JEJAK KATA, Kota Tangerang – Ada sungai yang sekadar mengalir membawa air. Namun ada pula sungai yang mengalirkan sejarah, membentuk peradaban, sekaligus menyatukan manusia. Bagi Kota Tangerang, Sungai Cisadane adalah yang kedua. Sejak berabad-abad lalu, aliran sungai ini menjadi urat nadi perdagangan, tempat bertemunya berbagai etnis, hingga melahirkan kekayaan budaya yang masih hidup sampai hari ini.
Dari semangat itulah Festival Cisadane lahir. Bukan sekadar pesta rakyat tahunan, melainkan perayaan atas hubungan panjang antara manusia dan sungai yang telah membesarkan Kota Tangerang. Sejak pertama kali digelar pada awal dekade 1990-an, festival ini berkembang menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Banten, memadukan tradisi, seni, olahraga air, hingga denyut ekonomi kerakyatan.
Pada 2026, Festival Cisadane kembali hadir pada 22–26 Juli, menghidupkan tepian sungai yang selama lima hari berubah menjadi ruang perjumpaan ribuan warga. Aroma kuliner tradisional, suara musik, tabuhan seni budaya, dan semangat para pelaku usaha kecil menyatu dalam sebuah lanskap yang mengingatkan bahwa kebudayaan selalu berjalan berdampingan dengan kehidupan ekonomi masyarakat.
Salah satu magnet utama tahun ini adalah Gelar Karya UMKM, kawasan yang menghadirkan ratusan pelaku usaha lokal. Di setiap stan, pengunjung tidak hanya menemukan makanan khas, minuman tradisional, maupun produk kreatif, tetapi juga kisah tentang ketekunan para pelaku usaha yang tumbuh dari dapur rumah, gang-gang permukiman, hingga komunitas kreatif Kota Tangerang.
Bagi banyak pelaku UMKM, festival bukan hanya tempat berjualan. Ia menjadi panggung untuk memperkenalkan identitas daerah kepada para pengunjung sekaligus membuka peluang pasar yang lebih luas.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Tangerang, Boyke Urif Hermawan, mengatakan Festival Cisadane dirancang sebagai ruang yang mempertemukan hiburan, kebudayaan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
“Festival Cisadane bukan hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan ruang bagi pelaku UMKM untuk berkembang. Kami ingin masyarakat datang, menikmati seluruh rangkaian acara, sekaligus mendukung produk-produk lokal yang menjadi kebanggaan Kota Tangerang,” ujarnya.
Menurut Boyke, kehadiran ratusan stan UMKM diharapkan mampu menggerakkan roda perekonomian lokal sekaligus memperkenalkan beragam produk unggulan yang lahir dari kreativitas masyarakat Kota Tangerang.
Namun Festival Cisadane tidak berhenti pada urusan kuliner dan belanja. Sungai yang dahulu menjadi jalur perdagangan kembali menjadi panggung utama lewat lomba dragon boat, tradisi yang merefleksikan kedekatan masyarakat Tionghoa Benteng dengan Cisadane sekaligus menjadi ikon festival dari tahun ke tahun. Di sekitarnya, pertunjukan seni budaya, konser musik, festival band, hingga seremoni pembukaan menghadirkan suasana yang memadukan tradisi dengan energi kota modern.
Festival ini menunjukkan bahwa pembangunan sebuah kota tidak hanya diukur dari gedung-gedung tinggi atau jalan yang semakin lebar. Sebuah kota juga membutuhkan ruang yang merawat ingatan kolektif warganya. Ketika budaya dirawat, ekonomi rakyat diberi ruang tumbuh, dan sungai kembali menjadi pusat aktivitas masyarakat, maka sebuah festival telah menjalankan fungsi yang lebih besar daripada sekadar hiburan.
Karena pada akhirnya, Festival Cisadane bukan hanya tentang lima hari perayaan di tepian sungai. Ia adalah pengingat bahwa sejarah Kota Tangerang terus mengalir bersama arus Cisadane—menghubungkan masa lalu, menghidupkan masa kini, dan membuka harapan bagi masa depan. (*






