JEJAK KATA, Buton— Gempa bumi berkekuatan magnitudo 3,9 mengguncang wilayah laut di sekitar Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, pada Minggu, 20 September 2026. Gempa terjadi pada pukul 17.20.32 WIB dan dilaporkan dirasakan oleh masyarakat.
Berdasarkan informasi BMKG melalui peta ShakeMap, pusat gempa berada di laut, sekitar 32 kilometer sebelah selatan Buton. Episenter gempa tercatat pada koordinat 5,82 derajat Lintang Selatan dan 122,84 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 14 kilometer.
Kekuatan gempa memang tidak sampai membuat bumi seperti sedang menggelar demonstrasi besar-besaran. Namun, status gempa yang dirasakan tetap menjadi pengingat bahwa wilayah Indonesia tidak pernah benar-benar lepas dari aktivitas tektonik.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya gempa bumi susulan. Imbauan ini bukan alasan untuk panik, melainkan ajakan agar warga tidak menganggap remeh guncangan bumi.
Gempa dangkal di wilayah laut dapat dirasakan di sejumlah daerah, bergantung pada jarak episenter, kondisi geologi, serta karakteristik guncangan. Karena itu, informasi resmi menjadi penting agar masyarakat tidak mengambil kesimpulan berdasarkan pesan berantai atau kabar media sosial yang kerap lebih cepat daripada akurasinya.
Warga di sekitar wilayah terdampak diimbau tetap tenang, memeriksa kondisi bangunan apabila merasakan guncangan, dan mengikuti informasi dari kanal resmi BMKG. Masyarakat juga perlu menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar mengenai potensi bencana lanjutan.
Gempa kali ini kembali memperlihatkan bahwa alam tidak mengenal jadwal rapat, agenda seremonial, ataupun kalender pemerintahan. Ketika lempeng bumi bergerak, manusia hanya bisa memperkuat kesiapsiagaan dan memperbaiki cara membaca tanda-tanda alam.
Bagi masyarakat, kewaspadaan bukan berarti hidup dalam ketakutan. Kewaspadaan adalah kebiasaan sederhana: mengetahui informasi resmi, memahami jalur evakuasi, dan tidak menunggu kepanikan datang lebih dulu daripada penjelasan.
BMKG mengingatkan potensi gempa susulan. Maka, yang perlu disiapkan bukan kepanikan berjamaah, melainkan ketenangan, informasi yang benar, dan kesiapan menghadapi kemungkinan yang dapat terjadi. (*
Sumber: BMKG






