EsaiHeadline

Situ Garukgak: Mitos dan Rawa yang Kehilangan Kemampuan Menjaga Air

×

Situ Garukgak: Mitos dan Rawa yang Kehilangan Kemampuan Menjaga Air

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Gambar Istimewa

ESAI — Ada sesuatu yang ironis dari Situ Garukgak di Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang. Ketika musim hujan datang, airnya bisa meluap hingga menggenangi permukiman. Namun, ketika kemarau memanjang, rawa yang dahulu dikenal menyimpan air itu justru tak mampu diandalkan untuk mengairi sawah.

Rawa Garukgak seperti kehilangan ingatan tentang tugas alaminya: menampung air ketika berlebihan dan menyimpannya ketika kehidupan membutuhkannya.

Masyarakat setempat mengenal kawasan ini dengan sebutan Rawa Embel. Istilah embel-embolan merujuk pada tanah berlumpur yang mudah amblas ketika diinjak. Dalam cerita lokal, rawa ini juga lekat dengan gambaran tanah basah yang tidak mudah kehilangan air. Mitos tersebut menarik dibaca bukan sebagai kebenaran ilmiah, melainkan sebagai simbol hubungan masyarakat dengan alam yang dahulu mereka kenal.

Kini, kenyataannya berbeda. Pada Januari 2025, luapan Rawa Garukgak dilaporkan merendam empat desa di Gunung Kaler, termasuk Desa Kedung, Kandawati, dan Onyam. Sedimentasi serta buruknya drainase disebut ikut memperburuk keadaan.

Sebaliknya, ketika kemarau ekstrem melanda pada 2026, sumber air Garukgak dilaporkan tidak lagi dapat dimanfaatkan secara maksimal. Krisis air bahkan mengancam ratusan hektare sawah di Kronjo, Mekar Baru, dan Gunung Kaler.

Persoalannya bukan sekadar hujan terlalu deras atau kemarau terlalu panjang. Ada pekerjaan rumah dalam tata kelola sumber daya air: pendangkalan, pertumbuhan gulma, jaringan irigasi, serta perlindungan kawasan tangkapan air.

Padahal, Peraturan Daerah Kabupaten Tangerang Nomor 13 Tahun 2011 telah menempatkan Rawa Garukgak sebagai bagian dari kawasan sumber daya air yang perlu dipertahankan fungsinya sebagai cadangan air baku.

Pemerintah Kabupaten Tangerang perlu mendorong evaluasi menyeluruh bersama BBWS, mulai dari pemetaan batas kawasan, kajian hidrologi, normalisasi berbasis kajian teknis, perbaikan pintu air, hingga pembenahan jaringan irigasi. Pengawasan alih fungsi lahan dan pelibatan kelompok tani juga tidak boleh diabaikan.

Mitos Rawa Embel sesungguhnya menyimpan pesan sederhana: alam harus dirawat agar tetap memberi kehidupan. Jangan sampai cerita tentang rawa yang tak pernah kering hanya menjadi dongeng, sementara masyarakat terus mewarisi dua persoalan yang sama setiap tahun: banjir dan kekeringan.

Situ Garukgak tidak membutuhkan sekadar nama besar atau wacana wisata. Ia membutuhkan pemulihan fungsi ekologis. Sebab, rawa bukan hanya tempat air berkumpul. Ia adalah tabungan kehidupan yang seharusnya tidak kosong ketika kemarau, dan tidak meluap ketika hujan. (*


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan