Liputan

Hari Pertama Tanpa Rasa Takut, Joko Pramono: Sekolah adalah Rumah Kedua

×

Hari Pertama Tanpa Rasa Takut, Joko Pramono: Sekolah adalah Rumah Kedua

Sebarkan artikel ini
Para guru SDN Mekar Bakti, Kecamatan Panongan, kabupaten Tangerang, menyambut anak-anaknya di depan gerbang sekolah pada hari pertama masuk sekolah | Widi Hatmoko

JEJAK KATA, Tangerang – Tak ada wajah guru yang kaku. Tak ada suara bentakan yang membuat anak-anak menunduk. Justru malah sapaan hangat, tawa kecil, dan langkah-langkah mungil yang perlahan mengusir rasa cemas para siswa baru. Begitulah tahun ajaran SDN 1 Mekar Bakti, Panongan, Kabupaten Tangerang dimulai.

Di negeri yang pernah mengenal masa ketika Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah identik dengan hukuman, teriakan senior, hingga berbagai tradisi yang lebih dekat dengan perpeloncoan daripada pendidikan, pemandangan seperti ini terasa sederhana, tetapi penting. Sebab sekolah semestinya menjadi tempat pertama yang mengajarkan rasa aman, bukan rasa takut.

SDN 1 Mekar Bakti mengawali Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) dengan tema “Menciptakan Generasi Cerdas dalam Lingkungan yang Ramah dan Asri.” Tema yang terdengar biasa, tetapi diterjemahkan melalui cara yang tidak biasa: memanusiakan anak sejak hari pertama.

Pepohonan yang rindang, taman yang terawat, dan halaman yang bersih menjadi ruang belajar pertama sebelum buku pelajaran dibuka. Guru-guru mengajak murid berkeliling sekolah, mengenal kebun, taman, ruang kelas, hingga area bermain. Sebuah “tamasya sekolah” yang mengubah rasa asing menjadi rasa memiliki.

Anak-anak tidak dicekoki aturan sejak menit pertama. Mereka diajak mengenal rumah kedua. Kepala SDN 1 Mekar Bakti, Joko Pramono, mengatakan bahwa sekolah harus menjadi tempat yang membuat setiap anak merasa diterima.

“Sekolah kita adalah rumah kedua yang ramah bagi setiap anak. Di bawah teduhnya lingkungan sekolah yang asri ini, mari kita bersama-sama membangun karakter, menumbuhkan kecintaan pada ilmu, dan merajut persahabatan yang tulus,” ujarnya saat membuka kegiatan MPLS.

Pesan itu terdengar sederhana. Namun, di tengah masih adanya praktik pendidikan yang terlalu sibuk mengejar angka, peringkat, dan prestasi akademik, kalimat tentang kasih sayang justru terasa paling relevan.

Pendidikan sesungguhnya tidak dimulai ketika anak mampu membaca atau berhitung. Ia dimulai ketika seorang anak percaya bahwa sekolah adalah tempat yang aman untuk bertanya, mencoba, bahkan melakukan kesalahan.

Itulah sebabnya hari pertama sekolah sering kali lebih menentukan daripada lembar pertama buku pelajaran.

Di bawah rindangnya pepohonan, para guru juga menyisipkan pelajaran yang kerap terlupakan: mencintai lingkungan. Anak-anak diajak memahami bahwa halaman sekolah bukan sekadar tempat bermain, melainkan ruang hidup yang harus dijaga bersama. Karakter ternyata bisa ditanam bukan lewat ceramah panjang, tetapi melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Sepanjang kegiatan, wajah-wajah tegang perlahan berubah menjadi senyum. Anak-anak mulai bercakap dengan teman barunya, berlari kecil di halaman sekolah, lalu tertawa tanpa merasa sedang mengikuti orientasi.

Barangkali inilah makna pendidikan yang paling awal: membuat anak bahagia datang ke sekolah. Sebab sekolah yang baik bukanlah sekolah yang paling megah atau paling banyak pialanya. Sekolah yang baik adalah sekolah yang membuat murid ingin kembali datang keesokan paginya.

Dan di tengah berbagai cerita tentang krisis karakter, perundungan, hingga tekanan akademik yang masih menghantui dunia pendidikan, langkah kecil SDN 1 Mekar Bakti mengingatkan satu hal: membangun generasi yang cerdas selalu dimulai dari keberanian memperlakukan anak-anak sebagai manusia.

Bukan objek yang harus didisiplinkan dengan ketakutan, melainkan benih-benih masa depan yang tumbuh lebih baik ketika disiram dengan rasa hormat, kasih sayang, dan teladan. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *