JEJAK KATA, Rembang – Dari kejauhan, Lasem mungkin hanya tampak sebagai kota kecil di pesisir utara Jawa. Namun, di balik jalan-jalan sempit, rumah-rumah tua bergaya Tionghoa, deretan batik klasik, hingga aroma laut yang tak pernah benar-benar pergi, tersimpan kisah panjang tentang perjumpaan peradaban yang membentuk wajah Indonesia jauh sebelum republik ini lahir.
Lasem bukan sekadar kota pelabuhan. Ia adalah ruang temu berbagai bangsa, agama, dan kebudayaan yang selama berabad-abad hidup berdampingan. Di kota inilah masyarakat Jawa, keturunan Tionghoa, dan komunitas Arab membangun kehidupan bersama dalam semangat saling menghormati. Harmoni itu bukan hadir dalam semalam, melainkan lahir dari perjalanan sejarah yang panjang.
Salah satu bab penting dalam sejarah tersebut adalah kedatangan armada Laksamana Cheng Ho pada awal abad ke-15. Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa sekitar tahun 1413 Masehi, rombongan pelaut muslim yang mengikuti ekspedisi Cheng Ho berlabuh di kawasan pesisir Lasem. Mereka datang bukan hanya membawa komoditas perdagangan, tetapi juga memperkenalkan nilai-nilai Islam, teknologi, seni, dan budaya baru kepada masyarakat setempat.
Rombongan itu dipimpin oleh Bi Nang Un, seorang muslim asal Negeri Champa yang turut bergabung dalam pelayaran Cheng Ho atas perintah Kaisar Yongle dari Dinasti Ming. Mereka diperkirakan mendarat di kawasan Pelabuhan Regol yang kini berada di sekitar Pantai Binangun, Desa Bonang, Kecamatan Lasem.
Jejak kedatangan mereka tidak hanya dikenang dalam cerita lisan, tetapi juga diyakini meninggalkan pengaruh terhadap perkembangan seni dan kehidupan masyarakat. Berbagai tradisi seperti seni tari, keterampilan membuat peralatan, hingga perkembangan batik dipercaya mendapat sentuhan dari proses akulturasi yang terjadi pada masa itu.
Sejarawan Lasem, Edi Winarno, menjelaskan bahwa rombongan Cheng Ho merupakan komunitas muslim yang membawa misi dakwah sekaligus membangun hubungan persahabatan dengan masyarakat lokal.
Menurutnya, salah satu peninggalan penting adalah keberadaan sebuah masjid yang dahulu diyakini berdiri di kawasan Jalan Dasun, Desa Soditan. Lokasi tersebut dipercaya berada di tempat yang kini menjadi berdirinya Klenteng Cu An Kiong, yang dikenal sebagai salah satu klenteng tertua di Nusantara.
Bagi Edi, hal itu menunjukkan bahwa ruang-ruang ibadah pada masa lalu tidak selalu menjadi simbol pertentangan, melainkan saksi perubahan sosial dan dinamika sejarah yang terus berlangsung.
Ia juga menjelaskan bahwa komunitas Tionghoa yang datang sebelum era Cheng Ho berbeda dengan rombongan muslim abad ke-15. Gelombang migrasi berikutnya dari daratan Tiongkok membawa tradisi Konfusianisme yang kemudian memperkaya mozaik budaya Lasem. Alih-alih menghapus jejak sebelumnya, berbagai kebudayaan itu justru tumbuh berdampingan dan membentuk identitas kota yang unik.
Perjalanan Islam di Lasem kemudian memasuki babak baru ketika Sunan Bonang atau Raden Maulana Makdum Ibrahim datang ke wilayah tersebut pada akhir abad ke-15. Dakwah Islam berkembang semakin luas melalui pendekatan pendidikan, seni, dan budaya.
Sejumlah sumber sejarah menyebutkan bahwa setelah wafatnya Adipati Wiranegara pada 1479, Sunan Bonang mendirikan sebuah pesantren di Bonang dengan memanfaatkan bekas kompleks kadipaten. Kawasan itu kini diyakini masih menyimpan jejak sejarah berupa kompleks makam yang oleh sebagian masyarakat dipercaya berkaitan dengan Sunan Bonang.
Dari perjalanan panjang itulah Lasem tumbuh sebagai salah satu simpul penting penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. Namun lebih dari itu, kota ini menjadi contoh bahwa perbedaan dapat menjadi fondasi kebersamaan, bukan alasan untuk saling menjauh.
Di tengah dunia yang kerap diwarnai polarisasi, Lasem menawarkan pelajaran berharga. Bahwa agama, perdagangan, seni, dan budaya pernah datang melalui kapal-kapal yang sama, lalu berlabuh menjadi peradaban yang saling melengkapi.
Sejarah Lasem mengajarkan bahwa kejayaan sebuah kota bukan hanya diukur dari kemegahan bangunannya, tetapi dari kemampuannya merawat ingatan, menerima keberagaman, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan yang terus diwariskan lintas generasi. (*






