LiputanJejak Kata

Pemkot Tangerang Imbau Warga Berhenti Membakar Sampah

×

Pemkot Tangerang Imbau Warga Berhenti Membakar Sampah

Sebarkan artikel ini
Petugas Ketentraman dan Ketertiban (Trantib) Kecamatan Cibodas melakukan penertiban pembakaran sampah liar di Wilayah RW 01, Kelurahan Cibodas, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang, Provinsi Banten | Sumber: Dok. Kecamatan Cibodas

JEJAK KATA, Kota Tangerang – Musim kemarau selalu membawa dua wajah. Yang pertama, langit biru yang fotogenik. Yang kedua, asap yang diam-diam merampas udara bersih. Di Kota Tangerang, keduanya kini datang bersamaan.

Pemerintah Kota Tangerang mengimbau warga agar berhenti membakar sampah. Alasannya sederhana sekaligus masuk akal. Sepekan ke depan, cuaca diperkirakan didominasi langit cerah hingga cerah berawan. Suhu menyentuh 34 derajat Celsius, kelembapan udara menurun, dan risiko kebakaran meningkat. Dalam kondisi seperti ini, api sekecil apa pun bisa berubah menjadi persoalan yang jauh lebih besar.

Ironisnya, ancaman itu sering kali bukan datang dari hutan, bukan pula dari pabrik. Ia justru lahir dari halaman rumah sendiri. Setumpuk daun kering. Plastik bekas belanja. Kardus yang menumpuk di sudut pagar. Semuanya diselesaikan dengan cara paling tua sekaligus paling malas: dibakar.

Sampah memang lenyap dari pandangan mata. Namun, ia tidak benar-benar hilang. Ia hanya berganti rupa menjadi asap, debu halus, dan udara yang lebih sesak dihirup.

“Masyarakat diharapkan mengelola sampah dengan cara yang lebih ramah lingkungan, seperti memilah sampah dari rumah, memanfaatkan layanan pengangkutan sampah, atau mengolah sampah organik menjadi kompos,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, Senin (13/7/2026).

Mahdiar mengingatkan bahwa pembakaran sampah bukan hanya mencemari udara, tetapi juga berpotensi memicu kebakaran ketika cuaca sedang kering.

Peringatan itu sesungguhnya bukan hal baru. Hampir setiap musim kemarau, kalimat serupa kembali diperdengarkan. Yang berubah hanyalah tanggal dan tahunnya. Asapnya tetap sama.

Di sinilah persoalan sesungguhnya berada. Membakar sampah telah menjelma menjadi budaya jalan pintas. Cepat, murah, tidak perlu memilah, dan dianggap selesai. Padahal yang selesai hanya urusan di halaman rumah. Masalahnya berpindah ke paru-paru orang lain.

Paradoksnya terasa begitu nyata. Kota berbicara tentang udara bersih, sementara cerobong asap paling kecil justru tumbuh di permukiman. Pemerintah mengampanyekan pengelolaan sampah modern, tetapi api masih menjadi “teknologi” favorit sebagian warga.

Tentu, kesalahan tidak bisa seluruhnya ditimpakan kepada masyarakat. Kesadaran memang penting, tetapi kebiasaan tidak berubah hanya karena spanduk imbauan dipasang di pinggir jalan. Edukasi harus berlangsung terus-menerus. Layanan pengangkutan sampah harus mudah dijangkau. Fasilitas pemilahan dan pengolahan sampah mesti benar-benar hadir, bukan sekadar menjadi jargon kota ramah lingkungan.

Kalau tidak, setiap kemarau pemerintah akan kembali mengulang kalimat yang sama, sementara warga mengulang kebiasaan yang sama. Sebuah siklus yang berputar seperti asap: naik sesaat, lalu menghilang tanpa pernah benar-benar menyelesaikan persoalan.

BMKG memprakirakan cuaca Kota Tangerang sepanjang pekan ini didominasi kondisi cerah hingga berawan. Hanya pada Rabu diperkirakan turun hujan ringan. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan terhadap kebakaran perlu ditingkatkan.

Masyarakat juga diminta rutin memantau informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG. Apabila terjadi keadaan darurat, warga dapat menghubungi layanan 112 atau Posko BPBD Kota Tangerang di 021-5582-144 yang siaga selama 24 jam.

Kemarau memang tidak bisa dihentikan. Tetapi asap dari sampah sesungguhnya bisa. Sebab, langit yang bersih bukan semata hadiah alam, melainkan hasil dari kebiasaan yang ikut berubah. Selama api masih dianggap solusi, udara bersih akan tetap menjadi cita-cita yang mengepul bersama asap. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *