JEJAK KATA, Tangerang — Ada satu hal yang sering luput dari perencanaan ketika seseorang keluar rumah: perut punya agendanya sendiri. Mau berjalan-jalan, berbelanja, atau sekadar mencari tempat untuk duduk, pada akhirnya pertanyaan yang muncul hampir selalu sama: makan di mana?
Bagi warga Citra Raya dan sekitarnya, salah satu jawabannya bisa ditemukan di City Market Citra Raya, Kabupaten Tangerang. Namanya Kedai Solo, di Blok T 03/02.
Kedai ini menyajikan berbagai masakan Jawa yang rasanya lebih dekat dengan dapur rumah daripada menu restoran yang sibuk menjelaskan makanannya sendiri.
Gudeg menjadi salah satu andalan. Nasi bertemu gudeg, tahu-tempe bacem, dan telur bulat. Rasanya manis, seperti karakter masakan Jawa pada umumnya. Tapi jangan buru-buru menyimpulkan hidup terlalu manis.
Sambalnya manis-pedas dengan karakter Jogja-Solo. Ia datang belakangan, tetapi justru membuat gudeg terasa lebih hidup. Manisnya tidak dibiarkan sendirian. Pedasnya menjadi pengingat bahwa sarapan pun sesekali membutuhkan konflik.

Selain gudeg, tersedia botok, sosis Solo, pepes, semur jengkol, dan nasi pecel.
Minggu pagi. Nasi pecel layak menjadi pilihan bagi mereka yang datang setelah olahraga. Bumbunya kental dan gurih. Sayurannya disiram sambal pecel, lalu ditemani rempeyek yang renyah.
Di titik ini, istilah habis olahraga lalu makan banyak mungkin terdengar seperti pembenaran. Tetapi siapa yang tega menghakimi orang yang baru saja mengeluarkan keringat demi kesehatan?
Kedai Solo buka setiap hari mulai pukul 07.00, kecuali Senin. Pada akhir pekan, terutama Minggu, suasananya biasanya lebih ramai. Warga yang baru selesai berolahraga bercampur dengan pengunjung Pasar Kaget City Market.
Sebagian makan di tempat. Sebagian lainnya memilih membawa pulang masakan yang tersedia.
Pilihan take away itu cukup masuk akal. Ada kalanya memasak sendiri terasa seperti olahraga lanjutan yang tidak masuk jadwal.
Kedai Solo menawarkan masakan yang relatif sederhana: gudeg, pecel, pepes, botok, sosis Solo, hingga semur jengkol. Tidak ada pretensi bahwa makanan Jawa harus dibuat rumit agar tampak modern. Justru di situlah menariknya.
Di tengah Citra Raya yang terus tumbuh dengan ruko, pusat perdagangan, dan gaya hidup perkotaan, makanan rumahan masih punya cara sendiri untuk bertahan. Ia tidak perlu berbicara tentang branding, lifestyle, atau experience.
Cukup nasi hangat dan sambal. Selebihnya, lidah yang memutuskan. Dan untuk urusan perut, biasanya keputusan itu tidak membutuhkan rapat panjang. (*






