Jejak KataWisata dan Kuliner

Tenda Kuliner 888 CitraRaya, Ketika Suasana Kaki Lima Menolak Punah

×

Tenda Kuliner 888 CitraRaya, Ketika Suasana Kaki Lima Menolak Punah

Sebarkan artikel ini
Tenda Kuliner 888 Eco Plaza CitraRaya Tangerang yang masih bertahan | Foto: Dok. Widi Hatmoko

KULINER — Malam di CitraRaya punya banyak pilihan. Restoran berdinding kaca, kedai kopi dengan pendingin udara, hingga pusat kuliner yang menawarkan menu dari berbagai penjuru. Namun, di antara gemerlap kawasan komersial itu, tenda-tenda kuliner masih bertahan: Tenda Kuliner 888.

Menjelang malam, tempat ini mulai hidup. Lampu-lampu tenda menyala. Aroma sate, ayam, mi, seafood, dan kuah panas bercampur dengan suara percakapan pengunjung. Musik ikut mengisi ruang terbuka.

Tidak ada kesan bahwa pengunjung sedang terburu-buru.

Mereka datang bukan hanya untuk makan. Ada yang membawa keluarga, bertemu teman, berbincang, atau sekadar mencari tempat duduk setelah seharian berhadapan dengan rutinitas.

Di sinilah tenda kuliner memperoleh makna yang lebih luas. Ia bukan sekadar tempat menjual makanan, melainkan semacam ruang publik informal—tempat orang bertemu tanpa harus membuat janji di ruang rapat atau restoran mahal.

Kaki Lima, tetapi Naik Kelas

Konsep yang ditawarkan Tenda Kuliner 888 bisa disebut sebagai kaki lima premium. Istilah itu terdengar seperti dua dunia yang dipertemukan. Kaki lima identik dengan harga terjangkau, ruang terbuka, dan suasana santai. Sementara kata premium biasanya mengingatkan orang pada tempat makan yang lebih tertata.

Di sini keduanya dicoba dipertemukan.

Pengunjung tetap mendapatkan sensasi makan di ruang terbuka, tetapi dengan kawasan yang lebih tertata dan pilihan tenant yang beragam. Model semacam ini menjadi menarik di tengah perubahan wajah kawasan urban yang semakin dipenuhi bangunan komersial.

Tenda tidak lagi sekadar tempat sementara yang muncul ketika malam tiba. Ia justru menjadi bagian dari lanskap kuliner kawasan.

Dan yang menarik, konsep semacam ini mengingatkan pada suasana kawasan kuliner seperti Pasar Lama Kota Tangerang: orang datang bukan hanya karena lapar, tetapi juga karena ingin menikmati suasana.

Life Music menjadi salah satu daya tarik tenda Kuliner 888 Eco Plaza CitraRaya | Foto: Dok. Widi Hatmoko

Dari Mi Ayam sampai Sate Taichan

Pilihan makanan di Tenda Kuliner 888 cukup beragam. Pengunjung bisa memilih Mie Ayam Bang Bestiee, Sate Taichan Si Wali, Sop & Sate Kambing Tiga Saudara, Nasi Uduk Andalan, Bubur Ayam Ko Ginhan, Doyan Ayam, hingga Jes’s Seafood.

Ada pula Soto Ayam Ambengan Pak Sadi (Asli), Steak 36, Seafood dan Nasi Uduk Pak Jhon, Pempek Aa Palembang, Roti Bakar 799, Japanese Food Azami, serta Bakso dan Soto Mie Empok Be’ah.

Untuk mereka yang ingin mencoba menu berbeda, ada Fukwa, Euro Bite, dan Koko Kerang 168. Sementara pilihan minuman tidak kalah ramai. Ada Wedang Ronde Garsel, Teh Tarik Malaka, WB Thai Tea, Es King Pucok, Es Putra Sinar Garut, hingga It’s Coco Time.

Keragaman itu membuat konsep tenda ini tidak terpaku pada satu jenis makanan. Dalam satu meja, orang bisa saja memesan menu Nusantara, sementara teman di sebelahnya memilih makanan bergaya Jepang atau camilan kekinian.

Begitulah cara ruang kuliner bertahan: bukan dengan menyuruh pengunjung memilih satu selera, tetapi menyediakan banyak alasan untuk kembali.

Cap Badak, Tamu dari Pematangsiantar

Salah satu yang cukup menarik adalah kehadiran Badak, minuman soda sarsaparilla legendaris asal Pematangsiantar, Sumatera Utara.

Minuman yang dikenal pula dengan nama Cap Badak itu memiliki sejarah panjang. Produk ini mulai diproduksi sejak 1916 dan menjadi salah satu minuman yang lekat dengan tradisi kuliner Sumatera Utara.

Di Tenda Nasi Uduk Andalan, pengunjung bisa mencicipinya sambil menikmati nasi uduk.

Pertemuan dua tradisi ini terasa seperti perjalanan pendek tanpa perlu meninggalkan CitraRaya: nasi uduk dari khazanah kuliner Nusantara bertemu minuman sarsaparilla dari Sumatera Utara.

Bagi sebagian orang, mungkin hanya sebatas makan malam. Namun bagi yang lain, pengalaman semacam itu justru yang dicari. Makanan bukan cuma soal rasa kenyang. Ia membawa cerita, ingatan, bahkan identitas.

Tempat Makan yang Berubah Menjadi Ruang Sosial

Ada alasan mengapa tempat makan terbuka masih mempunyai penggemar, meski pusat kuliner modern terus bermunculan. Jawabannya mungkin sederhana: suasana.

Restoran menyediakan meja dan kursi. Tenda kuliner menyediakan meja, kursi, sekaligus kemungkinan bertemu dengan banyak orang.

Di ruang terbuka, batas antara satu kelompok dan kelompok lain terasa lebih cair. Anak-anak bisa menikmati suasana, orang tua berbincang, anak muda berkumpul, sementara musik mengisi jeda di antara percakapan.

Karena itu, keberadaan Tenda Kuliner 888 tidak cukup dilihat sebagai destinasi wisata kuliner keluarga. Ia juga menjadi ruang sosial. Tempat orang membuat janji, merayakan sesuatu, mengobrol panjang, atau sekadar menghabiskan malam tanpa agenda yang terlalu serius.

Barangkali justru di situlah kekuatan kaki lima: ia tidak pernah menjanjikan kemewahan berlebihan. Ia hanya menawarkan tempat untuk duduk, makan, berbincang, dan menikmati malam.

Ketika Tenda Menjadi Bagian dari Kota

CitraRaya terus tumbuh. Perumahan, pusat perdagangan, restoran, dan ruang komersial datang silih berganti. Dalam perkembangan semacam itu, ruang kuliner terbuka seperti Tenda Kuliner 888 menjadi pengingat bahwa kota tidak hanya membutuhkan bangunan, tetapi juga tempat untuk berinteraksi.

Tenda boleh sederhana. Tetapi aktivitas di dalamnya tidak sederhana.

Ada ekonomi yang bergerak, pekerja yang mencari nafkah, pedagang yang mempertahankan usahanya, keluarga yang menghabiskan waktu bersama, dan pertemanan yang dirawat sambil menyeruput minuman.

Maka, jika malam santai Anda belum punya agenda, Tenda Kuliner 888 bisa menjadi salah satu pilihan.

Bukan sekadar untuk mengisi perut. Datanglah untuk melihat bagaimana kaki lima mencoba naik kelas tanpa kehilangan wataknya: terbuka, santai, ramai, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Tenda Kuliner 888 Eco Plaza CitraRaya berada di Parkiran Barat Mall Eco Plaza CitraRaya, Blok VE, Jalan Ecopolis CitraRaya No. 7, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, Banten.

Tempat ini beroperasi mulai pukul 16.00 hingga 23.00 WIB. Ketika malam turun dan pusat-pusat kuliner mulai menyalakan lampunya, tenda-tenda itu pun membuka lapaknya. Mereka seperti hendak mengatakan satu hal: kaki lima belum selesai. Ia hanya sedang belajar tampil lebih rapi. (*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *