FAUNA – Tubuhnya pendek. Kakinya seperti tidak selesai tumbuh. Sayapnya sedikit menjuntai, sementara ekor si jantan justru berdiri mekar, seolah ingin mengimbangi ukuran tubuhnya yang serba mini.
Begitulah, di antara ayam-ayam berpostur besar, ayam kate memang punya cara sendiri untuk mencuri perhatian. Ia tidak membutuhkan kandang luas atau lahan peternakan berhektar-hektar. Pekarangan rumah pun bisa menjadi panggungnya.
Namun, keunikan ayam ini bukan semata perkara ukuran. Ada cerita perdagangan lintas benua yang melekat pada namanya. Dari sebuah pelabuhan di Banten, ayam kecil ini dipercaya ikut memperkenalkan istilah bantam ke berbagai negara.
Jejak sejarah dari pelabuhan Banten
Nama bantam bukan muncul begitu saja. Istilah dalam bahasa Inggris untuk ayam berukuran kecil itu berkaitan dengan nama Banten, wilayah di ujung barat Pulau Jawa yang pernah menjadi salah satu pusat perdagangan penting di Asia Tenggara.
Dalam buku Pengantar Etimologi terbitan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, 2013, linguis Bernd Nothofer menjelaskan hubungan antara nama Banten dan Bantam.
Catatan tersebut menguraikan bagaimana pedagang Portugis mengubah pengucapan Banten menjadi Bantam. Perubahan itu berkaitan dengan sistem bunyi bahasa Portugis yang tidak menggunakan konsonan nasal pada akhir kata.
Nama Bantam kemudian digunakan pula untuk menyebut ayam kerdil yang berasal dari kawasan Banten. Ayam tersebut dikenal memiliki tubuh kecil, lincah, dan agresif. Pada masa itu, ayam kecil tersebut juga dipelihara sebagai ayam aduan.
Ketika unggas itu dibawa ke Eropa melalui jalur perdagangan, nama Bantam ikut menyeberangi lautan. Istilah tersebut kemudian dikenal luas untuk menyebut ayam berukuran mini.
Ada hal menarik dalam perjalanan sejarahnya. Banten tidak hanya dikenal melalui lada dan aktivitas perdagangan maritim. Nama wilayah ini juga meninggalkan jejak dalam dunia perunggasan internasional.
Bukan sekadar ayam berukuran kecil
Ayam kate atau ayam katai merupakan sebutan untuk ayam yang memiliki ukuran tubuh jauh lebih kecil dibandingkan ayam biasa.
Dalam dunia perunggasan internasional, istilah bantam mencakup kelompok ayam mini dengan karakteristik yang beragam. Ada ayam katai alami yang tidak mempunyai pasangan ras berukuran besar. Ada pula ayam mini hasil pengembangan dari rumpun ayam berukuran normal.
Secara fisik, ayam kate umumnya memiliki tubuh pendek, kaki relatif kecil, sayap yang cenderung menjuntai, serta ekor yang dapat berkembang cukup lebar.
Ayam jantan biasanya mempunyai jengger lebih menonjol, bulu leher lebih panjang, dan ekor yang lebih dekoratif. Warna bulunya bervariasi, mulai dari putih, hitam, cokelat, keemasan, hingga kombinasi beberapa warna.
Bobot tubuhnya juga tidak seragam. Penelitian Raka Kovara dari Universitas Lambung Mangkurat yang dipublikasikan pada 2024 mengukur 60 ekor ayam kate. Hasilnya, bobot rata-rata ayam jantan mencapai 510 gram, sedangkan betina 411,6 gram.
Angka tersebut merupakan hasil pengukuran sampel penelitian, bukan standar mutlak semua ayam kate. Perbedaan rumpun, umur, kondisi pemeliharaan, dan faktor genetik dapat memengaruhi ukuran tubuhnya.
Apakah ayam kate endemik Banten?
Pertanyaan ini menarik karena nama internasionalnya memang berkaitan dengan Banten. Namun, ada perbedaan antara asal-usul historis ayam Banten dan persebaran ayam kate modern.
Ayam kecil yang dahulu dikenal di kawasan Banten merupakan bagian dari sejarah ayam lokal Indonesia. Nothofer mencatat ayam Banten sebagai ayam kerdil yang memiliki karakter agresif dan pernah digunakan untuk aduan.
Akan tetapi, ayam kate yang sekarang dipelihara di berbagai negara tidak seluruhnya berasal dari satu populasi yang sama. Perkembangan peternakan, seleksi, dan persilangan melahirkan beragam bentuk ayam bantam.
