Esai

Ayam Wareng, Ikon Batik Tangerang yang Hilang dari Kandang

×

Ayam Wareng, Ikon Batik Tangerang yang Hilang dari Kandang

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

IRONI – Tidak banyak orang mengetahui bahwa Kabupaten Tangerang memiliki ayam khas bernama Wareng. Namanya bahkan sudah diabadikan dalam motif batik daerah. Ironisnya, unggas yang menjadi bagian dari identitas lokal itu justru belum populer di tengah masyarakat tempat asalnya.

Ayam Wareng Tangerang memiliki riwayat yang cukup menarik. Penelusuran literatur peternakan menyebutkan, keberadaannya bermula pada awal 1980-an. Seorang peternak bernama Armin di Desa Pasir Gadung, Kecamatan Cikupa, memperoleh 36 butir telur ayam asal Rusia. Keturunannya kemudian dikembangkan melalui persilangan hingga generasi ketiga.

Dari proses tersebut lahir ayam bertubuh mungil dan ramping yang kemudian dikenal sebagai Ayam Wareng Tangerang. Unggas ini juga kerap disebut ayam Rusia. Nama Wareng dalam literatur bahasa Jawa diartikan sebagai kecil, merujuk pada ukuran tubuhnya.

Secara fisik, ayam ini memiliki kaki panjang, leher relatif kecil, serta gerakan gesit. Warna bulunya terdiri atas putih, hitam, dan blorok atau perpaduan hitam-putih. Bobot ayam jantan dewasa berkisar 1–1,7 kilogram, sedangkan betinanya sekitar 0,7–1,1 kilogram.

Menariknya, nama Wareng juga dikenal di daerah lain, termasuk Indramayu, Jawa Barat. Namun, karakter dan sejarah populasinya tidak sepenuhnya sama. Penelitian peternakan bahkan mencatat keberadaan Wareng Indramayu yang sulit dipastikan populasinya.

Penelitian Sartika dan tim dalam Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner (2008) mengategorikan ayam Wareng sebagai plasma nutfah ayam lokal Indonesia. Studi tersebut juga menunjukkan adanya pengaruh genetik ayam luar negeri yang cukup besar pada Wareng.

Di Kabupaten Tangerang, identitas ayam ini turut hadir melalui motif batik Gerbang Wareng. Istilah Wareng dalam filosofi batik setempat juga dikaitkan dengan sifat galak ayam jantan.

Sayangnya, popularitas motif belum tentu berbanding lurus dengan pengetahuan masyarakat tentang unggas aslinya. Pemerintah daerah, peternak, dan komunitas budaya perlu mendorong pendataan populasi, pembibitan, serta edukasi publik.

Sebab, melestarikan Ayam Wareng tidak cukup dengan menggambar siluetnya di atas kain. Unggasnya harus tetap hidup, berkembang biak, dan dikenal generasi berikutnya. (*

Tinggalkan Balasan