JEJAK KATA, Kota Tangerang — Di Stadion Mini Sudimara, Ciledug, lantunan ayat suci mulai mengisi udara. Bukan sekadar perlombaan, Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXV Kota Tangerang menjadi ruang tumbuh bagi generasi Qurani sekaligus panggung lahirnya talenta-talenta muda yang kelak membawa nama daerah ke tingkat yang lebih tinggi.
Sebanyak 651 kafilah dari 13 kecamatan mengikuti perhelatan yang berlangsung pada 27–30 Juli 2026. Selama empat hari, Ciledug berubah menjadi titik temu antara semangat berkompetisi, tradisi keilmuan Islam, dan harapan akan estafet prestasi.
Wali Kota Tangerang, Sachrudin, menegaskan bahwa MTQ bukan sekadar ajang berburu gelar atau mengejar winner mindset. Lebih dari itu, MTQ merupakan proses panjang pembinaan untuk melahirkan qari, qariah, hafiz, dan hafizah yang tumbuh dari potensi asli Kota Tangerang.
Menurutnya, prestasi terbaik lahir dari pembinaan yang konsisten, jujur, dan berkelanjutan. Karena itu, Pemerintah Kota Tangerang berkomitmen terus mengembangkan bibit-bibit terbaik sebagai bekal menghadapi MTQ tingkat Provinsi Banten.
Agar kompetisi berjalan kredibel, penyelenggara juga mengukuhkan 123 Dewan Hakim yang bertugas memastikan seluruh proses penilaian berlangsung profesional, objektif, dan akuntabel. Di tangan mereka, setiap lantunan ayat dinilai bukan hanya dengan ketelitian, tetapi juga amanah.
Lebih dari sebuah agenda tahunan, MTQ adalah pengingat bahwa syiar Al-Qur’an tidak hanya hidup di atas mimbar, melainkan juga tumbuh melalui generasi muda yang belajar, berlatih, dan berani tampil. Dari Ciledug, harapan itu kembali disemai—bahwa setiap suara yang mengalunkan ayat suci dapat menjadi cahaya yang menerangi masa depan Kota Tangerang. (*






