Opini PinggiranJejak Kata

Ketika Tuduhan Berubah Arah: Dari “Bukti Sudah Lengkap” Menjadi “Emosi Sesaat”

×

Ketika Tuduhan Berubah Arah: Dari “Bukti Sudah Lengkap” Menjadi “Emosi Sesaat”

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

MEDIA sosial memang punya kemampuan luar biasa. Dalam hitungan jam, sebuah video bisa mengubah seseorang menjadi pusat perhatian. Namun yang lebih luar biasa adalah ketika video berikutnya justru membuat publik menggaruk kepala sambil bertanya, “Lho, jadi yang kemarin itu apa?”

Kasus yang menyeret nama Ida Farida menjadi contoh bagaimana sebuah narasi dapat berubah drastis. Pada video pertama, publik disuguhi pengakuan yang terdengar penuh keyakinan. Disebutkan telah terjadi dugaan pelecehan seksual oleh seorang tokoh Banten yang disebut pernah menjadi Ketua DPRD dan kini menjabat sebagai kepala daerah.

Video ini sudah kadung beredar. Untuk sekadar menyimpulkan siapa tokoh ini pun bukan lah hal yang sulit. Karena di Banten ini jumlah kepala daerah bisa dihitung dengan jari: satu gubernur, empat wali kota dan empat bupati.

Narasi yang disampaikan pun tidak main-main: perjuangan selama enam tahun, upaya mediasi yang disebut tidak direspons, laporan ke Komnas Perempuan, hingga klaim adanya bukti percakapan, foto, flash disk, dan kronologi yang telah diserahkan.

Kalimat-kalimat itu bukan terdengar seperti keluhan spontan di warung kopi. Semuanya terdengar runtut, lengkap, dan memberi kesan bahwa persoalan ini sudah dipersiapkan dengan matang.

Lalu datanglah babak kedua. Dalam video klarifikasi, narasinya berubah. Isu yang mengaitkan tokoh tertentu disebut hoaks. Hubungan dengan tokoh tersebut dikatakan baik-baik saja. Bahkan pelaporan ke Komnas Perempuan disebut terjadi karena emosi sesaat akibat komunikasi yang buntu.

Di titik inilah publik mulai kebingungan. Kalau sebelumnya disebut telah mengumpulkan bukti selama bertahun-tahun, melakukan mediasi berkali-kali, membawa dokumen dan barang bukti ke Komnas Perempuan, bagaimana semua itu kemudian bermuara pada istilah “emosi sesaat”? Bukankah enam tahun adalah rentang waktu yang cukup panjang untuk mendinginkan emosi?

Pertanyaan itu wajar muncul. Sebab perubahan narasi yang begitu tajam tentu akan memunculkan berbagai tafsir di ruang publik. Ada yang bertanya apakah video pertama terlalu terburu-buru. Ada pula yang bertanya apakah video kedua lahir karena tekanan. Sampai hari ini, publik tidak memiliki jawaban pasti.

Yang paling dirugikan justru adalah kepercayaan masyarakat. Ketika sebuah pengakuan yang sangat serius berubah arah dalam waktu singkat. Masyarakat akhirnya sulit membedakan mana fakta, mana persepsi, dan mana yang sekadar menjadi konsumsi media sosial.

Ironisnya, di era digital, klarifikasi sering kali kalah cepat dibanding viralnya tuduhan. Jejak digital sudah terlanjur berkeliling, sementara klarifikasi datang belakangan sambil mengejar bayang-bayang yang sudah telanjur berlari.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa tuduhan serius bukanlah konten hiburan. Jika benar terjadi, korban berhak mendapatkan keadilan. Namun jika narasi berubah tanpa penjelasan yang utuh, maka publik pun berhak mempertanyakan konsistensi cerita.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya dua video yang saling bertolak belakang, tetapi juga segudang tanda tanya. Seperti biasa, media sosial tidak pernah kekurangan “ahli forensik dadakan” yang siap menyusun teori masing-masing. Sebab di negeri ini, terkadang yang paling cepat berubah bukan cuaca, melainkan isi video klarifikasi. (*


Oleh: Widi Hatmoko

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *