HeadlineSoft News

Jejak Toyota: Tujuh Tiara, Seratus Land Cruiser, dan Sejarah yang Terlupakan

×

Jejak Toyota: Tujuh Tiara, Seratus Land Cruiser, dan Sejarah yang Terlupakan

Sebarkan artikel ini
ILUSTRASI | Salah satu mobil toyota lawas | Dok. Istimewa

OTOMOTIF – Jauh sebelum Toyota Avanza memenuhi jalanan perkotaan, Kijang menjadi kendaraan keluarga, dan Fortuner identik dengan mobil SUV kelas menengah atas, Toyota sudah lebih dahulu menjejakkan roda di Indonesia.

Sejarahnya bermula pada awal 1960-an. Saat itu, mobil Jepang belum menjadi pilihan utama masyarakat. Jalanan Indonesia masih didominasi kendaraan peninggalan Eropa dan Amerika. Nama Toyota pun belum memiliki tempat istimewa dalam ingatan konsumen.

Namun, sebuah sedan bernama Toyota Tiara dan jip Land Cruiser perlahan membuka jalan bagi merek Jepang tersebut.

Ada nama Agustinus Hardjo Budi atau A.H. Budi yang kerap disebut dalam catatan sejarah awal Toyota di Indonesia. Ia dikenal sebagai salah satu perintis bisnis Toyota melalui perusahaan yang kemudian berkembang menjadi Nasmoco Group.

Kisah ini bukan semata-mata tentang masuknya sebuah merek otomotif. Di dalamnya ada cerita perdagangan, kebijakan pemerintah, hubungan bisnis lintas negara, hingga perubahan wajah industri kendaraan nasional.

Toyota Tiara: Sedan Kecil yang Membuka Jalan

A.H. Budi bukan nama yang banyak dikenal masyarakat otomotif di luar Jawa Tengah. Namun, dalam sejarah jaringan Toyota di Indonesia, namanya memiliki tempat tersendiri.

Bersama Hadi Soejanto, Bambang Budi Hariono, dan H. Zoebaidi Maksoem, A.H. Budi mendirikan PT Ratna Dewi Motor pada 15 April 1961. Perusahaan inilah yang kemudian berkembang menjadi PT New Ratna Motor dan dikenal melalui jaringan diler Nasmoco.

Catatan sejarah Nasmoco menyebutkan, bisnis perusahaan bermula dari pembelian sedan Toyota Tiara impor di Jakarta. Mobil tersebut kemudian mendapatkan pesanan tujuh unit dari Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Tengah.

Ada catatan lain yang lebih spesifik. Wartawan otomotif Suryo Sudjatmiko, dalam tulisannya di Otodriver pada 2 Februari 2020, menyebut A.H. Budi mendatangkan tujuh Toyota Tiara melalui Toyota Toyoped Thailand. Mobil-mobil tersebut dikirim dalam kondisi semi knock down (SKD), kemudian dirakit secara manual di garasi rumah di Semarang.

SKD merupakan metode pengiriman kendaraan dalam bentuk komponen atau bagian yang belum sepenuhnya dirakit. Metode ini memungkinkan kendaraan dirakit di negara tujuan.

Tujuh unit itu menjadi cerita menarik tentang bagaimana bisnis otomotif Jepang mulai mencari ruang di pasar Indonesia. Tidak ada gedung perakitan megah, jaringan diler modern, atau pusat distribusi berskala nasional. Ada pengusaha lokal, garasi rumah, dan keberanian membaca peluang.

Respons pasar Semarang kemudian mendorong PT Ratna Dewi Motor mendatangkan produk Toyota lainnya, termasuk truk FA-100 dan jip Land Cruiser FJ-40.

Dari penjualan kendaraan, bisnis berkembang ke pelayanan bengkel dan penyediaan suku cadang. Model bisnis yang belakangan menjadi standar industri otomotif itu mulai dibangun sejak masa awal.

Seratus Land Cruiser dan Jejak Reparasi Perang

Sementara Toyota Tiara memasuki pasar melalui jalur perdagangan, Land Cruiser memiliki cerita berbeda.

