JEJAK KATA, Tangerang – Ada satu pertanyaan yang selalu muncul menjelang tengah hari: makan apa, ya? Pertanyaan sederhana itu kadang lebih rumit daripada rapat kantor. Pilih bakso, bosan. Ayam goreng, lagi-lagi itu. Fast food? Dompet mulai protes.
Kalau sedang berada di kawasan CitraRaya dan ingin makan siang yang mengenyangkan sekaligus mengobati rindu kampung halaman, Warung Pecel Madiun Mbak Yuni di Ruko Viola layak masuk daftar tujuan.
Begitu melangkah ke warung ini, aroma bumbu kacang yang baru diulek langsung menyapa. Harumnya seperti mengajak siapa saja berhenti sejenak dari hiruk-pikuk pekerjaan. Di atas piring, aneka sayuran rebus bertemu siraman sambal kacang yang gurih, sedikit manis, sedikit pedas, lalu ditemani rempeyek yang renyah. Sederhana, tetapi justru di situlah letak keistimewaannya.

Banyak orang mengira pecel berasal dari Madiun. Padahal jejak kuliner ini sudah dikenal sejak berabad-abad lalu di tanah Jawa. Sejumlah catatan menyebut makanan berbahan sayuran rebus dengan bumbu kacang telah ada sejak sekitar abad ke-9. Seiring perjalanan waktu, Madiun kemudian menjadi daerah yang paling berhasil merawat sekaligus mempopulerkannya hingga dikenal luas sebagai Pecel Madiun.
Di Warung Pecel Madiun Mbak Yuni, warisan kuliner itu tetap dipertahankan. Bumbu kacangnya terasa kaya rempah, tidak asal pedas, sementara sayurannya disajikan segar sehingga setiap suapan menghadirkan perpaduan rasa yang akrab di lidah orang Indonesia.
Menariknya, warung ini tidak memaksa semua orang harus menjadi pencinta pecel. Barangkali pemiliknya paham bahwa urusan perut sering kali lebih demokratis daripada urusan politik.
Kalau teman makan Anda sedang tidak ingin pecel, pilihannya masih panjang. Ada Rawon dengan kuah hitam pekat yang kaya kluwek, Gudeg yang manis khas Yogyakarta, Nasi Gandul khas Pati dengan kuah gurihnya yang menggoda, Soto Ayam yang hangat, Tahu Tek, Lontong Tahu, hingga Rujak Cingur khas Surabaya yang menjadi tantangan tersendiri bagi lidah yang baru pertama mencobanya.
Satu meja, banyak selera, tak perlu lagi berdebat menentukan tempat makan.
Di tengah menjamurnya restoran modern dengan nama asing yang kadang lebih sulit diucapkan daripada harga menunya, warung seperti Mbak Yuni justru menawarkan sesuatu yang semakin langka: rasa rumahan yang jujur. Tidak berusaha tampil mewah, tetapi berhasil membuat pengunjung ingin kembali.
Barangkali itulah rahasia kuliner legendaris. Ia tidak membutuhkan dekorasi yang berlebihan atau gimik media sosial. Cukup sepiring makanan yang dimasak dengan sepenuh hati, lalu biarkan lidah yang bercerita.
Jadi, jika jam makan siang mulai tiba dan perut sudah mengirim “surat peringatan”, Ruko Viola Citra Raya punya satu alamat yang patut disambangi. Siapa tahu, yang awalnya hanya berniat mengisi perut, justru pulang membawa sedikit nostalgia tentang kampung halaman. (*






