Nakum pun mengangguk, bergegas—tanpa komentar—dengan tangkas belanjaan-belanjaan itu habis dalam panggulannya. Belumlah laki-laki ini sempat beristirahat barang sejenak, kembali suara itu berteriak-teriak seperti suara sebelumnya.
”Nakum! Nakum!” Dari sebelah kiri saya, sebelah kanan, di sudut dekat tukang tahu, dan di belakang tukang pecel. Semua berebut memanggil-manggil Nakum. Sungguh, sepertinya tak ada nama yang lain di tempat itu kecuali Nakum, Nakum, dan Nakum. Nama ini begitu beken di pasar ini.
Dari situlah, laki-laki bernama Nakum ini mulai berputar-putar dalam pikiran saya. Bukan karena apa-apa, tapi karena heran. Ya, heran mengapa tenaga laki-laki ini begitu kuat? Bagai seekor kuda, tanpa meringkik sedikitpun ia memanggul barang-barang belanjaan orang-orang di pasar itu sampai habis. Manusia apa ini? Dari sejak pertama saya melihatnya—menapaki jalanan itu, hingga sampai ke pasar, tubuhnya tak berhenti seperti robot. Entah, apa yang membuatnya begitu perkasa?
Saya masih duduk di warung tempat semula. Satu gelas kopi di hadapan saya, tinggal seperempat. Satu piring mendoan yang berukuran lebar, tinggal separuh. Hm.., kenyang sudah rasanya. Hooooiik!! Sayapun kembali bersendawa.
*
Pasar pun sudah terlihat sepi. Para pedagang, serta pembeli nyaris tak ada lagi. Kecuali warung yang sejak tadi saya singgahi, serta beberapa toko yang memang masih buka sampai jam lima sore.
Laki-laki bernama Nakum itu luput dari pandangan saya. Tanya tentang “ke mana laki-laki itu” pun muncul dari pikiran dan benak saya. Sudah pulangkah, atau memang masih berada di sekitar pasar—bersembunyi menghitung penghasilan?
Seiring itu pula, bola mata saya yang sayup itu blusukan ke setiap sudut tempat. Tak lain, dan tak bukan, manusia perkasa yang berotot sekal seperti kuda itu yang saya cari. Namun, sampai jelalatan mata saya ke sana-kemari, tak juga menangkap keberadaannya. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidak lagi mencari-cari, apalagi memikirkannya. Enggak penting keles!
Matahari pun mulai berpijar naik semakin ke atas. Hawa dingin yang sejak tadi pagi membalut sekujur tubuh saya juga telah berganti dengan hangat matahari yang menggerayangi planet bumi tempat saya berpijak. Jaket pun saya lepas. Gerah, butiran-butiran keringat mulai merembas dari dalam tubuh saya. Untung saja segelas kopi hangat yang saya seruput mampu membantu mengganjal kedua bola mata saya. Sehingga, saya masih bisa bertahan menahan rasa kantuk usai bergadang menyaksikan dari dekat, dan memotret ritual tahunan—Nyadran—di sekitar pemakaman Bono Keling, Pekuncen, malam itu.






