ADA satu benda yang paling jujur di negeri ini: sandal jepit. Ia tidak mengenal pangkat, tidak paham kasta, apalagi jabatan. Siapa pun yang memakainya akan tetap menginjak tanah yang sama. Lumpur tidak pernah bertanya apakah kaki itu milik pejabat atau buruh harian.
Sayangnya, manusia tidak sesederhana sandal jepit.
Di ujung gang, kekuasaan yang lahir dalam ukuran mini, atau dalam kemasan sachet. Wilayahnya hanya beberapa puluh rumah, kewenangannya tak lebih luas dari selokan dan pos ronda. Namun anehnya, ego yang tumbuh kadang lebih besar daripada luas wilayah teritorial siskamling.
Begitulah ketika sebuah amanah perlahan berubah menjadi mahkota. Yang semestinya menjadi pelayan warga, perlahan berubah menjadi penguasa halaman. Setiap keputusan seolah titah. Setiap perbedaan dianggap pembangkangan. Setiap kritik diterjemahkan sebagai ancaman terhadap martabatnya.
Sesungguhnya, makhluk semacam ini, tidak sedang memimpin warga. Ia sedang membangun singgasana kecil di sebuah Pos Ronda.
Yang paling menarik sebenarnya bukanlah kekuasaannya, melainkan cara mempertahankannya. Sebab singgasana paling rapuh selalu membutuhkan panggung paling megah.
Maka dimulailah pertunjukan. Ia memoles citra seperti mengecat pagar yang sudah keropos. Di depan umum tampil santun, murah senyum, penuh petuah. Di belakang layar, kebenaran dipilih berdasarkan siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan.
Logika kalah oleh loyalitas. Fakta dikalahkan oleh tepuk tangan. Suara yang berbeda dibungkam oleh koor para pengekornya.
Di lingkungan seperti itu, musyawarah hanyalah formalitas. Keputusan sesungguhnya telah selesai dibuat sebelum rapat dimulai. Yang dicari bukan kesepakatan, melainkan legitimasi.
Ironisnya, selalu ada orang-orang yang rela menjadi cermin. Apa pun yang dipantulkan sang penguasa akan mereka sebut cahaya. Bahkan ketika yang tampak sesungguhnya hanya bayangan.
Mereka menyebut keberanian sebagai kesombongan jika datang dari rakyat biasa. Namun menyebut kesombongan sebagai ketegasan jika berasal dari orang yang memegang stempel.
Di sinilah kesenjangan sosial menemukan bentuknya yang paling sunyi.
Bukan soal siapa memiliki rumah terbesar atau kendaraan termewah. Melainkan tentang siapa yang boleh berbicara dan siapa yang harus diam. Tentang siapa yang selalu dipercaya meski keliru, dan siapa yang selalu dicurigai meski benar.
Kebenaran ternyata tidak selalu menang. Ia sering kalah jumlah. Sebab dalam masyarakat yang dikuasai koloni, suara terbanyak kerap diperlakukan sebagai ukuran moral. Padahal sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa mayoritas tidak otomatis berada di pihak yang benar. Mereka hanya lebih ramai.
Sementara itu, orang-orang kecil hanya bisa saling berpandangan. Mereka belajar bahwa melawan bukan sekadar soal keberanian, melainkan juga soal kesiapan menghadapi penghakiman sosial.
Label lebih cepat menyebar daripada fakta. Fitnah lebih laris daripada klarifikasi. Dan citra lebih mahal daripada kejujuran.
Akhirnya lahirlah pemimpin yang begitu sibuk menjaga wibawa hingga lupa menjaga hati. Ia mengira dihormati, padahal hanya ditakuti. Ia merasa disegani, padahal sekadar dihindari. Ia menikmati tepuk tangan yang sesungguhnya lahir dari rasa sungkan, bukan rasa hormat.
Padahal kekuasaan memiliki sifat yang sama dengan sandal jepit. Ia mudah putus. Yang membedakan hanyalah waktunya. Ketika jabatan berakhir, yang tersisa bukan papan nama di depan rumah, bukan pula cap stempel yang dulu begitu dibanggakan. Yang tinggal hanyalah cerita warga.
Apakah ia dikenang sebagai tetangga yang mengayomi? Ataukah sebagai penguasa kecil yang sibuk mempertahankan kasta, seolah-olah ujung gang adalah pusat alam semesta?
Sandal jepit tidak pernah berebut tempat paling tinggi di rak sepatu. Ia tahu bahwa tugasnya bukan untuk dipuja, melainkan untuk mengantar langkah. Barangkali, justru dari benda yang paling murah itulah manusia perlu belajar. Sebab kekuasaan yang paling mulia bukanlah yang membuat orang tunduk, melainkan yang membuat orang tetap tegak tanpa harus kehilangan martabatnya. (*
Oleh: Jejak Kata






