BUDAYA — Seratus hari setelah Nasirun berpulang, dunia seni rupa diajak menengok kembali satu hal yang kerap luput dari perhatian: dari siapa seorang seniman belajar melihat, merasakan, dan menemukan bahasa estetikanya sendiri?
Kematian memang mengakhiri perjalanan seseorang, tetapi tidak serta-merta menghentikan percakapan yang pernah dibangunnya. Pada Nasirun (1965–2026), percakapan itu terus hidup melalui karya, persahabatan, humor, dan penghormatannya kepada para guru.
Bagi Nasirun, guru bukan semata-mata orang yang mengajarkan teknik menggambar atau memperkenalkan teori seni. Guru adalah peletak fondasi, penunjuk jalan, sekaligus sumber nilai yang membentuk perjalanan kreatif seorang seniman. Karena itu, menghormati para pendahulu bukan sekadar basa-basi atau formalitas dalam pergaulan seni. Ada kesadaran sejarah dan pengakuan terhadap mata rantai pengetahuan di dalamnya.
Pandangan itulah yang hendak dihidupkan kembali Bentara Budaya Yogyakarta melalui pameran bertajuk GURUUU… TABIK GURUUU! Pameran ini digelar untuk memperingati 100 hari berpulangnya Nasirun.
Sejumlah karya dari koleksi pribadi almarhum akan dipamerkan. Termasuk karya para seniman yang menjadi guru dan panutannya, seperti Fadjar Sidik, Widayat, Sunarto PR, Djoko Pekik, dan Supono PR.
Nama-nama tersebut bukan sekadar deretan maestro dalam sejarah seni rupa Indonesia. Mereka merupakan bagian dari mata rantai pengetahuan, pengalaman, dan keberanian artistik yang turut membentuk generasi berikutnya.
Di sinilah pameran ini menemukan relevansinya. Seni tidak pernah benar-benar tumbuh dari ruang kosong. Seorang perupa mungkin memiliki kebebasan menentukan garis, warna, bentuk, dan medium, tetapi selalu ada jejak perjumpaan yang membentuk cara pandangnya. Bahkan, sesuatu yang dianggap sebagai kebaruan sering kali lahir dari dialog panjang dengan warisan masa lalu.
Guru Tidak Selalu Berdiri di Depan Kelas
Bentara Budaya tidak membatasi makna guru pada sosok pendidik formal. Para seniman yang diundang justru diajak menafsirkan guru secara lebih luas dan personal.
Guru bisa berupa bentang alam yang mengajarkan kesabaran, tradisi leluhur yang menyimpan ingatan, peristiwa sejarah yang meninggalkan luka, atau pengalaman getir yang mengubah cara seseorang memahami kehidupan. Bahkan, sesama seniman yang tanpa sadar memantik kesadaran kreatif orang lain pun dapat menjadi guru.
Pemaknaan tersebut membuka pertanyaan yang lebih mendasar: benarkah seorang seniman sepenuhnya berdiri sendiri ketika menghasilkan karya?
Barangkali tidak. Di balik sebuah lukisan, patung, instalasi, atau eksperimen medium, selalu ada pengalaman yang pernah singgah. Ada sosok yang dikagumi, peristiwa yang membekas, pengetahuan yang diwariskan, atau bahkan pemikiran yang pernah ditentang.
Sebab, kepengaruhan tidak selalu berarti meniru. Seorang murid justru dapat menemukan identitas artistiknya ketika berani melampaui apa yang pernah diajarkan gurunya. Pengaruh bukan borgol kreativitas, melainkan salah satu titik berangkat untuk menemukan kemungkinan baru.
Menghormati guru juga bukan berarti membekukan kreativitas dalam bayang-bayang masa lalu. Sebaliknya, penghormatan dapat menjadi keberanian untuk meneruskan, mengembangkan, bahkan mengkritisi warisan yang diterima.
Dalam seni, kesetiaan kepada guru tidak harus dibuktikan dengan kemiripan karya. Terkadang, justru dengan menemukan jalan yang berbeda, seorang murid menunjukkan bahwa pelajaran gurunya benar-benar telah bekerja.

Studio yang Terbuka, Seni yang Tidak Berjarak
Satu bagian menarik dari pameran ini adalah ruang interaksi langsung atau live painting.
Bentara Budaya Yogyakarta menyediakan meja, kursi, serta perlengkapan menggambar dan melukis di ruang tengah. Sepanjang pameran berlangsung, seniman dan pengunjung dipersilakan berkarya secara spontan. Karya yang lahir dari interaksi tersebut akan langsung dipajang dan menjadi bagian dari keseluruhan pameran.
Konsep ini seperti menghadirkan kembali suasana studio Nasirun yang dikenal terbuka bagi siapa saja.
Studio bukan sekadar tempat seorang seniman menyendiri untuk bekerja. Ia juga dapat menjadi ruang perjumpaan, tempat gagasan saling bersinggungan dan pengalaman kreatif dibagikan. Di sana, batas antara seniman dan pengunjung menjadi lebih cair.
Seni tidak harus selalu hadir sebagai benda yang selesai, dibingkai, lalu dipandang dari kejauhan. Seni juga bisa menjadi percakapan yang tumbuh di antara orang-orang yang bersedia saling belajar.
Barangkali di situlah salah satu warisan penting Nasirun: keterbukaan untuk berbagi ruang, pengetahuan, dan pengalaman. Sebuah sikap yang mengingatkan bahwa dunia seni tidak semestinya menjadi menara gading yang hanya bisa dimasuki mereka yang merasa paling memahami seni.
Pada akhirnya, GURUUU… TABIK GURUUU! bukan sekadar pameran untuk mengenang seorang sahabat yang telah berpulang. Ia merupakan ajakan untuk membaca kembali hubungan antara guru, murid, dan perjalanan penciptaan. Sekaligus pengingat bahwa sejarah seni tidak dibangun oleh individu-individu yang berjalan sendirian.
Ada guru yang mewariskan pengetahuan. Ada murid yang mengolahnya menjadi kebaruan. Ada pula generasi berikutnya yang meneruskan percakapan itu dengan bahasa zamannya sendiri.
Seratus hari setelah Nasirun berpulang, penghormatan paling bermakna bukan semata-mata mengenang sosoknya, melainkan merawat nilai-nilai yang pernah ia hidupi. Sebab, seorang seniman boleh meninggalkan dunia, tetapi gagasan, pengetahuan, dan kebaikan yang diwariskannya tidak harus ikut terkubur.
Guru boleh berpulang, tetapi pelajaran tidak mengenal kematian. Tabik, guru. Tabik, Nasirun.
Oleh: Jejak Kata






