JEJAK KATA, Kota Tangerang – Di sebuah sudut Jalan Mochammad Yamin, Kelurahan Babakan, aroma santan yang berpadu dengan rempah-rempah perlahan memenuhi udara pagi. Dari balik kepulan uap panci, semangkuk laksa hangat tersaji dengan kuah kuning keemasan, taburan daun kucai, kentang, serundeng, dan mie yang lembut. Di tempat sederhana inilah, sepotong sejarah kuliner Kota Tangerang terus dirawat dari hari ke hari.
Laksa bukan sekadar hidangan berkuah. Di Asia Tenggara, makanan ini dikenal sebagai hasil perjumpaan berbagai kebudayaan. Jejaknya lahir dari tradisi masyarakat Peranakan yang memadukan cita rasa Tionghoa, Melayu, dan pengaruh berbagai etnis lain. Karena itulah, laksa hadir dalam beragam versi di Singapura, Malaysia, Thailand, hingga Indonesia.
Di Kota Tangerang, laksa menjelma menjadi identitas kuliner yang memiliki karakter berbeda. Kuah santannya lebih kaya rempah, berpadu dengan kentang, kacang hijau, serundeng, daun kucai, serta pilihan lauk seperti telur dan ayam kampung. Kombinasi itulah yang menghadirkan rasa gurih dan hangat yang sulit dilupakan.
Salah satu penjaga cita rasa tersebut adalah Laksa Kang Didin, yang berada di kawasan sentra kuliner Laksa Babakan, tak jauh dari Lapas Perempuan Kelas IIA Tangerang.
Selama lebih dari 15 tahun, Didin mempertahankan resep warisan keluarganya. Setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 22.00 WIB, ia melayani pelanggan yang datang dari berbagai daerah untuk menikmati laksa dengan cita rasa yang nyaris tak berubah sejak pertama kali diracik oleh ayahnya.
“Bahan dan resepnya masih sama seperti dulu. Saya hanya meneruskan apa yang sudah diwariskan orang tua. Karena itu, pelanggan lama masih bisa merasakan rasa yang mereka kenal sejak puluhan tahun lalu,” ujar Didin.
Kesetiaan pada resep keluarga menjadi alasan mengapa Laksa Kang Didin tetap bertahan di tengah bermunculannya berbagai kreasi kuliner modern. Di tempat ini, perubahan bukanlah tujuan utama. Yang dijaga justru keaslian rasa. Menariknya, kelezatan itu tetap bisa dinikmati dengan harga yang bersahabat.
Bagi banyak pelanggan, yang membuat Laksa Kang Didin berbeda adalah kuahnya yang pekat dan kaya rempah. Santan yang medok berpadu dengan kentang, kacang hijau, serundeng, serta taburan daun kucai menghasilkan cita rasa khas yang menjadi identitas laksa Tangerang.
“Kuahnya gurih sekali, rempahnya terasa, isiannya juga banyak. Yang paling saya suka ayam kampungnya empuk dan bumbunya meresap,” kata Anjanny Febrianti, salah seorang pelanggan.
Di tengah derasnya arus makanan cepat saji dan tren kuliner yang silih berganti, semangkuk laksa di Babakan menjadi pengingat bahwa kekayaan kuliner tidak hanya lahir dari inovasi, tetapi juga dari kesetiaan menjaga tradisi.
Bagi Kota Tangerang, laksa bukan sekadar makanan khas. Ia adalah warisan budaya yang mengisahkan perjumpaan berbagai bangsa, perjalanan sejarah masyarakat pesisir, serta ketekunan para peracik rasa yang memilih mempertahankan resep leluhur daripada sekadar mengikuti zaman.
Menyantap Laksa Kang Didin bukan hanya menikmati semangkuk hidangan hangat. Di setiap suapan, tersimpan kisah panjang tentang tradisi, keluarga, dan identitas kuliner yang terus hidup di jantung Kota Tangerang. (*






