Ada juga motif batik watu pecah, atau batik kricaan. Motif batik ini memiliki sejarah tentang perjuangan rakyat Lasem pada sekitar tahun 1808-1811, ketika Herman Willem Daendels, seorang politikus dan jenderal Belanda yang menjadi Gubernur-Jenderal Hindia Belanda membangun jalan dari titik nol Anyer hingga Panarukan.
Pembangunan jalan yang melintas di wilayah Lasem ini dilakukan secara kerja paksa oleh rakyat, yang diantaranya adalah rakyat Lasem. Dalam peristiwa ini, banyak rakyat yang meninggal karena disiksa dan dianiaya. Dan, batik watu pecah atau kricaan ini adalah sebagai simbol peristiwa tersebut.
Lasem juga memiliki beberapa desa wisata batik, seperti Pohlandak, Karaskepoh, Doropayung, dan lainnya. Selain di tempat-tempat ini, terdapat juga Rumah Merah, yang berlokasi di Desa Karangturi. Di Rumah Merah ini juga menjadi salah satu sentra pembuatan batik Lasem.
Nah, buat kalian yang ingin datang di tempat ini, bisa belajar bagaimana cara membatik, serta melihat sejar Lasem dan sejak zaman kolonial hingga perkembangannya saat ini. (*