Karena itu, menyebut seluruh ayam kate sebagai satwa endemik Banten akan terlalu jauh. Ayam kate merupakan kelompok ayam domestik, bukan spesies satwa liar yang secara biologis hanya hidup di wilayah Banten.
Dalam penelitian A.G. Nataamijaya berjudul The Native Chicken of Indonesia yang diterbitkan Sekretariat Komisi Nasional Plasma Nutfah pada 2000, ayam Banten tercantum sebagai salah satu dari 31 rumpun ayam lokal yang diidentifikasi di Indonesia.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa ayam Banten memiliki tempat dalam dokumentasi sumber daya genetik unggas lokal. Namun, identitas ayam Banten tidak otomatis dapat disamakan dengan semua varietas ayam kate yang beredar sekarang.

Populasi yang belum tercatat secara khusus
Di sinilah persoalan menariknya. Ayam kate dikenal luas sebagai ayam hias, tetapi angka populasinya di Indonesia belum mudah ditemukan.
Statistik peternakan nasional umumnya mengelompokkan ayam berdasarkan kategori produksi, seperti ayam ras pedaging, ayam ras petelur, dan ayam buras atau ayam lokal.
Data Badan Pusat Statistik mengenai populasi unggas juga tidak menyediakan kategori tersendiri untuk ayam kate.
Artinya, belum ada dasar statistik yang cukup untuk menyebut berapa jumlah ayam kate di Indonesia, apakah populasinya meningkat, atau berapa banyak yang masih memiliki karakter genetik ayam Banten asli.
Ketiadaan angka khusus ini tidak berarti ayam kate langka atau terancam punah. Kesimpulan mengenai status populasinya memerlukan pendataan lapangan, identifikasi rumpun, serta penelitian genetik.
Sementara itu, ayam kate terus dipelihara oleh penghobi, kolektor ayam hias, peternak rumahan, hingga pembudidaya yang menjadikannya komoditas perdagangan.
Dari ayam aduan menjadi penghuni pekarangan
Fungsi ayam kate mengalami perubahan seiring perkembangan zaman. Dalam catatan sejarah, ayam kecil dari Banten disebut memiliki sifat agresif dan digunakan sebagai ayam aduan. Kini, sebagian besar ayam kate yang dijumpai dalam perdagangan hobi lebih dikenal sebagai ayam hias.
Penampilannya menjadi daya tarik utama. Ukurannya yang kecil membuatnya relatif mudah dipelihara di pekarangan, sementara variasi bulunya memberi nilai tersendiri bagi kolektor.
Perkembangan persilangan juga membuat ayam kate memiliki banyak variasi. Ada kate putih, kate hitam, kate emas, kate batik, hingga berbagai varietas bantam yang dikembangkan di luar negeri.
Salah satu ayam mini yang kemudian populer adalah Serama dari Malaysia. Ayam ini dikembangkan melalui program persilangan dan seleksi oleh penghobi di Kelantan pada dekade 1970-an.
Serama memiliki karakter khas: dada membusung, sayap menjuntai, kepala tegak, dan postur yang tampak angkuh. Meski sering disandingkan dengan ayam kate, Serama memiliki identitas rumpun tersendiri.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana ayam mini tidak lagi hanya menjadi bagian dari peternakan tradisional. Ia berkembang menjadi komoditas hobi, kontes, dan perdagangan lintas negara.
Menjaga jejak genetik ayam lokal
Di balik daya tariknya sebagai ayam hias, ada pekerjaan yang belum selesai: memastikan asal-usul dan identitas rumpun ayam lokal tetap terdokumentasi.
Persilangan memang menghasilkan variasi penampilan yang menarik. Namun, jika tidak disertai pencatatan silsilah, karakter ayam lokal tertentu dapat semakin sulit dikenali.
Ayam Banten, misalnya, memiliki nilai historis yang berbeda dari ayam kate hasil persilangan modern. Keduanya tidak seharusnya dicampuradukkan hanya karena sama-sama berukuran kecil.
Pendataan peternak, dokumentasi karakter fisik, pencatatan perkawinan, dan penelitian genetik menjadi penting untuk mengetahui sejauh mana garis keturunan ayam lokal masih dipertahankan.
Ayam kate mungkin hanya membutuhkan sedikit ruang untuk hidup. Namun, sejarahnya melintasi ruang yang jauh lebih luas: dari pekarangan masyarakat Banten menuju pelabuhan perdagangan, lalu menjadi istilah yang dikenal dunia. Tubuhnya boleh mungil. Jejak sejarahnya tidak. (*







