EsaiJejak Kata

Botok Cs dan Jalan Terjal Demokrasi: Wani Nglurug, Ora Wani Rusuh

×

Botok Cs dan Jalan Terjal Demokrasi: Wani Nglurug, Ora Wani Rusuh

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI

OPINI — Dalam politik, jalan mencapai tujuan tidak selalu berupa karpet merah. Kadang justru berupa aspal, pagar besi, pengeras suara, dan panasnya demonstrasi. Di sanalah Supriyono alias Botok, Koordinator Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB), bersama kelompoknya menemukan panggung politiknya.

Berawal dari keresahan lokal, soal kenaikan pajak bumi dan bangunan, gerakan itu melompat pagar isu dan tiba di depan Gedung DPR RI pada Agustus 2026. Tuntutannya pun tidak njlimet: RUU Perampasan Aset disahkan paling lambat 15 Desember 2026 dan hukuman mati bagi koruptor.

Dalam bahasa Jawa ada ungkapan alon-alon waton kelakon. Namun Botok Cs tampaknya memilih tafsir lain: tidak harus pelan, tetapi harus tahu arah.

Di tengah demonstrasi yang kerap mudah berubah menjadi rusuh rame, mereka mencoba menjadikan jalanan sebagai ruang negosiasi. Bukan sekadar mengandalkan wani ngalah luhur wekasane, tetapi juga menghitung kapan harus maju dan kapan mesti mundur.

Kalimat Botok, “Demo bukan sekadar punya nyali, tapi juga adu strategi,” menjadi semacam sangkan paran dari gerakan tersebut. Ketika muncul kekhawatiran mengenai penyusup, provokasi, atau skenario kekacauan, massa warga Pati justru ditarik mundur.

Bagi sebagian orang, langkah itu mungkin terlihat seperti antiklimaks. Dalam logika demonstrasi, mundur kadang dianggap kehilangan muka. Tetapi dalam politik, menjaga massa tetap aman juga bagian dari kemenangan. Ora kabeh perang kudu nganggo keris.

Yang menarik, pintu parlemen akhirnya terbuka. Perwakilan massa diterima masuk dan dapat mengawal proses dari balkon Ruang Paripurna DPR RI. Jalanan, yang biasanya hanya menjadi tempat berteriak, berubah menjadi ruang komunikasi dengan lembaga negara.

Di titik inilah fenomena Botok Cs patut dibaca secara lebih jernih. Mereka bukan satu-satunya wajah gerakan rakyat dan tentu bukan pula ukuran tunggal keberhasilan demokrasi. Namun mereka memperlihatkan bahwa isu dari desa dapat menyeberang ke pusat kekuasaan tanpa harus terlebih dahulu mengenakan jas partai.

Ada kritik terhadap cara mereka bergerak, termasuk keputusan menarik massa setelah audiensi. Kritik itu sah. Demokrasi memang bukan panggung wayang kulit yang hanya mengenal satu dalang dan satu cerita.

Namun ada satu pelajaran yang layak dicatat: ketika niat baik menemukan jalannya, jalan itu bisa saja muncul dari tempat yang tidak disangka-sangka. Bagi Botok Cs, jalannya bukan ruang rapat berpendingin udara, melainkan jalanan yang panas, bising, dan penuh risiko.

Tentu, niat baik saja tidak cukup. Ia harus diuji oleh konsistensi, transparansi, dan hasil. Sebab setelah tepuk tangan demonstrasi mereda, yang tersisa adalah pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit: apakah janji politik benar-benar menjadi kebijakan?

Wong cilik boleh mengetuk pintu kekuasaan. Tetapi setelah pintu dibuka, pekerjaan belum selesai. Janji harus menjadi aturan, aturan harus menjadi tindakan, dan tindakan harus terasa sampai ke rakyat.

Kalau tidak, politik jalanan hanya akan menjadi kembang lambe—indah ketika diucapkan, tetapi layu sebelum menjadi kenyataan.


Oleh: Jejak Kata

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *