JEJAK KATA, Kota Tangerang — Ketika suara genderang mulai bergema dan puluhan dayung bergerak serempak membelah Sungai Cisadane, perhatian ribuan pasang mata seketika tertuju ke tengah aliran. Kepala perahu yang dipahat menyerupai naga meluncur cepat, meninggalkan riak air yang berkejaran hingga ke tepian.
Bagi pengunjung Festival Cisadane, perlombaan perahu naga mungkin tampak sebagai tontonan yang memacu adrenalin. Namun di balik setiap kayuhan, tersimpan kisah panjang tentang perpindahan tradisi, perjumpaan budaya, dan perjalanan sebuah warisan yang akhirnya berlabuh di Tangerang lebih dari seabad silam.
Sungai Cisadane bukan sekadar lintasan lomba. Ia adalah saksi hidup yang menjaga jejak sejarah.
Tradisi perahu naga berasal dari perayaan Peh Cun, sebuah festival yang telah dikenal masyarakat Tionghoa selama berabad-abad. Perayaan ini berakar pada penghormatan terhadap Qu Yuan, seorang penyair dan pejabat pada masa Tiongkok kuno yang dikenang karena kesetiaan dan kecintaannya kepada negeri.
Seiring gelombang migrasi, tradisi itu ikut menyeberangi lautan hingga ke Nusantara. Komunitas Tionghoa yang menetap di Batavia dan Tangerang membawa serta kebiasaan menggelar perayaan Peh Cun sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya mereka.
Pada masa itu, perlombaan perahu naga lebih sering berlangsung di jalur-jalur air Batavia. Kanal dan sungai menjadi ruang berkumpul sekaligus arena perlombaan yang menyatukan masyarakat.
Namun wajah Batavia terus berubah. Penataan kota dan kondisi sejumlah sungai yang semakin dangkal membuat tradisi tersebut sulit dipertahankan di lokasi semula. Perlahan, pusat kegiatan bergeser ke arah timur, menuju Sungai Cisadane yang memiliki aliran lebih luas dan masih menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Tangerang.
Perpindahan itu menjadi titik penting dalam perjalanan sejarah perahu naga di daerah ini.
Sekitar tahun 1900, Kapitan Tionghoa Tangerang, Oey Giok Koen, diketahui menyumbangkan sepasang perahu naga kepada komunitas setempat. Kehadiran perahu tersebut memperkuat tradisi perlombaan di Cisadane dan menjadi salah satu penanda bahwa sungai ini telah berkembang sebagai pusat pelaksanaan Peh Cun di Tangerang.
Sejak saat itu, perahu naga menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Tionghoa Benteng. Sebelum perlombaan dimulai, terdapat prosesi penghormatan terhadap perahu yang mencerminkan rasa syukur sekaligus penghargaan terhadap warisan budaya yang telah diwariskan lintas generasi.
Tradisi itu terus bertahan, bahkan ketika zaman berubah.
Kini, Festival Cisadane menghadirkan lomba perahu naga sebagai salah satu agenda paling dinanti. Yang menarik, peserta maupun penontonnya tidak lagi berasal dari satu komunitas. Sungai yang dahulu menjadi ruang perayaan budaya kini menjelma menjadi panggung bersama, tempat masyarakat dari beragam latar belakang menikmati warisan yang sama.
Di sinilah makna tradisi berkembang. Perahu naga tidak hanya mempertahankan nilai sejarahnya, tetapi juga menjadi simbol bagaimana sebuah budaya dapat diterima, dirawat, dan tumbuh bersama masyarakat yang semakin majemuk.
Festival Cisadane pun menjadi lebih dari sekadar pesta tahunan. Ia menghadirkan ruang bagi generasi muda untuk mengenal sejarah kotanya, sekaligus mengingatkan bahwa identitas Tangerang dibentuk oleh perjumpaan berbagai budaya yang telah berlangsung selama ratusan tahun.
Mungkin karena itulah perlombaan perahu naga selalu memiliki daya tarik tersendiri. Orang datang untuk menyaksikan adu cepat di atas air, tetapi pulang dengan membawa cerita yang lebih panjang daripada garis finis.
Sebab di Sungai Cisadane, setiap kayuhan bukan hanya mengejar kemenangan. Ia juga menghidupkan kembali ingatan tentang sebuah tradisi yang pernah berpindah tempat, menemukan rumah baru, lalu tumbuh menjadi bagian dari wajah kebudayaan Tangerang hingga hari ini. (*






