Jejak KataLiputan

Festival Cisadane Perkuat Jejak Budaya, Ekonomi, dan Kelestarian Lingkungan

×

Festival Cisadane Perkuat Jejak Budaya, Ekonomi, dan Kelestarian Lingkungan

Sebarkan artikel ini
Suasana pembukaan Festival Cisadane 2026 yang dipusatkan di bantaran Sungai Cisadane, Kota Tangerang. Event tahunan yang dihelat selama lima hari (22–26 Juli 2026) ini menawarkan beragam atraksi budaya dan hiburan menarik bagi masyarakat | Sumber: Prokopim Kota Tangerang

JEJAK KATA, Kota Tangerang — Setiap kota memiliki denyut yang membuatnya dikenang. Di Kota Tangerang, denyut itu mengalir bersama Sungai Cisadane—urat nadi yang selama berabad-abad menjadi saksi perjalanan perdagangan, perjumpaan budaya, hingga tumbuhnya peradaban di tepian air.

Di bantaran sungai inilah Festival Cisadane kembali digelar. Ia bukan lagi sekadar pesta rakyat yang dipenuhi cahaya lampion, perahu hias, aroma kuliner, dan riuh pertunjukan seni. Festival ini perlahan menjelma menjadi ruang tempat budaya, ekonomi, dan kepedulian terhadap alam bertemu dalam satu panggung yang sama.

Tahun 2026 menjadi penanda penting dalam perjalanan festival tersebut. Di tengah ribuan pengunjung yang datang dari berbagai daerah, transaksi ekonomi yang tercipta hampir menyentuh Rp10,5 miliar. Angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya tersimpan cerita tentang pelaku usaha kecil yang dagangannya laris, pengrajin lokal yang menemukan pasar baru, hingga hotel-hotel yang kembali dipenuhi wisatawan.

Bagi sebuah kota, festival bukan hanya soal keramaian sesaat. Ia adalah penggerak ekonomi yang menghidupkan banyak sektor sekaligus mempertemukan masyarakat dengan identitas budayanya sendiri.

Namun, di tengah geliat ekonomi yang terus bertumbuh, Pemerintah Kota Tangerang mencoba membawa Festival Cisadane melangkah lebih jauh. Ambisinya bukan sekadar menjadi festival yang ramai dikunjungi, melainkan menjadi green event—perhelatan budaya yang bertanggung jawab terhadap lingkungan.

Komitmen itu lahir dari kesadaran sederhana bahwa Sungai Cisadane bukan hanya latar sebuah festival. Ia adalah sumber kehidupan yang telah memberi ruang bagi masyarakat Tangerang sejak masa lampau. Menjaga sungai berarti menjaga sejarah sekaligus masa depan kota.

Karena itu, berbagai kegiatan lingkungan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Festival Cisadane 2026. Aksi bersih-bersih sungai, penanaman pohon, pengelolaan sampah, hingga edukasi lingkungan melibatkan masyarakat dari berbagai kalangan. Festival tidak berhenti pada panggung hiburan, tetapi juga menjadi ruang belajar tentang bagaimana sebuah perayaan dapat berlangsung tanpa meninggalkan beban bagi alam.

Wakil Wali Kota Tangerang, H. Maryono, menegaskan bahwa arah pengembangan Festival Cisadane tidak hanya diukur dari jumlah pengunjung atau besarnya nilai transaksi, tetapi juga dari manfaat jangka panjang yang dirasakan masyarakat dan lingkungan.

Menurutnya, Festival Cisadane harus berkembang menjadi ruang edukasi yang mampu menumbuhkan kesadaran bersama mengenai pentingnya menjaga kelestarian alam.

“Ini sangat membanggakan bahwa di tengah besarnya antusiasme festival, kita tetap menjaga komitmen terhadap kelestarian lingkungan. Kami berkomitmen agar Festival Cisadane di masa mendatang semakin berkualitas, tertata, inklusif, ramah lingkungan, dan memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Kota Tangerang,” ujar Maryono.

Semangat itu sejalan dengan pertumbuhan Festival Cisadane dari tahun ke tahun. Jika pada 2025 hanya diikuti sekitar 90 stan, tahun ini jumlahnya melonjak menjadi 190 booth. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin besarnya kepercayaan pelaku UMKM terhadap festival sebagai ruang promosi sekaligus pasar yang efektif.

Kenaikan omzet para pelaku usaha menjadi bukti bahwa sebuah festival budaya mampu memberikan manfaat nyata bagi ekonomi lokal. Efek berantainya pun terasa hingga sektor perhotelan yang mencatat peningkatan tingkat hunian seiring hadirnya wisatawan dari berbagai daerah.

Lebih dari sekadar agenda tahunan, Festival Cisadane kini menjadi etalase wajah Kota Tangerang. Melalui seni, kuliner, tradisi, dan keramahan masyarakatnya, kota ini memperkenalkan dirinya kepada Indonesia.

Pengakuan itu semakin kuat setelah Festival Cisadane masuk dalam daftar 125 Karisma Event Nusantara (KEN) 2026 yang ditetapkan Kementerian Pariwisata. Status tersebut bukan garis akhir, melainkan awal dari tantangan baru untuk terus meningkatkan kualitas penyelenggaraan agar mampu bersaing dengan festival-festival terbaik di Tanah Air.

Maryono optimistis, dengan kolaborasi pemerintah, pelaku usaha, komunitas, dan masyarakat, Festival Cisadane akan terus tumbuh menjadi ruang budaya yang membanggakan.

Pada akhirnya, Festival Cisadane bukan semata tentang panggung hiburan yang selesai ketika lampu-lampu dipadamkan. Ia adalah kisah tentang sebuah kota yang berusaha merawat ingatan kolektifnya melalui sungai, menggerakkan roda ekonomi melalui kreativitas masyarakat, sekaligus menanam harapan bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan.

Sebab, sungai yang bersih akan selalu membawa kehidupan. Dan festival yang baik bukan hanya meninggalkan tepuk tangan, melainkan juga jejak yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *