — Jika Banten memiliki Baduy dan di Blora ada komunitas Samin, Banyumas mempunyai Bonokeling. Komunitas masyarakat adat ini bermukim di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang. Di tempat inilah tradisi, ingatan leluhur, dan tata kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Asal-usul Bonokeling yang berkembang di tengah komunitas Pekuncen sendiri merupakan sejarah lisan yang diwariskan antar generasi. Keterangan ini bersumber dari cerita para leluhur yang terus dituturkan masyarakat adat, bukan dari dokumen sejarah tertulis yang sedang diverifikasi dalam tulisan ini.
Kiai Sumitro, keturunan ke-14 yang menjadi pimpinan adat komunitas Bonokeling, menuturkan bahwa Bonokeling bukan semata nama seseorang. Sebutan itu telah menjadi identitas yang melekat pada komunitas dan tradisinya. Adapun nama asli tokoh yang menjadi sumber sejarah lisan komunitas tersebut, menurut dia, tidak dipublikasikan.
“Kalau yang terkenal adalah Bonokeling,” kata Kiai Sumitro kepada Jejak Kata dalam sebuah kesempatan.
Dalam penuturan Kiai Sumitro, leluhur komunitas Bonokeling disebut berasal dari Pasir Luhur. Ketika Islam berkembang di tanah Jawa dan terjadi perubahan dalam kehidupan kerajaan, para leluhur itu dipercaya berpindah hingga kemudian bermukim di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Pekuncen.
“Kalau cerita tentang sejarah Bonokeling itu memang dari para leluhur dulu menceritakan Bonokeling adalah berasal dari Pasir Luhur,” paparnya.
Ketika leluhur Bonokeling tiba di Pekuncen, menurut Kiai Sumitro, kawasan itu masih berupa hutan. Mereka membuka lahan dan bercocok tanam. Dari kehidupan agraris itu kemudian berkembang tata sosial, kelompok adat, serta tradisi yang hingga kini masih dijalankan masyarakat.
Komunitas itu kemudian membentuk struktur adat. Ada satu jurukunci dan lima bedogol. Jurukunci menjadi pemimpin adat, sedangkan bedogol membantu menjalankan kehidupan adat. Struktur tersebut berkembang seiring bertambahnya masyarakat.
Tradisi Bonokeling juga tidak berhenti di Pekuncen. Setiap tahun, warga dari berbagai wilayah, termasuk Cilacap, datang kembali. Kepulangan itu seperti benang yang menghubungkan mereka dengan simpul asal-usul. Jarak boleh memanjang, tetapi ingatan memiliki jalan pulangnya sendiri.

Kehidupan adat berjalan mengikuti penanggalan yang mereka gunakan. Ada kegiatan puji-pujian, rangkaian tradisi pada Sapar dan Mulud, hingga kegiatan besar pada Syawal. Pada momentum Syawal, tata cara komunitas Bonokeling berbeda dari kebiasaan umat Islam pada umumnya. Setelah salat Idul Fitri menurut perhitungan mereka, warga berziarah ke makam Bonokeling, kemudian berkumpul di balai desa untuk sungkeman dan selamatan.
Namun, inti kehidupan Bonokeling barangkali tidak hanya terletak pada ritual. Kiai Sumitro menyebut ada lima pegangan: japa atau doa, sarana, ilmu, laku, dan tapa.
Doa menjadi awal. Tetapi manusia tidak boleh berhenti pada permohonan. Ada sarana, yakni usaha. Ada ilmu sebagai bekal pengetahuan. Kemudian ada laku, perilaku yang menjadi ukuran bagaimana seseorang menjalani kehidupan. Terakhir tapa, yakni kemampuan mengendalikan hawa nafsu.
“Tidak cukup hanya doa, harus ada sarana. Sarana kita harus usaha,” katanya.
Bagi Kiai Sumitro, bagian yang paling berat justru laku. Sebab manusia bisa mengucapkan doa dengan mudah, bisa mempelajari ilmu, bahkan bisa merencanakan usaha. Tetapi perilaku sehari-hari adalah tempat semua ajaran diuji.
“Lakunya yang paling sulit itu. Orang kalau misalnya di dunia ini yang kita harapkan adalah lakunya itu,” ucapnya.
Di sinilah ajaran Bonokeling terasa dekat dengan kehidupan siapa pun. Doa tanpa usaha mudah berubah menjadi penantian. Ilmu tanpa perilaku hanya tinggal pengetahuan. Sedangkan usaha tanpa kendali diri dapat kehilangan arah.
Tapa, dalam penjelasan Kiai Sumitro, berkaitan dengan hawa nafsu—segala dorongan yang dapat membawa manusia kepada kerusakan.
“Tidak harus muluk-muluk, biasa, apa adanya,” katanya.
Barangkali justru di kalimat sederhana itu tersimpan inti ajaran Bonokeling. Hidup tidak selalu membutuhkan rumus yang rumit. Yang dibutuhkan adalah kesanggupan menjalankannya: berdoa ketika berharap, berusaha ketika menginginkan sesuatu, belajar ketika tidak tahu, menjaga laku ketika berhadapan dengan orang lain, dan menahan diri ketika keinginan mulai mengambil alih.
Di Pekuncen, tradisi tidak hanya disimpan sebagai benda masa lalu. Ia dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dan seperti tanah yang dahulu dibuka leluhur mereka, ajaran itu terus ditanami. Generasi berganti, zaman bergerak, tetapi sebagian nilai tetap tumbuh—pelan, sederhana, dan menunggu dipanen oleh mereka yang bersedia menjalankannya. (*