Toyota mencatat dalam arsip sejarah korporasinya, pada 1961 perusahaan menerima pesanan besar kendaraan truk dan Land Cruiser untuk Kepolisian Nasional Indonesia. Pengadaan tersebut merupakan bagian dari kompensasi perang Jepang.

Dua tahun kemudian, pada Juni 1963, pemerintah Indonesia kembali melakukan pemesanan besar. Toyota mencatat pesanan sebanyak 913 unit truk besar dan Land Cruiser dalam rangka kompensasi tersebut.

Catatan ini penting karena memperlihatkan bahwa kehadiran Toyota pada masa awal tidak semata-mata didorong pasar mobil pribadi. Pengadaan pemerintah dan kebutuhan kendaraan operasional turut membuka pintu bagi produsen Jepang.

Land Cruiser memiliki karakter yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Kendaraan ini dikenal sebagai jip tangguh untuk medan berat, sehingga relevan digunakan dalam kegiatan pemerintahan dan operasional di berbagai wilayah.

Dalam buku Sejarah Mobil & Kisah Kehadiran Mobil di Negeri Ini (2012), wartawan otomotif James Luhulima juga mencatat pengadaan 100 unit jip Toyota Land Cruiser FJ Series pada 1961 oleh Kementerian Transmigrasi, Koperasi, dan Pembangunan Masyarakat Desa.

Angka 100 unit tersebut kerap muncul dalam berbagai tulisan sejarah otomotif Indonesia. Namun, catatan resmi Toyota menyebut pesanan 1961 secara lebih umum sebagai pesanan truk dan Land Cruiser untuk kepolisian. Karena itu, kedua catatan tersebut perlu dibedakan, bukan dianggap sebagai satu transaksi yang sama.

Tahun 1968: Toyota Mulai Menata Kehadiran

Memasuki akhir 1960-an, Toyota mulai membangun pijakan yang lebih terorganisasi di Indonesia.

Pada 1968, Toyota membuka kantor perwakilan di Jakarta. Catatan resmi Toyota Motor Corporation menyebut kantor tersebut dibuka pada Oktober 1968 dan ditutup pada Desember 1971.

Pada masa yang hampir bersamaan, perusahaan-perusahaan lokal mulai memainkan peran penting dalam perdagangan kendaraan Toyota.

Salah satunya NV Hadji Kalla Trading Company di Makassar. Perusahaan yang didirikan Hadji Kalla dan Hajjah Athirah pada 1952 itu mulai masuk ke bisnis Toyota pada akhir 1960-an.

Situs resmi Kalla mencatat, pada 1967 Hadji Kalla menyerahkan kepemimpinan bisnis kepada Jusuf Kalla. Perusahaan kemudian mulai menjadi importir Toyota dan membangun jaringan distribusi di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.

Sementara situs Kalla Toyota menyebut Jusuf Kalla dan ayahnya mulai berdagang mobil pada 1969, sebelum kemudian ditunjuk sebagai distributor resmi Toyota untuk wilayah Sulawesi. Perbedaan penyebutan tahun tersebut menunjukkan perlunya membedakan awal aktivitas perdagangan dengan penunjukan sebagai distributor resmi.

Perjalanan Toyota di Indonesia juga belum bisa disebut sebagai industri perakitan nasional pada 1968. Arsip Toyota justru mencatat bahwa perakitan truk besar dan Land Cruiser di PT Gaya Motor baru dimulai pada Mei 1970.

Perbedaan ini penting. Impor kendaraan dalam bentuk SKD, aktivitas perdagangan, pembukaan kantor perwakilan, dan perakitan resmi merupakan tahapan berbeda dalam sejarah industri otomotif.

1971: Lahirnya Toyota Astra Motor

Titik perubahan berikutnya datang pada April 1971. Toyota bersama Astra mendirikan PT Toyota-Astra Motor (TAM).

Pembentukan perusahaan ini menjadi fondasi pengelolaan bisnis Toyota yang lebih terstruktur di Indonesia, terutama dalam urusan distribusi, pemasaran, dan pengembangan jaringan penjualan.

Setelah itu, perakitan sejumlah model Toyota mulai berkembang. Pada Mei 1971, Corona mulai dirakit di Gaya Motor. Januari 1972, giliran Corolla yang memasuki jalur perakitan.

Kemudian pada 1974, perakitan Land Cruiser dimulai di Multi Astra. Asia

Bagi industri otomotif Indonesia, perubahan tersebut bukan sekadar urusan memasang komponen kendaraan. Perakitan lokal menjadi salah satu pintu untuk membangun kemampuan industri, jaringan pemasok, tenaga kerja, dan ekosistem purna jual.

Toyota pun tidak lagi hanya hadir sebagai merek kendaraan impor. Perusahaan mulai membangun fondasi produksi di dalam negeri.

Dari Garasi Rumah Menuju Kijang

Salah satu babak paling penting dalam perjalanan Toyota Indonesia terjadi pada 1977. Toyota mulai merakit Basic Utility Vehicle (BUV), kendaraan yang kemudian dikenal masyarakat dengan nama Kijang.

Arsip Toyota mencatat perakitan Kijang dimulai pada Juni 1977 di fasilitas Multi Astra.

Kijang generasi pertama memiliki karakter berbeda dari mobil penumpang modern. Kendaraan ini dirancang sebagai kendaraan serbaguna dengan konstruksi sederhana, yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan masyarakat dan usaha.

Dari kendaraan niaga hingga mobil keluarga, Kijang mengalami transformasi panjang. Ia kemudian menjadi salah satu model yang paling lekat dengan perkembangan mobilitas masyarakat Indonesia.

Toyota juga mulai mengekspor Kijang ke Brunei Darussalam pada November 1987. Artinya, kendaraan yang dikembangkan dan dirakit di Indonesia tidak hanya melayani pasar domestik, tetapi juga mulai menembus pasar luar negeri. Asia

Perjalanan tersebut memperlihatkan perubahan besar: dari tujuh sedan Tiara yang dirintis melalui perdagangan lokal, Toyota berkembang menjadi salah satu pemain utama industri kendaraan nasional.

Catatan Penting: Siapa yang Pertama Membawa Toyota?

Ada satu hal yang perlu diluruskan agar sejarah ini tidak menyesatkan pembaca.

Toyota mencatat ekspor pertamanya ke Indonesia justru terjadi pada Juni 1957, berupa satu unit Toyota Crown. Artinya, A.H. Budi tidak tepat disebut sebagai orang pertama yang memasukkan Toyota ke Indonesia secara keseluruhan.

Posisi A.H. Budi lebih tepat disebut sebagai salah satu perintis impor dan perdagangan Toyota di Indonesia, khususnya melalui Toyota Tiara dan jaringan bisnis yang kemudian berkembang menjadi Nasmoco.

Selain itu, terdapat perbedaan catatan mengenai jumlah Toyota Tiara. Sumber Nasmoco dan Otodriver menyebut tujuh unit, sedangkan wawancara GridOto dengan Sebastianus Harno Budi menyebut enam unit. Perbedaan ini sebaiknya tetap dicatat sebagai bagian dari penelusuran sejarah, bukan dipaksakan menjadi satu angka tanpa verifikasi tambahan.

Sejarah otomotif memang tidak selalu dimulai dari pabrik besar atau peresmian gedung megah. Kadang-kadang, ia berawal dari sebuah garasi, beberapa kendaraan impor, dan keberanian seorang pengusaha mengambil risiko.

Dari Toyota Tiara, Land Cruiser, hingga Kijang, perjalanan Toyota di Indonesia memperlihatkan bagaimana sebuah merek asing tumbuh bersama perubahan ekonomi, kebijakan industri, dan kebutuhan mobilitas masyarakat.

Kini, ketika Toyota telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia, kisah tujuh Tiara itu mengingatkan bahwa dominasi pasar tidak dibangun dalam semalam. (*

Tinggalkan Balasan