Manakala sikap dan pandangan itu diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari oleh pemeluk agama, kata Ananta, maka sebenarnya tidak akan terjadi masalah.
“Mereka yang beragama Islam beribadah ke masjid, mereka yang kristen ke gereja, dan demikian pula lainnya,” ujarnya.
“Yang harus dilakukan agar sikap toleransi makin kuat di antara umat beragama sesuai dengan sila pertama Pancasila adalah bertindak sesuai ajaran agama masing-masing,” imbuhnya.
Tepis Tudingan PDI Perjuangan Anti-Islam
Didepan ratusan struktural partai itu, Ananta juga menepis beberapa tudingan bahwa PDI Perjuangan anti-Islam.
Politisi PDI Perjuangan itu menyatakan bahwa tudingan tersebut tidak mendasar.
Karena PDI Perjuangan menjadikan sosok Bung Karno sebagai guru. Yang mana dalam pemikiran dan tindakan Bung Karno tidak bisa lepas dari Islam.
“Hal ini yang sering dilupakan. Bung Karno pada usia 15 tahun telah menjadi murid Tjokroaminoto serta kerap mengikuti tabligh Kyai Ahmad Dahlan,” jelasnya.
Menurut Ananta, sebagai seorang muslim taat Bung Karno pernah membuktikan perannya terhadap dunia Islam ketika Pemimpin Uni Soviet Nikita Kruschev pada 1956 mengundang Bung Karno ke Moskow.






