“Jadi bahasanya enggak usah bahasa maki-maki, enggak usah bahasa yang enggak enak didengar. Saya menginginkan kalau mengeritik dengan bahasa yang enak didengar, bukan bahasa yang enggak enak didengar,” tandas Susilo menambahkan.
Menurut Susilo, bahasa makian, di tengah erah teknologi yang sudah cukup modern, dimana setiap prilaku tutur dan kata dapat mudah disebarkan serta diakses melalui media sosial, tidak memberikan pendidikan yang baik kepada masyarakat, terutama para generasi muda dan anak-anak yang masih di bawah umur. Karena, kata Susilo, bangsa ini dibangun tidak saja dengan intelektual tetapi juga harus mengedepankan budaya dan adab yang menjadi salah satu cermin bangsa yang santun dan beradab.






