JEJAK KATA, Cirebon – Bila Anda jalan-jalan ke Cirebon, jangan lewatkan mampir ke situs sejarah Taman Sari Gua Sunyaragi. Bagian dari Keraton Pakungwati ini berada di Jalan Sunyaragi, Kelurahan Kesambi, Kota Cirebon. Sekitar 9,4 kilomter dari pintu keluar tol Plumbon.
Gua Sunyaragi juga disebut Taman Air Sunyaragi, karena banyak terdapat kolam yang teduh dan menenangkan di dalam kompleks ini. Gua buatan ini dulu dibangun untuk tempat menyepi atau bertapa atau tirakat keluarga sultan. Dari aktivitas itulah nama Sunyaragi berasal. Dalam bahasa Sansekerta “Sunya” bermakna sunyi, sedangkan “Ragi” berarti raga.
Tentang sejarah Gua Sunyarafi terdapat dua versi, versi Carub Kanda dan versi Carubah Nagari. Versi pertama adalah berita lisan yang disampaikan secara turun-temurun oleh para bangsawan Cirebon atau keturunan keraton. Versi kedua berdasarkan buku Purwaka Caruban Nagari tulisan tangan Pangeran Kararangen atau Pangeran Arya Carbon tahun 1720.
Versi kedua dianggap lebih akurat karena itu menjadi acuan para pemandu wisata gua Sunyaragi. Menurut versi ini, Gua Sunyaragi didirikan tahun 1703 Masehi oleh Pangeran Kararangen, cicit Sunan Gunung Jati. Kompleks Sunyaragi lalu beberapa kali mengalami perombakan dan perbaikan.
Alih-alih menyerupai gua, bangunan cagar budaya ini lebih mirip dengan candi yang disusun dari batu-batu karang. Dibangun oleh cicit Sunan Gunung Jati sekitar abad ke-16, yaitu Pangeran Mas Zainul Arifin, dulunya kompleks gua dikelilingi danau penampungan air dan pohon Jati. Namun, saat ini danau sudah mengering. Gua Sunyaragi merupakan salah satu bagian dari Keraton yaitu Keraton Kasepuhan. Penyematan kata gua sendiri berasal dari “Guha” yang berarti buatan.
Kompleks tamansari Sunyaragi ini terbagi menjadi dua bagian yaitu pesanggrahan dan bangunan gua. Bagian pesanggrahan dilengkapi dengan serambi, ruang tidur, kamar mandi, kamar rias, ruang ibadah dan dikelilingi oleh taman lengkap dengan kolam. Bangunan gua-gua berbentuk gunung-gunungan, dilengkapi terowongan penghubung bawah tanah dan saluran air. Bagian luar kompleks aku bermotif batu karang dan awan. Pintu gerbang luar berbentuk candi bentar dan pintu dalamnya berbentuk paduraksa.

Induk seluruh gua bernama Gua Peteng (Gua Gelap) yang digunakan untuk bersemadi. Selain itu ada Gua Pande Kemasan yang khusus digunakan untuk bengkel kerja pembuatan senjata sekaligus tempat penyimpanannya. Perbekalan dan makanan prajurit disimpan di Gua Pawon. Gua Pengawal yang berada di bagian bawah untuk tempat berjaga para pengawal. Saat Sultan menerima bawahan untuk bermufakat, digunakan Bangsal Jinem, akan tetapi kala Sultan beristirahat di Mande Beling. Sedang Gua Padang Ati (Hati Terang), khusus tempat bertapa para Sultan.
Walaupun berubah-ubah fungsinya menurut kehendak penguasa pada zamannya, secara garis besar Tamansari Sunyaragi adalah taman tempat para pembesar keraton dan prajurit keraton bertapa untuk meningkatkan ilmu kanuragan.
Dilihat dari gaya atau corak dan motif-motif ragam rias yang muncul serta pola-pola bangunan yang beraneka ragam dapat disimpulkan bahwa gaya arsitektur gua Sunyaragi merupakan hasil dari perpaduan antara gaya Indonesia klasik atau Hindu, gaya Cina atau Tiongkok kuno, gaya Timur Tengah atau Islam dan gaya Eropa.
Gaya Indonesia klasik atau Hindu dapat terlihat pada beberapa bangunan berbentuk joglo. Misalnya, pada bangunan Bale Kambang, Mande Beling dan gedung Pesanggrahan, bentuk gapura dan beberapa buah patung seperti patung gajah dan patung manusia berkepala garuda yang dililit oleh ular. Seluruh ornamen bangunan yang ada menunjukkan adanya suatu sinkretsime budaya yang kuat yang berasal dari berbagai dunia. Namun, umumnya dipengaruhi oleh gaya arsitektur Indonesia Klasik atau Hindu.
Gaya Cina terlihat pada bunga seperti bentuk bunga persik, bunga matahari dan bunga teratai. Di beberapa tempat, dulu Gua Sunyaragi dihiasi berbagai ornamen keramik Cina di bagian luarnya. Keramik-keramik itu sudah lama hilang atau rusak sehingga tidak diketahui coraknya yang pasti. Penempatan pada bangunan Mande Beling serta motif mega mendung seperti pada kompleks bangunan gua Arga Jumut memperlihatkan bahwa gua Sunyaragi mendapatkan pengaruh gaya arsitektur Cina.
Di luar sejarah dan arsitekturnya yang menarik perhatian, Gua Sunyaragi menyimpan berbagai kisah mistis yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Salah satu yang paling terkenal adalah mitos tentang Patung Perawan Sunti. Konon seorang gadis yang menyentuh patung ini maka akan sulit mendapatkan jodoh.
Mistis lainnya adalah lorong-lorong di dalam gua yang dipercaya bisa menembus tempat lain, seperti Makkah–Madinah dan Tiongkok–Gunungjati. Patung Sunti sendiri terletak di depan Gua Peteng dan dipercaya membawa kesialan dalam hal jodoh bagi wanita yang menyentuhnya saat belum menikah.






