Perhatikan baik-baik, di barisan depan dekat kasir, produk yang paling mencolok, selain mainan/makanan anak-anak yang bentuknya seperti telur bebek, biasanya alat kontrasepsi. Pertanyaannya, seberapa pentingkah alat kontrasepsi dipajang pada barisan paling depan?
Fenomena ini kerap kali menjadi sorotan, bahkan kritik tajam dari berbagai pemuka agama.
Di Kota Pekan Baru misalnya, Anggota DPRD setempat mengkritik keras pihak ritel moderen/minimarket yang dengan sengaja memajang alat kontrasepsi kondom dengan bebas, bahkan sangat mudah dijangkau dan didapati oleh pengunjung terutama kalangan remaja. Menurut Anggota DPRD itu, seharusnya kondom tidak dipajang di depan kasir, diletakkan di belakang kasir, jika ada yang tanya baru lah diambilkan. Tentu hal ini lebih safety, jika anak-anak atau remaja yang minta, pihak kasir bisa mempertanyakan.
Adalagi curhatan seorang netizen dari Sumatera Selatan yang menyampaikan pengalamannya, ketika ia ke minimarket bersama anaknya yang masih kecil, dan menanyakan soal kondom dengan berbagai varian yang terpajang di depan kasir minimarket.
Di Tangerang, pun begitu. Masih banyak alat kontrasepsi terpajang di depan kasir minimarket seolah menggoda anak-anak remaja untuk melakukan hubungan intim secara bebas. Apalagi melihat kondisi sosial masyarakat, ditambah maraknya kamar-kamar sewaan seperti apartemen, kamas kos, hotel dan sejenisnya, serta aplikasi android yang memberikan akses kemudahan untuk sekadar menikmati seks tanpa ikatan pernikahan.






