OTOMOTIF — Dari kendaraan bermesin dua silinder buatan Jerman yang harus dipanaskan dengan spiritus hingga skuter matik yang bisa dinyalakan dengan satu sentuhan tombol, perjalanan sepeda motor di Indonesia adalah cerita tentang perubahan zaman. Kini, Honda BeAT menjadi salah satu nama paling kuat dalam perburuan motor masyarakat. Kecil, irit, praktis, dan tak terlalu menguras dompet.
Ada masa ketika sepeda motor merupakan barang mewah yang hanya bisa dipamerkan segelintir orang. Kini, kendaraan roda dua justru menjadi teman berangkat kerja, mengantar anak sekolah, mengangkut dagangan, hingga menemani perjalanan pulang ketika angkutan umum sudah menyerah.
Salah satu wajah paling populer dari perubahan itu adalah Honda BeAT. Skutik produksi PT Astra Honda Motor ini menjadi pilihan masyarakat yang mengutamakan kepraktisan. Meski data penjualan resmi AISI tidak merinci peringkat setiap model, BeAT konsisten disebut sebagai salah satu motor paling diminati di pasar Indonesia.
Data AISI mencatat penjualan sepeda motor nasional mencapai 5.016.421 unit sepanjang Januari-September 2026. September menjadi bulan paling bergairah dengan distribusi 654.343 unit. Angka itu menunjukkan betapa besarnya pasar kendaraan roda dua di Indonesia.
Dari Probolinggo, sejarah itu dimulai
Jauh sebelum BeAT memenuhi jalanan, sepeda motor pertama sudah tiba di Hindia Belanda pada 1893. Kendaraan itu adalah Hildebrand und Wolfmüller buatan Jerman yang dipesan John C. Potter, seorang masinis di Pabrik Gula Oemboel, Probolinggo, Jawa Timur.
Mesinnya dua silinder berkapasitas 1.489 cc. Untuk menyalakannya, bagian mesin harus dipanaskan menggunakan spiritus. Pilihan lainnya, motor didorong hingga mesin hidup. Kecepatan maksimumnya sekitar 35 kilometer per jam.
Sepeda motor kemudian berkembang dari barang eksklusif menjadi kendaraan masyarakat. Merek Jepang seperti Honda, Yamaha, Suzuki, dan Kawasaki memperluas pasar sejak dekade 1960-an. Era motor bebek dan sport kemudian bergeser ketika skuter matik mulai mengambil hati konsumen pada 2000-an.
Kini, persaingan memasuki babak baru. Motor listrik mulai menawarkan alternatif, sementara skutik berbahan bakar bensin masih mendominasi kebutuhan mobilitas harian.
Mesin kecil, pekerjaan besar
Honda BeAT generasi terbaru mengandalkan mesin 109,5 cc, empat langkah, SOHC, berteknologi eSP dengan sistem injeksi PGM-FI. Tenaga maksimalnya 6,6 kW atau sekitar 9 PS pada 7.500 rpm, dengan torsi 9,2 Nm pada 6.000 rpm.
Motor ini menggunakan transmisi otomatis V-Matic, rangka eSAF, suspensi depan teleskopik, dan sistem pengereman Combi Brake System. Bobotnya sekitar 87–88 kilogram, sehingga relatif mudah dikendalikan untuk aktivitas perkotaan.
Beberapa varian menawarkan fitur Idling Stop System dan Smart Key. Bagasinya berkapasitas sekitar 12 liter, cukup untuk menyimpan perlengkapan kecil sehari-hari.
Keunggulan BeAT bukan terletak pada kecepatan atau tenaga besar. Ia menawarkan kombinasi efisiensi, kelincahan, kemudahan pengoperasian, dan jaringan bengkel yang luas.
Urusan penampilan juga tidak dilupakan. Desain bodinya kompak, dengan pilihan warna yang menyasar pengendara muda maupun pengguna yang menginginkan kendaraan sederhana. BeAT Street menawarkan karakter lebih ekspresif dengan setang terbuka dan gaya urban.
Jangan hanya pandai mengendarai
Motor irit sekalipun bisa berubah menjadi sumber pengeluaran jika pemiliknya malas merawat.
Penggantian oli mesin harus mengikuti jadwal dalam buku pedoman pemilik. Filter udara perlu diperiksa dan dibersihkan atau diganti sesuai kondisinya. Kondisi busi, aki, sistem injeksi, serta tekanan ban juga jangan diabaikan.
Pengendara perlu memeriksa ketebalan kampas rem, kondisi ban, dan fungsi lampu. Gunakan bahan bakar sesuai rekomendasi pabrikan. Hindari kebiasaan memaksakan mesin ketika oli sudah waktunya diganti.
Servis berkala di bengkel resmi atau bengkel tepercaya menjadi investasi agar kendaraan tetap nyaman dan aman.
Dari barang mewah menjadi kebutuhan
Perjalanan dari Hildebrand und Wolfmüller hingga Honda BeAT memperlihatkan satu perubahan besar: sepeda motor bukan lagi sekadar simbol kemajuan teknologi, melainkan bagian dari denyut ekonomi masyarakat.
Industri nasional pun tumbuh menjadi kekuatan manufaktur. Hingga September 2026, ekspor sepeda motor utuh mencapai 487.940 unit, sedangkan ekspor dalam bentuk CKD mendekati 5,98 juta set.
Kini, tantangan berikutnya adalah transisi menuju kendaraan listrik. Namun, selama harga, infrastruktur pengisian daya, dan layanan purnajual masih menjadi pertimbangan, motor bensin belum kehilangan tempatnya.
Dari mesin yang harus dipanaskan dengan spiritus hingga teknologi injeksi modern, sepeda motor telah melewati lebih dari satu abad perubahan.
Honda BeAT mungkin bukan motor paling mewah atau paling kencang. Tetapi di jalanan Indonesia, popularitasnya membuktikan satu hal: masyarakat tidak selalu mencari kendaraan yang paling hebat. Mereka mencari kendaraan yang paling masuk akal untuk kehidupan sehari-hari. Dan rupanya, dalam urusan itu, motor kecil masih punya panggung besar. (*






