JEJAK KATA, Tangerang – Ketua Pengurus Daerah (Pengda) Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Banten, Wahyu Hariadi, mendorong seniman di wilayah Banten, Tangerang Raya khususnya untuk lebih kreatif dan inovatif dalam berkarya. Hal ini disampaikan Wahyu Hariadi usai melakukan diskusi dan ngobrol bareng bersama beberapa seniman penggagas Mardi Gras Eco Art, Minggu (11/05/25).
Wahyu juga menilai, seniman adalah orang-orang kreatif, inovatif dan mahir di bidang seni serta mampu melahirkan karya-karya kreatif yang mengandung nilai estetik. Sehingga, kata Wahyu, tak heran jika setiap karya yang lahir ini akan menarik perhatian publik. Dari situlah, Wahyu mendorong seniman Tangerang untuk tetap kreatif dan inovatif dalam berkesenian.
Menanggapi ide dan gagasan soal Mardi Gras Eco Art, menurut Wahyu, ini adalah hal baru, tidak hanya di Tangerang tetapi juga di Banten. Karena, jika dikonsep dengan baik, lanjut Wahyu, tidak sekadar menciptakan ruang baru para seniman berkumpul dan berkarya, tetapi juga sebuah titik untuk mempertemukan seniman dengan kolektor dan pencinta seni selain galeri atau tempat-tempat lain yang kerap digunakan untuk pameran.
“Ide kreatif seniman Tangerang ini keren! Kalau kita lihat konsepnya, ini seperti pasar seni, Pasar Seninya Tangerang. Dan, sepertinya ini juga menjadi yang pertama di Tangerang, atau bahkan mungkin di Banten,” ujar Wahyu Hariadi.
Widi Hatmoko, salah seorang penggagas Mardi Gras Eco Art, mengungkapkan, pihaknya telah menerima berbagai masukan, tidak hanya dari unsur seniman, tetapi juga akademisi serta orang-orang yang mencintai dunia seni, terutama seni rupa.
“Alhamdulillah, tanggapannya bagus, positif, dan justru harapan mereka, terutama temen-temen seni rupa, pengennya ini segera dibuka. Bahkan, temen-temen seniman dari Bali juga sudah ada yang meminta kios untuk mereka berkarya dan memajang serta memamerkan karyanya,” ungkap Widi.
Widi juga menjelaskan, Mardi Gras Eco Art ini, 70 persen adalah pelukis, selebihnya ada dari penulis, animator, musik serta seni lainnya.
“Kami sebagai pengelola Mardi Gras Eco Art menyampaikan bahwa program kami tidak sekadar menciptakan ruang komunikasi dalam mempertemukan para seniman dengan masyarakat secar luas maupun kolektor dan pencinta seni. Tapi juga memberikan ruang edukasi. Seniman yang bergabung di “Mardi Gras Eco Art” ini, tidak hanya diberikan kesempatan untuk berkarya serta memamerkan karyanya, tetapi juga meregenerasi dan memberikan edukasi seluas-luasnya. Eco Art yang kami gagas adalah sebagai salah satu bagian dari bentuk implementasi konsep ekologi melalui cipta, rasa dan karsa,” paparnya. (*






