JEJAK KATA, Kota Tangerang – Senja mulai turun ketika deretan perahu perlahan membelah aliran Sungai Cisadane. Di atasnya, puluhan relawan memungut satu per satu sampah yang hanyut, tersangkut di bebatuan, hingga terjerat rumpun tanaman air. Bagi mereka, pekerjaan itu bukan sekadar membersihkan sungai. Ini adalah ikhtiar merawat dan meruwat denyut kehidupan sebelum Festival Cisadane 2026 membuka perayaannya.
Komunitas Bank Sampah Sungai Cisadane (Banksasuci) menggelar aksi bertajuk “Ruwat Rawat Sungai Cisadane“, sebuah gerakan yang memadukan kepedulian lingkungan dengan nilai budaya. Dalam tradisi Nusantara, ruwat berarti membersihkan atau membebaskan dari hal-hal yang buruk, sementara rawat bermakna menjaga agar tetap lestari. Dua kata itu menjadi pengingat bahwa sungai bukan sekadar bentang alam, melainkan ruang hidup yang harus terus dipelihara.
Dari aksi yang melibatkan sekitar 100 relawan tersebut, sebanyak 5,3 ton sampah berhasil diangkat dari aliran Cisadane. Angka itu bukan hanya menggambarkan besarnya persoalan sampah yang masih menghantui sungai, tetapi juga menunjukkan besarnya semangat gotong royong masyarakat untuk mengubah keadaan.
Ketua Banksasuci, Ade Yunus, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap Festival Cisadane 2026 sekaligus kampanye nyata mengenai pentingnya gaya hidup eco-green dan zero waste.
“Kami menyusuri sungai menggunakan perahu sambil membersihkan sampah sebagai bentuk kepedulian terhadap Sungai Cisadane. Sungai ini memiliki manfaat yang sangat besar bagi masyarakat yang hidup berdampingan dan menggantungkan kehidupannya dari aliran air ini,” ujarnya, Senin 20 Juli 2026.
Gerakan itu mendapat dukungan dari berbagai unsur, mulai dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, BPBD, Perumda Tirta Benteng, PMI, Tagana, Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Kota Tangerang, hingga komunitas dan relawan yang bergabung secara sukarela.
Kolaborasi lintas lembaga itu menjadi pemandangan yang menarik. Tak ada sekat jabatan ataupun seragam. Semua berada di atas perahu yang sama, bergerak dengan tujuan serupa: mengembalikan wajah Cisadane agar tetap bersih dan nyaman.
“Alhamdulillah, sekitar 100 relawan ikut berpartisipasi menyusuri sungai untuk memastikan tidak ada sampah yang mencemari aliran Cisadane,” kata Ade.
Namun, bagi Banksasuci, aksi ini bukanlah kegiatan musiman yang hanya dilakukan menjelang festival. Membersihkan sungai telah menjadi rutinitas yang mereka jalankan sepanjang tahun. Festival hanya menjadi momentum untuk mengajak lebih banyak orang terlibat.
Harapannya sederhana, tetapi memiliki dampak besar: menjadikan kepedulian terhadap sungai sebagai budaya bersama, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Sebab, sebuah festival mungkin hanya berlangsung beberapa hari. Namun sungai akan terus mengalir setiap hari, menghidupi masyarakat dengan air, ruang, dan sejarahnya. Ketika perayaan usai dan panggung-panggung dibongkar, Cisadane tetap membutuhkan tangan-tangan yang bersedia menjaga.
Di sanalah makna sesungguhnya dari “Ruwat Rawat Sungai Cisadane”. Merawat sungai bukan hanya tentang mengangkat sampah, melainkan membangun kesadaran bahwa alam akan tetap memberi kehidupan selama manusia bersedia menjaganya. Festival pun akhirnya bukan hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga pengingat bahwa masa depan sebuah kota selalu bermula dari sungai yang tetap hidup dan lestari. (*






