Jejak KataSeni dan Hiburan

Cerita Pendek, Widi Hatmoko: Pasar Thengok dan Manusia Tikus

×

Cerita Pendek, Widi Hatmoko: Pasar Thengok dan Manusia Tikus

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI (Istimewa)

Hii..

Saya semakin tak tahan melihatnya. Saya segera meraih tas punggung saya, lalu meloncat, pergi. Saya berlari ke arah jalan raya, menjauh dari tempat ini. Saking paniknya, sampai lupa membawa jaket saya. Lebih konyol lagi, saya juga lupa membayar segelas kopi dan enam lembar tempe mendoan berukuran besar. Yang pada akhirnya, semua itu tak mampu bertahan dalam perut saya sampai proses pencernaan berakhir. Saya muntah semuntah-muntahnya. Huwaakk! Berceceran sepanjang jalan.

Menjijikkan sekali memang.

Dari situlah, sampai bertahun-tahun sudah saya kembali—menjalani hidup di Banten ini, masih seringkali merasakan jijik, serta ingin muntah jika mengingatnya. Bukan saja karena teringat aksi Nakum di Pasar Thengok yang menelan cemendil tikus masih hidup itu. Melainkan karena banyaknya ’Manusia Tikus’ yang hidup, dan berkeliaran. Ya, Manusia Tikus! Manusia-manusia yang suka makan uang rakyat tanpa perasaan. Mulai dari yang anggota dewan, kepala daerah, sampai pejabat-pejabat pemerintah lainnya.

Hiiiii..! Huwaakk!
Lebih menjijikkan lagi bukan?

Tetapi, dari peristiwa itulah saya menjadi tahu, bahwa, ternyata, cemendil atau bayi tikus yang masih hidup dipercaya oleh sebagian orang bisa dijadikan sebagai obat kuat. (***

TANGERANG 2015

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *