OPINI — Enam gunung api Indonesia sibuk hampir bersamaan. Anak Krakatau bergolak di Selat Sunda. Semeru mengepulkan aktivitasnya di Jawa Timur. Ili Lewotolok dan Lewotobi Laki-Laki bergerak di Nusa Tenggara Timur. Gunung Ibu aktif di Halmahera Barat. Sinabung juga kembali masuk dalam catatan aktivitas pada rentang akhir Agustus hingga awal September 2026.
Di media sosial, peristiwa itu mudah dirangkai menjadi sebuah cerita besar: seolah-olah ada sesuatu di bawah tanah Indonesia yang sedang menekan tombol secara bersamaan.
Cerita semacam itu terdengar dramatis. Masalahnya, geologi tidak bekerja seperti grup percakapan yang semua anggotanya mendapat pesan yang sama.
Badan Geologi dan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menjelaskan bahwa gunung-gunung api tersebut memiliki sistem vulkanik masing-masing. Dapur magma, saluran, tekanan fluida, dan proses menuju erupsi berlangsung dalam sistem yang berbeda.
Artinya, erupsi Anak Krakatau tidak otomatis membuat Semeru ikut meletus. Begitu pula aktivitas Gunung Ibu tidak menjadi pemicu langsung bagi Ili Lewotolok.
Ketika kebetulan terlihat seperti pola
Erupsi yang waktunya berdekatan bukan sesuatu yang mustahil. Indonesia memiliki sekitar 127 gunung api aktif yang tersebar di jalur Cincin Api Pasifik. Dengan jumlah sebanyak itu, beberapa gunung berada dalam fase aktivitas tinggi pada waktu yang berdekatan bukanlah keanehan geologi.
Ahli gempa Daryono menjelaskan fenomena tersebut sebagai bagian dari dinamika tektonik dan vulkanik yang memang berlangsung di kawasan Indonesia.
Ibaratnya sederhana: banyak orang bisa makan siang pada pukul 12. Bukan karena satu orang memerintahkan semuanya membuka kotak nasi, melainkan karena jam makan mereka kebetulan beririsan.
Gunung api pun memiliki “jadwal” geologisnya sendiri.
Ada gunung yang tekanan magmanya meningkat. Ada yang mengalami perubahan suplai magma. Ada pula yang aktivitasnya dipengaruhi dinamika fluida di dalam tubuh gunung. Ketika kondisi itu mencapai ambang tertentu, erupsi terjadi.
Bukan ramalan, bukan pula tanda kiamat geologi
Kemunculan beberapa erupsi dalam rentang waktu berdekatan kemudian melahirkan spekulasi tentang “bencana besar nasional”. Padahal, dari sudut pandang vulkanologi, tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa enam erupsi tersebut merupakan satu rangkaian yang dikendalikan oleh satu sumber penyebab.
Gunung api memang berada dalam lingkungan tektonik yang sama-sama aktif. Indonesia terletak pada kawasan pertemuan sejumlah lempeng bumi dan menjadi bagian penting dari Ring of Fire.
Namun berada dalam satu kawasan tektonik bukan berarti semua gunung memiliki hubungan langsung di bawah tanah.
Tidak ada “pipa magma raksasa” yang menghubungkan Anak Krakatau dengan Semeru, lalu bercabang menuju Flores dan Maluku.
Yang ada adalah sistem-sistem vulkanik yang bekerja sendiri-sendiri di dalam sebuah negeri yang memang sangat aktif secara geologis.
Yang perlu ditakuti bukan ramalannya
Kebetulan waktu erupsi bukan alasan untuk mengabaikan gunung api. Sebaliknya, yang perlu diperhatikan adalah data pemantauan setiap gunung: kegempaan, deformasi, emisi gas, perubahan visual, hingga karakter erupsi.
Karena itu, masyarakat di sekitar gunung api diminta mengikuti informasi PVMBG dan Magma Indonesia, bukan ramalan yang beredar di media sosial.
Radius aman juga harus dipatuhi sesuai rekomendasi masing-masing gunung. Sebab bahaya erupsi bukan ditentukan oleh seberapa banyak gunung yang sedang aktif, melainkan oleh karakter dan tingkat aktivitas setiap gunung.
Enam gunung yang aktif berdekatan waktunya bukan sedang melakukan “konferensi bawah tanah”. Mereka hanya menunjukkan satu kenyataan lama tentang Indonesia: negeri ini berdiri di atas salah satu panggung geologi paling aktif di planet ini.
Dan dalam urusan gunung api, kebetulan bukan ramalan. Data tetap lebih penting daripada firasat. (*
Oleh: Jejak Kata






