HeadlineLiputan

Rambutan Parakan, Varietas Tangerang yang Berjuang Melawan Kepunahan

×

Rambutan Parakan, Varietas Tangerang yang Berjuang Melawan Kepunahan

Sebarkan artikel ini
Adi Mulyana, petani pembudidaya sekaligus penggiat pelestarian Rambutan Parakan, menunjukkan salah satu pohon indukan Rambutan Parakan yang berada di UPTD Produksi Benih, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

JEJAK KATA, Tangerang – Rambutan Parakan merupakan salah satu varietas buah lokal asal Kabupaten Tangerang, Banten, yang memiliki karakteristik khas. Buahnya berwarna merah kehitaman ketika matang, memiliki rambut kulit berwarna merah dan kaku, serta daging buah berwarna putih agak kekuningan dengan rasa manis.

Namun, keberadaan varietas lokal tersebut menghadapi tantangan regenerasi. Jumlah pohon indukan yang semakin terbatas membuat upaya pengembangan dan pelestariannya perlu mendapat perhatian.

Adi Mulyana, petani pembudidaya sekaligus penggiat pelestarian Rambutan Parakan, berupaya melanjutkan usaha keluarganya dalam menjaga keberadaan varietas tersebut. Ia merupakan anak Sarmili, pemilik pohon indukan Rambutan Parakan di Desa Mekarwangi, Kecamatan Cisauk, yang sebelumnya menjadi objek penelitian Kementerian Pertanian.

Buah rambutan parakan yang sebentar lagi bisa dipanen di UPTD Produksi Benih, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Menurut Adi, keberadaan pohon indukan di wilayahnya kini semakin terbatas. Pun demikian, pemerintah daerah telah mengembangkan enam pohon indukan di UPTD Produksi Benih, Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang.

“Kalau yang di Mekarwangi tinggal satu. Di UPTD sudah ada enam indukan. Setidaknya yang di UPTD lebih aman karena menjadi milik pemerintah daerah,” kata Adi saat ditemui di UPTD tersebut, Kamis (5/11/2026).

Adi menjelaskan, penyebaran Rambutan Parakan saat ini telah menjangkau enam kecamatan, yakni Cisauk, Legok, Pagedangan, Curug, Kelapa Dua, dan Panongan. Sebagian besar persebarannya masih berada di wilayah yang berdekatan dengan lokasi asal pohon indukan.

Untuk memperluas budidaya, pembagian bibit kepada masyarakat terus dilakukan, terutama di Kecamatan Cisauk. Permintaan bibit juga datang dari sejumlah warga yang ingin menanam varietas tersebut di pekarangan maupun lahan pertanian. Penyalurannya dilakukan melalui permohonan resmi agar distribusi dapat terkoordinasi.

Dalam proses pembibitan, Rambutan Parakan dapat dikembangkan melalui biji yang digunakan sebagai batang bawah, kemudian disambung menggunakan teknik okulasi. Metode cangkok dan sambung pucuk juga dapat diterapkan untuk mempercepat masa berbuah.

Adi mengatakan, proses okulasi membutuhkan pemilihan bahan tanaman dan waktu yang tepat. Entres atau batang atas yang digunakan sebaiknya sudah memiliki pucuk tua. Pengambilannya biasanya dilakukan sekitar tiga bulan setelah masa panen. Penggunaan pucuk muda dinilai lebih sulit karena dapat memengaruhi keberhasilan perbanyakan.

Jika ditanam dari biji, Rambutan Parakan umumnya membutuhkan waktu tujuh hingga delapan tahun untuk mulai berbuah. Dalam kondisi tertentu, tanaman dapat berbuah sekitar lima tahun. Adapun melalui okulasi atau cangkok, masa tunggunya dapat dipersingkat menjadi sekitar satu hingga satu setengah tahun.

Selain persoalan regenerasi, faktor cuaca turut memengaruhi produktivitas tanaman. Rambutan Parakan biasanya mulai berbunga pada September dan memasuki masa panen pada Desember hingga Januari. Namun, kondisi kemarau dapat menyebabkan bunga dan bakal buah berguguran. Sehingga hasil panen tidak maksimal.

“Banyak bunga dan pentil buah yang rontok ketika kemarau. Akibatnya, jumlah buah yang bertahan sampai masa panen ikut berkurang,” ujar Adi.

Pohon indukan Rambutan Parakan | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Rambutan Parakan sendiri telah ditetapkan sebagai varietas melalui Keputusan Menteri Pertanian Nomor 518/Kpts/PD.210/10/2003 tertanggal 28 Oktober 2003. Dalam dokumen tersebut, asal tanaman tercatat dari Tangerang, Provinsi Banten.

Secara morfologi, buahnya berbentuk lonjong dengan panjang 3–4 sentimeter dan lebar 2–3 sentimeter. Beratnya sekitar 30 gram per buah. Daging buahnya mudah terlepas dari biji, dengan kadar gula tercatat 6,8 persen dan kandungan vitamin C sebesar 64,5 miligram per 100 gram.

Dokumen tersebut juga mencatat Rambutan Parakan cocok dikonsumsi sebagai buah meja maupun diolah menjadi manisan.

Bagi Kabupaten Tangerang, keberadaan Rambutan Parakan bukan hanya berkaitan dengan komoditas pertanian, tetapi juga pelestarian sumber daya genetik dan identitas buah lokal. Karena itu, keberlanjutannya membutuhkan pengembangan pohon indukan, penyediaan bibit, serta keterlibatan petani dan generasi muda.

Upaya tersebut menjadi penting agar Rambutan Parakan tidak hanya tercatat dalam keputusan pemerintah, tetapi tetap tumbuh dan dikenal oleh masyarakat sebagai salah satu kekayaan hortikultura Kabupaten Tangerang. (*

Tinggalkan Balasan